Mengajarkan Ibadah Paling Utama

Abu dan Ummu yang dirahmati Allah. Di antara orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat adalah pemuda yang tumbuh berkembang dalam beribadah kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim.

Sungguh, alangkah beruntung seorang tua jika memiliki buah hati yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah. Namun tentu saja, hal itu tidak bisa lepas dari usaha orang tua untuk mendidik buah hatinya dengan sebaik-baiknya.

Doa, Ibadah Paling Utama

Dalam suatu hadits Rasulullah — shollallohu ‘alaihi wa sallam — menyatakan, “Doa adalah ibadah.” (Riwayat Abu Daud dan Tirmidzi, disahihkan oleh al Albani)

Dan dalam satu riwayat, Ibnu Abbas menyebutkan, “Ibadah paling utama adalah doa.” (Riwayat al-Hakim, dihasankan oleh al Albani)

Memang benar, doa bisa dikatakan ibadah paling utama. Karena dalam doa, tampak dengan jelas hakikat peribadahan seseorang kepada Allah. Dalam doa terdapat kerendahan diri seorang hamba kepada Allah, dan tampak kebutuhannya kepada Allah. Di mana hal-hal inilah yang menjadi inti dari ibadah.

Abu dan Ummu yang dirahmati Allah, setelah kita tahu agungnya ibadah doa ini. Setelah kita tahu bahwa dalam doa terwujud hakikat dari peribadahan seorang hamba. Maka alangkah layaknya sebagai orang tua yang ingin menumbuhkembangkan anak dalam peribadahan kepada Allah, untuk mengajarkan ibadah yang paling utama ini. Agar anak kita senantiasa tunduk, merendahkan diri dan merasa butuh kepada Allah ta’ala.

Bagaimana mengajarkan doa?

Abu dan Ummu yang dirahmati Allah. Dalam mengajarkan doa, perlu kita perhatikan bahwa di sana ada doa-doa yang khusus diucapkan pada waktu-waktu tertentu, dan ada pula doa yang diucapkan karena kebutuhan tertentu.

Untuk doa-doa khusus pada waktu tertentu, usahakanlah Abu dan Ummu mencari doa-doa yang memang benar datang dari Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam –. Seperti doa keluar masuk rumah, doa keluar masuk masjid, doa sebelum tidur, doa bangun tidur, doa keluar masuk kamar mandi, dan doa-doa lain yang dijelaskan untuk momen-momen tertentu.

Adapun doa-doa yang muncul karena kebutuhan tertentu -mungkin karena ingin mendapatkan sesuatu hal atau menghindari sesuatu hal-, jika bisa mendapatkan doa semisal dari Nabi — shollallohu ‘alaihi wa sallam –, maka gunakan doa itu. Jika tidak mendapatkannya, Abu dan Ummu bisa mengajarkan doa dengan kalimat-kalimat baik yang tidak menyalahi syariat, terutama adab-adab berdoa.

Selengkapnya, baca di lembar ya Bunayya majalah Nikah Sakinah edisi Mei 2010

Tagged under: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top