Hilangkan Kufur Dengan Syukur!

(Beranda April 2010)

Seorang istri diperintahkan untuk bersyukur kepada suaminya yang telah memberikan nafkah lahir dan batin kepadanya. Karena dengan syukur tersebut dan tidak banyak menuntut, rumah tangga akan bahagia. Sebaliknya, Istri yang tidak bersyukur kepada suaminya dan banyak menuntut merupakan pertanda istri tidak baik dan tidak merasa cukup dengan rezeki dikaruniakan Allah.

Perintah syukur ini sangat ditekankan dalam Islam, sebab para wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya diancam dengan neraka, dan pada hari Kiamat Allah ta’ala pun tidak akan melihat kepada wanita yang banyak menuntut suaminya dan tidak bersyukur kepadanya. Padahal sang suami sudah banyak berbuat baik padanya. Karena sekali saja sang suami tidak berbuat baik kepada si istri, dilupakan seluruh kebaikannya yang banyak itu. Nah, itulah yang disebut kufur.

Sebagai contoh, suatu saat Allah ‘azza wa jalla menakdirkan seseorang bangkrut usahanya, sehingga tidak dapat memberikan nafkah seperti biasanya kepada istrinya. Dalam kondisi demikian, si istri malah berkata pada suaminya, “Memang kamu tidak tanggung jawab, tidak bisa memberi nafkah keluarga!” Atau contoh lainnya, si istri terlalu banyak menuntut, meski sang suami sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencari nafkah.

Untuk itu berhati-hatilah wahai para istri! Sebab ancaman Allah k kepada istri yang kufur semacam itu sangatlah keras, sebagaimana sabda Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam,

“Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, dan dia selalu menuntut (tidak pernah merasa cukup).” (Riwayat an Nasai dalam Isyratin Nisaa’ (no. 249), al-Baihaqi (VII/294), al Hakim (II/190))

Dalam hadits lain, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya orang yang selalu melakukan kefasikan adalah penghuni Neraka.” Dikatakan, “Wahai Rasulullah, siapakah yang selalu berbuat fasik itu?” Beliau menjawab, “Para wanita.” Seorang Shahabat bertanya, “Bukankah mereka itu ibu-ibu kita, saudari-saudari kita, dan istri-istri kita?” Beliau menjawab, “Benar. Akan tetapi apabila mereka diberi sesuatu, mereka tidak bersyukur. Apabila mereka ditimpa ujian (musibah), mereka tidak bersabar.” (Riwayat Ahmad (III/428, IV/604))

Demikianlah para pembaca, sekelumit tema yang kami tampilkan pada Sakinah edisi ini. Semoga Allah selalu membimbing agar menjadi hamba yang mudah bersyukur. Sebab salah satu ciri/sifat hamba-hamba Allah yang mulia adalah bersyukur. Sedangkan orang-orang yang bersyukur sangat sedikit, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

“ … Sedikit dari hamba-Ku yang bersyukur.” (Saba’ :13)

Selain, setiap mukmin dan mukminah diperintahkan untuk bersyukur. Karena dengan bersyukur, Allah akan menambahkan rezeki pada hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya,

“Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.’” (Ibrahim : 7)

Tagged under: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top