Nafkah Istri Setelah Talak Raj’i

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh
Apakah setelah talak raj’i, suami masih wajib memberi nafkah dan tempat tinggal kepada sang istri yang dicerainya?
Abdullah
0813277xxxxx

Jawab :

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
Talak dalam Islam terbagi menjadi tiga dengan perincian; yang dua adalah talak raj’i (talak yang dapat dirujuk) dan yang satu talak ba’in (talak perpisahan). Hal ini dijelaskan dalam firman Allah ta’ala :

الطَّلاَقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكُُ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحُ بِإِحْسَانٍ

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (al-Baqarah : 229)

Apabila telah terjadi dua kali talak ini, maka jadilah talak ketiga sebagai talak ba’in sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah ta’ala,

فَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ تَحِلُّ لَهُ مِن بَعْدُ حَتَّى تَنكِحَ زَوْجاً غَيْرَهُ فَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يَتَرَاجَعَآ إِن ظَنَّا أَن يُقِيمَا حُدُودَ اللهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Kemudian jika si suami menalaknya (sesudah talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga Dia kawin dengan suami yang lain. kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.” (al-Baqarah : 230)

Dalam talak raj’i, status suami-istri masih berlaku, kecuali hubungan suami-istri, karena Allah ta’ala masih memanggil si lelaki dengan lafazh “bu’ul” (suami) dalam firman-Nya,

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوءٍ وَلاَيَحِلُّ لَهُنَّ أَن يَكْتُمْنَ مَاخَلَقَ اللهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِن كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلاَحًا

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah.” (al-Baqarah : 228)

Oleh karena itu, suami masih wajib memberikan nafkah dan tempat tinggal bagi istrinya yang ditalak raj’i selama belum selesai masa iddah. Sang suami dilarang mengusir istrinya tersebut dari rumah, kecuali istri tersebut melakukan perbuatan keji yang jelas, seperti dijelaskan dalam firman Allah ta’ala,

يَاأَيُّهَا النَّبِي إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَآءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللهَ رَبَّكُمْ لاَتُخْرِجُوهُنَّ مِن بُيُوتِهِنَّ وَلاَيَخْرُجْنَ إِلآَّ أَن يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَتِلْكَ حُدُودُ اللهِ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ لاَتَدْرِي لَعَلَّ اللهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.” (ath-Thalaq :1)

Demikianlah, para suami dilarang berbuat zhalim dengan tidak memberikan nafkah kepada istrinya yang ditalak dengan talak raj’i, baik talak satu ataupun dua. Sebaiknya segera rujuk apabila dirasa hal itu dapat membantu melaksanakan syariat islam di dalam keluarga, sebab suami lebih berhak untuk rujuk dan diterima rujuknya oleh istri tersebut sebelum berlalu masa iddah. Bila telah berlalu, maka wanita tersebut memiliki hak untuk menolak dan lelaki harus mengajukan pinangan baru dan pernikahan baru lagi.

Semoga bermanfaat.

Sumber: Rubrik Konsultasi Syariat, Majalah Nikah Sakinah edisi Juni 2010

Tagged under: , , ,

3 Comments

    1. admin Reply

      menurut jumhur (mayoritas) ulama, ketika talak bain istri mendapat nafkah dalam masa iddahnya hanya jika dia sedang hamil.

  1. Ummu Maryam Reply

    Syukron artikelnya. Ada beberapa hal yang mau ana tanyakan.
    1. Apa ada hukumannya jika suami menceraikan lalu selama iddah tidak memberi nafkah?
    2. Setelah sudah habis masa iddah, apakah itu namanya tetap talak raj’i?
    3. Setelah masa iddah habis, mantan suami tidak menguruskan surat cerai ke pengadilan agama karena pergi ke luar pulau. Apakah hukumnya jika istri mengurus surat cerai dengan memasukkan gugat cerai ke pengadilan agama (padahal semestinya suami yang memasukan gugatan) supaya suatu hari dapat menikah lagi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top