Konsultasi Keluarga: Dimusuhi Keluarga Suami

Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah. Ustadz, bagaimana sikap seorang istri yang semua iparnya selalu berburuk sangka. Ini bukan sekadar persangkaan, tapi ini kenyataan, dan sangat mengganggu kehidupan istri tersebut. Dia tertekan. Mungkin karena dia sangat perasa dan baru mengarungi rumah tangga, seolah-olah di mata mereka (iparnya) istri itu selalu salah, selalu merepotkan suami (kakak mereka). Padahal suami rridho dengan istrinya. Istri itu limbung ustadz….. bingung dan kadang berfikir apakah sebaiknya mundur aja ….. mohon nasihatnya ustadz? Jazakumullah khairan.
0856xxxxxxxx

Jawaban:
Wa’alaikum salam warrahmatullah
Saya sering menegaskan, dalam pergaulan suami istri, seringkali muncul pihak luar yang merasa dengki terhadap keharmonisan hidup mereka berdua, sehingga ia berusaha menyebar fitnah dan  mengadu domba pasangan suami istri tersebut. Hal itu tentu saja seringkali menimbulkan kebencian antara suami istri, sehingga terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti konflik suami istri, pertengkaran, meski suami istri itu sendiri tak pernah menghendakinya, bahkan tak jarang berujung pada perceraian. Maka Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda,
“ Bukanlah termasuk golongan kami orang yang membuat makar untuk memisahkan wanita dari suaminya.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya dalam kitab ath-Talaq, bab: Orang yang merusak hubungan wanita dengan suaminya, hadits No. 2175. sanadnya shahih. Lihat Jami’ul Ushul dengan hasil penelitian al-Arna-uth XI : 727]

Tapi, dalam persoalan ini, mari kita bersama-sama sepakat untuk tidak menyerdahanakan persoalan sedemikian rupa, karena kejadian-kejadian itu bisa jadi memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Kita bisa pilah satu persatu kemungkinannya, lalu kita kupas bersama.

Kondisi pertama, sikap buruk sangka itu bisa murni berasal dari diri mereka sendiri, bukan dari pihak lain. Bila itu muncul, ada dua kemungkinan yang terjadi: sikap buruk sangka mereka karena kebencian mereka terhadap istri saudara mereka atau ipar mereka tersebut. Kedua, karena sikap dan perilaku si ipar itu sendiri yang layak menyebabkan ia diburuksangkai.

Kalau kebencian mereka itu terhadap si istri bukan karena keburukan akhlak atau adanya hal-hal yang tidak beres pada wanita tersebut (istri saudaranya itu), maka itu juga bisa disebabkan banyak hal. Mungkin perbedaan pemahaman, perbedaan karakter, bahasa, daerah asal, tingkat pendidikan, dan banyak hal yang lainnya. Pada dasarnya mereka bukan tidak menyukai iparnya itu karena ia bandel, suka membangkang pada suaminya, punya akhlak yang buruk, atau banyak yang tidak beres pada dirinya. Tapi, adanya perbedaan pada beberapa hal yang mencolok, menyebabkan mereka tanpa sadar menjadi tidak menyukainya. Karena tidak menyukainya, maka mereka pun akan mudah berburuk sangka.

Kemungkinan kedua dari kondisi pertama adalah bahwa kebencian mereka justru didasari oleh kepribadian, akhlak dan perilaku ipar wanita tersebut yang memang tidak beres. Mereka melihat sendiri bagaimana iparnya itu selalu menyusahkan saudara mereka, suka membantah, sering berbicara kasar, atau punya gaya hidup yang tidak nyaman dalam pandangan mereka; seperti terlalu boros, suka berfoya-foya, atau sering keluyuran keluar rumah.

Kondisi kedua, kebencian itu bukan berasal dari mereka, tapi pengaruh dari luar. Misalnya, orang-orang di luar keluarga besar mereka yang menyebarkan kabar-kabar bohong atau kabar benar yang terkait dengan masa lalu yang telah dikubur oleh wanita tersebut, tapi membuat mereka tidak menyukainya meski ia telah bertaubat. Bisa jadi kabar benar itu mereka dapatkan dari orang luar, sementara saudara mereka sendiri tidak pernah memberitahukannya kepada mereka. Sehingga, seolah-olah mereka berusaha menyelamatkan saudara  mereka, dengan bersikap buruk pada iparnya tersebut.

Harus dicatat, bahwa penyebab terbesar terjadinya perceraian itu ada dua: kecemburuan yang melampaui batas, atau pengaruh dari pihak luar. Perceraian yang terjadi murni karena perbedaan antara suami istri, justru jauh lebih sedikit.

