Keponakan Bikin Rumah Tak Tenteram

Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Redaksi Sakinah  yang saya hormati. Saya mau curhat. Keponakan suami saya anak yatim. Saya yang minta suami agar dia bekerja di Jakarta dan tinggal di rumah. Selama ini ia pernah bekerja di Saudi. Tapi sejak dia di sini kondisi rumah tangga selalu ribut.

Saya pikir dia itu dewasa dan tahu diri. Kenyataannya malah sebaliknya. Saya berusaha menahan diri, tapi gak bisa, karena rasa jengkel saya sudah ke ubun-ubun. Saya pengin memarahinya, tapi gak enak. Akhirnya uneg-uneg saya, saya tumpahin ke suami.

Saya tahu dia juga susah dan serba salah, tapi saya juga nggak tahan. Tiap hari anak itu pulang malam, telpon-telponan ama pacarnya sampai larut malam. Pergi nggak pamit, kalo kita telpon, nggak diangkat-angkat.

Hubungan suami istri pun otomatis terganggu, karena kami masih ngontrak dan tiap malam harus nunggu dia tidur dulu, baru bisa istirahat. Mesti gimana saya bersikap? Saya tahu nggak boleh jahat sama anak yatim. Tapi kalau niat saya nolong malah bikin rumah tangga saya kacau, saya jadi nyesel banget dah minta suami agar dia kerja di Jakarta. Gimana solusinya?

Jawab:

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh

Alhamdulillah. Saya pribadi, sangat bisa memahami kondisi yang ibu dan bapak alami dalam rumah tangga;  harus memelihara orang yang tidak disenangi seisi rumah, tapi sangat sungkan untuk bersikap kepadanya. Sementara, kalian berdua tentu juga ingin hidup nyaman, tenteram, dan menata kehidupan rumah tangga secara baik. Karena untuk itu pun, sudah dibutuhkan usaha berat. Artinya, tanpa pun ada orang lain dalam rumah tangga yang membuat “kericuhan”, menata rumah tangga secara baik, sesuai yang dikehendaki syariat Islam, butuh perjuangan, kesabaran, dan ketelatenan. Maka, persoalan yang kalian berdua hadapi ini boleh dikatakan sebagai “bonus” dari kerumitan-kerumitan yang sudah pasti ada dalam kehidupan rumah tangga.

Pertama, mari kita sama-sama lihat persoalannya secara lebih jernih, dengan mengesampingkan segala perasaan susah, sedih, dan emosi yang menindih otak kita. Semua itu diawali dengan niat baik ibu –yang sangat patut disyukuri–  untuk memelihara keponakan di rumah. Artinya, membiarkan ia tinggal di rumah, dan bekerja di Jakarta. Lalu suami ibu menanggapi baik niatan tersebut. Dan, terjadilah apa yang terjadi.

Di sini, saya hanya ingin menegaskan hal mendasar, bahwa segala niat  baik memang selalu mendapatkan ujian yang memberatkan hati. Bila jalan kebaikan itu gampang dan lempang-lempang saja,  di dunia ini tak ada orang jahat. Logikanya, kalau berbuat baik itu selalu enak dan menguntungkan, selalu berakhir dengan hal-hal yang menggembirakan hati, untuk apa pula berbuat jahat. Karena orang berbuat jahat tujuannya tidak lain untuk mencari kesenangan. Kalau dalam bahasa hadits disebutkan,

“Surga itu ditopang dengan hal-hal yang dibenci manusia, sementara neraka ditopang dengan nafsu syahwat.” (Diriwayatkan oleh Muslim (2822))

Jadi, kalau menyantuni keponakan itu akhirnya berujung pada hal-hal yang sering tidak disenangi hati, itu wajar-wajar saja. Justru karena itu pahalanya besar. O ya, dulu di zaman Nabi – shallallohu ‘alaihi wa sallam – , Abu Bakar juga pernah memiliki anak asuh bernama Misthah. Suatu saat, Misthah terlibat kasus menfitnah Aisyah, putri Abu Bakar, bahwa wanita suci itu berzina! Setelah al Quran membuktikan bahwa Aisyah bersih dari tuduhan itu, Abu Bakar murka. Ia berniat menarik asuhannya dari anak tersebut. Ia tak sudi lagi mengasuh orang yang begitu tega memfitnah putrinya. Bukan tanggung-tanggung, putri Abu Bakar adalah istri Rasulullah – shallallohu ‘alaihi wa sallam – !

Coba bayangkan, orang yang berani terlibat dalam fitnah terhadap istri Rasulullah – shallallohu ‘alaihi wa sallam –, bukankah lebih baik tak usah lagi diasuh? Tapi, Nabi – shallallohu ‘alaihi wa sallam – memerintahkan Abu Bakar untuk tidak menarik hak asuh anak tersebut. Perilaku buruk orang tersebut, kata Nabi – shallallohu ‘alaihi wa sallam –, tidak boleh menjadi alasan Abu Bakar surut dalam niat baiknya mengasuhnya. Luar biasa!

Jadi, dalam niat itu, memang apa yang ibu lakukan sudahlah tepat, yaitu berusaha menahan diri dari berbuat, berkata-kata dan bersikap tidak baik kepadanya. Meski ia telah melakukan banyak hal yang membuat kita kesal, dan amarah kita menguap di atas kepala.

