Suamiku Membuat Hidupku Sengsara


Assalaamu ‘alaikum

Ustadz, afwan saya ada pertanyaan, bila berkenan mohon jawaban dimuat di majalah Sakinah agar yang bersangkutan juga membaca jawaban dari ustadz.

Pertanyaannya sebagai berikut:
Apa saran ustadz buat seorang istri yang dia merasa sulit atau tidak nyaman hidup berumah tangga dengan suaminya, dikarenakan suaminya itu sulit untuk diajak hidup bermasyarakat (bergaul dengan tetangga), kurang perhatian terhadap pendidikan anak-anaknya, kepribadiannya yang keras (gampang marah-marah), teriak-teriak terhadap anak istrinya/kurang sabar?

Setahu saya, dalam kehidupan berumah tangga itu ‘kan harus seimbang antara memberi dan menerima. (Namun) ini tidak terjadi dalam rumah tangga ini, selalu istri yang mengalah, yang minta maaf, yang berusaha mengerti perasaan suami. Semua karena istri hanya mencari ridhanya dan tidak mau mendapat masalah darinya. Suami tidak mau mengerti atau tidak peduli perasaan si istri, bahkan seakan dia nggak butuh istrinya.

Ketika ada masalah, suami tidak mau diajak bicara baik-baik, hanya diam dan diam, kalaupun bicara marah-marah dan tidak berusaha selesaikan masalah, ujung-ujungnya ngajakin cerai.

Rasanya sulit buat si istri untuk menjalani rumah tangga seperti itu, tapi (istri) tidak mungkin bercerai karena melihat anak-anak. Mohon saran dan nasihatnya ustadz, agar si istri merasa lebih nyaman menjalani rumah tangganya. Jazakumullah khairan sebelumnya. Semoga ustadz berkenan menjawab.

Hamba Allah
Banyumas

Jawaban

Wa ‘alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh

Alhamdulillah. Dalam hidup berumah tangga, saling mendukung, keserasian, saling pengertian, dan kesiapan untuk saling memperbaiki diri adalah hal-hal yang mutlak harus dimiliki bila ingin rumah tangga berjalan sakinah. Modal utamanya adalah mawaddah dan rahmah,  sementara sakinah adalah hasilnya.

Istri dengan suami dapat bersinergi secara baik, hanya apabila keduanya berusaha menekan kekurangan-kekurangan pada masing-masing pribadi ke level yang serendah mungkin. Maka, kesadaran pribadi adalah syarat mutlak. Artinya, itu hanya bisa dilakukan  kalau masing-masing menyadari kekurangan-kekurangan dirinya, lalu seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit semua kekurangan itu ditekan ke level yang serendah mungkin. Sekali lagi, harus kedua-duanya, tak boleh hanya sepihak saja.

Contohnya, di satu sisi istri diminta untuk selalu menyenangkan suami,
“Yang selalu membuat suaminya bergembira bila dipandang…….” [1]

Tapi di sisi lain, seorang suami juga diperintah untuk memperlakukan istri tak ubahnya ratu dalam sebuah istana,
“Aku bagimu layaknya Abu Zar’in bagi Ummu Zar’in.” [2]

Coba cermati apa yang dituturkan Anas bin Malik tentang sikap Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – sebagai suami
“Kemudian kami pergi menuju Madinah (dari Khaibar). Aku lihat Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau untuk Shafiyyah. Kemudian beliau duduk di samping untanya sambil menegakkan lutut beliau dan Shafiyyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau sehingga dia bisa menaiki unta tersebut.”

Maka, upaya baik itu harus tumbuh pada masing-masing pihak. Bila tidak, maka rumah tangga akan berjalan timpang, ibarat dominasi unsur dingin dalam tubuh tanpa unsur panas atau sebaliknya, tubuh pasti tak akan sehat. Sehingga, upaya dasar bila terjadi hal-hal semacam itu, di mana salah satu pihak berada di posisi selalu menuntut hak tanpa memedulikan kewajibannya, tidak bisa tidak, harus dilakukan upaya “penyadaran” pada pihak tersebut; suami ataupun istri.

Dalam kasus ini, harus ada orang yang dimintai bantuan untuk bisa memberi nasihat, membimbing dan menyadarkan suami. Karena semata-mata upaya istri secara sepihak, tak akan menyelesaikan inti persoalan, dan hanya akan membangun kegersangan dalam rumah tangga.

Silahkan baca kelanjutannya di Majalah Nikah Sakinah, edisi Juli 2010

VN:F [1.6.2_892]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.2_892]
Rating: +2 (from 4 votes)

Post to Twitter Post to Delicious Post to Facebook



Leave a Reply