Nabi Musa Menikah

Abu dan Ummu, pada edisi ini kita akan melanjutkan kisah Nabi Musa ‘alaihissalam. Semoga kisah ini bisa membantu Abu dan Ummu memberikan kisah teladan pada anak-anak kita. Pada edisi lalu dikisahkan, Musa telah sampai di negeri Madyan. Di sana Musa bertemu dengan dua orang putri seorang yang sudah tua (syekh), dan dia menolongnya memberi minum ternak mereka. Kemudian sang syekh mengundang Musa ke rumahnya, dan tertarik kepada keshalihan dan kepribadian Musa. Maka sang syekh itu pun berkeinginan untuk menahan Musa agar mau lebih lama tinggal di rumahnya.

Syekh itu berkata, “Wahai Musa, saya ingin menikahkan dirimu dengan salah satu anak perempuanku ini dengan syarat engkau mau menjadi penolong dan pembantuku yang memperoleh upah (sebagai mahar) dengan menggembalakan kambing selama delapan tahun. Jika engkau mau menambahkannya 2 tahun lagi (sehingga menjadi 10 tahun), maka itu adalah suatu karunia yang agung. Saya memohon kepadamu, namun tidak mengharuskanmu (menjalani hal itu). Dan insya Allah saya akan menjadi orang yang menepati janji dan ikhlas bagimu.”

Di negeri Madyan, status Musa adalah sebagai pengungsi yang kesepian, jauh dari sanak saudara. Maka, setelah dia mendengar tawaran sang syekh, harapan untuk meraih kebahagiaan mengalir kembali dalam dirinya. Dari mulutnya meluncur kalimat kepada sang syekh, “Saya merasa bahagia dengan persahabatanmu, wahai Syekh yang mulia. Saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi penolongmu, dan merasa terhormat bisa membantumu.”

Akhirnya Musa pun menikah dengan salah seorang putri syekh…

Baca kelanjutannya di lembar “Ya Bunayya” majalah “Nikah Sakinah” edisi Agustus 2010

Tagged under: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top