Konsultasi Syariat: Tidak Diadzab Asal Tidak Syirik

Assalamu’alaikum
Hadits Mu’adz “Hak Allah atas hamba-Nya, ia tidak akan diazab kalau tidak syirik”, apakah maksudnya tidak diazab tersebut mutlak atau ada perinciannya? Atau maksudnya tidak diazab dengan kekal seperti orang kafir ? Atau bagaimana maksudnya?
081275XXXXX

Jawab :
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Hadits Mu’adz yang saudara tanyakan berbunyi:

كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ فَقَالَ يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا

“Dahulu aku pernah membonceng Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– di atas keledai yang diberi nama ‘Ufair. Lalu beliau bersabda,’Wahai Mu’adz apakah kamu tau hak Allah atas hamba-Nya dan apa hak Hamba atas Allah?’ Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Beliau pun bersabda, ‘Sungguh hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka beribadah hanya kepada Allah dan tidak berbuat syirik dan hak hamba atas Allah adalah Allah tidak mengazab orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun.’ Lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah bolehkan aku sampaikan hal ini kepada orang banyak?’ Beliau menjawab, ‘Jangan sampaikan kepada mereka (karena rasululllah khawatir mereka tidak akan beramal-red).’” (HR al-Bukhari).

Jelas, dalam hadits ini Rasulullah menyampaikan pahala orang yang menunaikan hak Allah dengan sempurna dengan cara mentauhidkan Allah dalam ibadah secara sempurna dan tidak sama sekali berbuat syirik adalah tidak diazab Allah. Sehingga orang yang tidak berbuat syirik sama sekali namun tidak sempurna ibadahnya, masih mungkin mendapatkan azab Allah di neraka walaupun tidak kekal.

Sehingga, sabda nabi “hak hamba atas Allah adalah Allah tidak mengazab orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun” maksudnya adalah tidak berbuat syirik dalam ibadah dengan menunaikan hak Allah tersebut.
Hal ini sejalan dengan firman Allah :

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ ﴿٨٢

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-An’am : 82)

Jika seseorang yang ibadahnya kepada Allah sempurna tidak dicampuri kezhaliman baik berupa syirik ataupun maksiat, maka dia akan mendapatkan keamanan yang sempurna di dunia dan akhirat dan mendapatkan petunjuk sempurna di dunia dengan ditunjuki syariat islam yang benar dan diberi taufik untuk mengamalkannya. Juga, di akhirat Allah tunjukkan kemudahan masuk ke dalam surga.

Oleh karena itu, Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rohimahulloh– menafsirkan ayat di atas dengan pernyataan: Apabila imannya sempurna tidak dicampuri kemaksiatan maka keamanannya pun sempurna dan bila keimanannya tidak sempurna maka ia pun hanya mendapatkan keamanan yang tidak sempurna. Seperti misalnya pelaku dosa besar, ia aman dari kekekalan neraka namun tidak aman dari siksaan neraka dan ia berada di bawah kehendak Allah. (al-Qaulul Mufid Syarah Kitab at-tauhid 1/62).

Dengan demikian perlu diluruskan pemahaman sabda beliau “hak hamba atas Allah adalah Allah tidak mengazab orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun” bukan semata tidak berbuat syirik tapi harus dikembalikan kepada kalimat sebelumnya yaitu “sungguh hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka beribadah hanya kepada Allah dan tidak berbuat syirik.” Sehingga dengan disatukan pengertian kedua kalimat ini akan terbentuk pemahaman bahwa orang yang tidak berbuat syirik dalam konteks hadits ini maksudnya adalah orang yang sempurna ibadahnya dan tidak sama sekali berbuat syirik.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. (***)

Rubrik Konsultasi Syariat, Majalah Keluarga Nikah Sakinah, Vol.9 No.7

Tagged under: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top