Tapi, sekadar menahan diri memang tidak menyelesaikan persoalan. Kita berbuat baik kepada orang, kan bukan hanya dengan memberi, kadang justru tidak memberi. Bukan hanya dengan menghormati dan mengapresiasi, tapi kadang juga dengan menasihati, bahkan memarahi.

Nah, di sini konsep kasih sayang itu yang harus diperbaiki. Menegurnya, kalau dianggap berbuat kekeliruan, atau tampak tak memedulikan keadaan, semau gue dan seterusnya, justru merupakan bagian dari kasih sayang ibu dan bapak kepadanya. Toh, kepada anak sendiri pun kita melakukan hal yang sama. Dalam hal ini kita memang harus menyingkirkan budaya rasa yang tak baik,  yang dalam bahasa Jawa disebut “perkewuh”, alias sungkan, alias tak sampai hati.

Dalam kebenaran, tak boleh ada istilah sungkan. Ini biang penyakit yang menyebabkan banyak persoalan dalam hidup kita menggantung di awang-awang. Yang membuat rasa kesal dan kemarahan justru menjadi “dinamit” yang akan meledak suatu saat. Artinya, sekarang mungkin bisa ditahan, tapi suatu saat justru meletus menjadi amukan hebat yang merusak segala-galanya.

Maka, lebih baik pahit di awal. Jangan sungkan menasihati atau mengingatkan. Kadang, anak muda itu cenderung muka tembok dan cuek. Karena dibiarkan, dia pikir segalanya boleh. Nah, ini yang harus dijelaskan. Berbeda halnya bila sudah sekian lama dan berkali-kali dinasihati, tapi tak juga mau berubah. Maka, perlu dicarikan solusi lain yang lebih tegas.

Sisi lain, bahwa saat keponakan tinggal di rumah, maka ia menjadi bagian dari tanggung jawab kita juga. Kita sudah berposisi seolah-olah menjadi orang tuanya. Jadi, kita harus bersikap sebagai orang tuanya. Jangan hanya bersikap seperti pelayan hotel yang terus menerus bersabar atas ulah pelanggannya. Keponakan itu menginap dan tinggal di rumah kita, bukan seperti tinggal di hotel atau penginapan. Ia tinggal untuk menjadi “anak” kita. Maka kita bertanggung jawab atas perilaku-perilakunya. Bila ia berbuat tidak beres, harus diingatkan dan diluruskan.

Namun ditilik dari usia anak tersebut –meski tak disebutkan di sini–  dan bahwa ia bahkan pernah bekerja di Saudi, maka ia bukan lagi tergolong anak-anak. Di sini, nasihat dan peringatan bahkan bisa disampaikan dengan lebih “vulgar”. Dengan bahasa antara sesama orang dewasa. Akan lebih baik bila bapak yang berbicara, bukan ibu. Yakni agar bisa dilakukan dengan lebih akrab. Nasihat itu bisa dilakukan dengan cara elegan. Misalnya, ajak dia makan malam di warung, makan bakso dan sejenisnya. Sambil bersantap, sampaikan saja nasihat dan peringatan itu kepadanya. Cara ini terbukti manjur dan baik, saya sendiri sudah sering membuktikan dan mencobanya.

Nah, di bagian terakhir, saya ingin menanggapi soal istilah “yatim” tersebut. Meski ibu dan bapak harus berbuat baik kepada keponakan, dengan mengasuh dan membimbingnya, tapi dia bukanlah anak yatim. Artinya, bukan berarti karena bukan anak yatim maka boleh diperlakukan tidak baik. Tapi, anda berdua bisa memiliki kebebasan lebih dalam memberinya nasihat dan peringatan, tanpa harus ada kekhawatiran terjebak dalam fenomena: “menyakiti anak yatim”. Pada dasarnya, sekalipun ia anak yatim, boleh saja ia dimarahi asalkan dalam konteks mendidik dan memberi pelajaran.

Sebagian ulama mengatakan bahwa anak disebut yatim, bila belum berusia 10 tahun. Sebagian ulama lain menyebutkan, hingga usia 12 tahun. Ada juga pendapat yang mengatakan, hingga aqil baligh. Sebagian bahkan berpendapat, sampai si anak bekerja dan mandiri. Tapi pendapat yang benar adalah hingga aqil baligh. Artinya, setelah aqil baligh, seorang anak tak bisa disebut anak yatim lagi.

Dilihat dari semua pendapat ulama tersebut, keponakan Anda tidak lagi tergolong anak yatim. Ia tinggal di rumah kalian berdua sebagai keponakan yang kalian asuh dan rawat. Ini hal yang perlu dipahami secara baik, agar tidak salah mengartikan “anak yatim”. Karena kalau tanpa batasan, orang tua yang sudah berumah tangga sekalipun, bahkan sudah tua bangka, bila tidak lagi memiliki ayah, bisa juga disebut anak yatim. Wah, bisa rumit urusannya.

Intinya, sebaiknya semua urusan tersebut dibicarakan saja terus terang dengan suami, dan dengan si keponakan. Bila ternyata si keponakan ini tidak bisa menerima –meskipun dinasihati dengan cara yang baik–,  maka itu adalah risiko yang harus ditanggung dalam menyampaikan kebenaran. Tak perlu takut dengan risiko hubungan baik dengan pihak keluarganya yang masih ada. Bahkan  jelaskan saja persoalannya itu secara gamblang, agar semua pihak dapat mengerti. Akhirnya, memang dibutuhkan keberanian buat melakukannya. Tapi, kalau tidak berani sekarang… kapan lagi?

Tagged under: , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top