Hukuman atau Pukulan?

Abu dan Ummu, disadari atau tidak, masih banyak orang tua yang salah dalam menerapkan atau mengajarkan disiplin kepada anaknya. Sayangnya, para orang tua tidak pernah menyadarinya, dan bahkan tidak pernah berusaha untuk mempelajarinya. Untuk itu, sudah seharusnya Abu dan Ummu lebih peduli terhadap perkembangan buah hati anda.

Memang, tidak mudah menjadi orang tua yang baik. Yang paling sulit, bagaimana sebagai orang tua bisa mengendalikan emosi dalam mengasuh anak. Mungkin secara teori, Abu dan Ummu sudah banyak mendapatkannya, tetapi begitu menghadapi anak yang “nakal”, menguaplah semua teori itu dari kepala. Ketidakmampuan orang tua mengendalikan emosi ini, akhirnya muncul dalam bentuk pukulan atau tindakan fisik terhadap anak.

Semua buku/informasi tentang cara mengajar disiplin kepada anak, selalu menekankan untuk tidak boleh memukul atau memberikan hukuman fisik. Memang…, mudah dikatakan, tapi cukup sulit untuk diterapkan. Padahal, hukuman fisik justru bisa menjadi “permainan menarik” bagi anak, dan tidak akan mampu mendisiplinkan anak.

Hasil penelitian menunjukkan, anak balita belum bisa memahami hubungan antara tindakannya yang “nakal’ (menurut orang tua) dengan pukulan yang diterimanya. Anak hanya merasakan sakit karena dipukul tanpa tahu kenapa dipukul. Kalaupun si anak tidak lagi melakukan tindakan “nakal”-nya itu, hal ini bukan karena dia menyadari kenakalannya, tetapi lebih pada rasa takut akan dipukul lagi. Artinya, pukulan tersebut sama sekali tidak bisa mendisiplinkan anak atas kesadarannya sendiri!

Jadi, jangan pernah memukul! Memukul tidak ada gunanya sama sekali bagi anak, kecuali hanya memuaskan emosi orang tua. Dalam menghadapi sikap anak yang ‘nakal’ dan tidak disiplin atau melanggar peraturan keluarga, para ahli perkembangan anak menyarankan untuk memberikan time-out kepada anak. Time-out di sini sebenarnya kata halus untuk sebuah hukuman, tetapi bukan hukuman fisik.

Lebih lengkap, bisa Anda baca di lembar Ya Bunayya majalah Nikah Sakinah edisi Juni 2010

Tagged under: , ,

5 Comments

  1. IRWAN KOMARA Reply

    Di perlukan kesabaran yang ekstra dalam menghadapi seorang anak, karena belum memahami apa yang diperbuatnya benar atau salah, di sini lah fungsi orangtua untuk membimbing seorang anak.

  2. Hasna Izdihar Reply

    Mengenalkan, mengajari, dan melatih disiplin anak memang tidak dapat dilakukan dengan hukuman fisik terutama untuk anak batita. Salah satu cara mendidik kedisiplinan anak pra sekolah adalah dengan metode modelling. Orangtua perlu mencontohkan secara konsisten hal-hal yang memerlukan kedisiplinan.

Leave a Reply to Hasna Izdihar Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top