Kondisi ketiga, pada hakikatnya para ipar itu memiliki sikap yang overprotectif terhadap adik atau kakak mereka. Itu sudah menjadi karakter dan kebiasaan mereka sejak si adik misalnya masih kecil. Saat si adik menikah, tanpa sadar mereka menjadi terus-menerus memantau kondisi si adik. Setiap ada sikap dari istri adik mereka itu yang mereka anggap bisa membahayakan si adik –meski itu hanya dugaan mereka saja–  mereka akan cepat bereaksi. Karena sikap over atau berlebihan itu, akhirnya mereka terjebak pada sikap mudah berburuk sangka.

Hal yang sama juga sering terjadi pada mertua. Seorang ibu begitu menyayangi putranya. Ia putra kesayangannya. Saat si putra menikah, si ibu menjadi begitu sibuk memantau perilaku menantunya, apakah ada tindakan, sikap atau tindak-tanduknya yang akan menyakiti, menyinggung atau menyusahkan sang putra tersayang?

Kondisi lain, mereka memang tidak setuju dengan pernikahan adik mereka dengan wanita tersebut semenjak awal, entah karena alasan apa yang bisa juga berbeda-beda. Nah, rasa ketidaksetujuan itu mengendap lama dalam hati mereka, dan akhirnya dilampiaskan dengan terus mencari-cari alasan untuk membenarkan rasa tidak setuju mereka. “Nah, kan, apa kami bilang, dia itu memang perempuan gak beres!!”

Baiklah, jadi jelas, ada banyak kemungkinan yang melatarbelakangi sikap “buruk sangka” para ipar itu kepada ipar mereka. Sebagai wanita, saya rasa wajar bila ia merasa tertekan atas sikap yang tidak ramah dari mereka yang dari hari ke hari tentu semakin menindih jiwanya. Tapi, mari kita berdialog dengan realita tersebut. Bahwa manusia itu, hidup dengan segala bebannya:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah…” (al-Balad : 4)

Hanya di surga, kita bisa terbebas dari beban kehidupan.
لاَيَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَاهُم مِّنْهَا بِمُخْرَجِينَ
“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya..” (al-Hijr : 48)

Rumah tangga adalah kehidupan. Orang yang hidup berumah tangga akan hidup dengan segala beban yang ada di dalamnya. Masing-masing orang beroleh jenis beban yang berbeda-beda corak ragamnya. Dan sekarang, si istri sedang mendapatkan cobaan melalui orang-orang terdekat yang selalu melingkarinya, para ipar.

Mengingat banyak hal yang menjadi kemungkinan mereka bersikap seperti itu, si istri lebih baik bersikap  santai saja (tidak perlu dipikir terlalu berat -red). Kadang kita memang harus belajar bersikap peka terhadap hal-hal yang memang sering kita abaikan, seperti berbuat baik pada tetangga, memerhatikan orang tua setelah kita menikah, dan lain sebagainya. Tapi, terkadang kita juga harus berlatih “bermuka tembok”, saat kita dihadapi sikap orang banyak yang menyebalkan. Kedua sikap itu harus kita miliki. Tak baik bersikap peka terhadap semua hal. Tapi, juga sangat buruk bersikap muka tembok menghadapi setiap persoalan. Untuk menghindari stress karena tekanan, sikap “muka tembok” itu harus dilatih.

“Bermukatembok” bukan berarti membiarkan persoalan mengalir tanpa diselesaikan. Lakukan saja hal yang memang lazim dilakukan ipar terhadap iparnya. Tetap bersikap baik kepada mereka, perbaiki sikap terhadap suami, kerjakan tugas dan pekerjaan rumah tangga secara lebih baik lagi. Intinya, lakukan terus perbaikan diri. Sikap menghadapi ketidakramahan mereka juga dibuat seapik mungkin. Hari ini kita bisa diam tanpa komentar, besok coba belajar tersenyum mendengar cacian. Besok lagi dibawa lebih rileks agar mereka bisa berbalik arah menjadi bersikap lebih baik lagi. Ingat, api akan berhenti menyala bila tak diberi sesuatu untuk dibakar di dalamnya. Berapa banyak musuh berbalik arah menjadi kawan karena kita bersikap baik kepadanya? Toh, ipar itu bukanlah musuh, jauh lebih baik daripada musuh. Maka,  Nyantai aja lah!. Allaahu yu’inukum ajma’in. (***)

Rubrik Konsultasi Keluarga Majalah Nikah Sakinah Vol. 9 No. 8

Tagged under: , , , ,

6 Comments

    1. admin Reply

      tidak terpancing emosi, cari waktu yang tepat untuk menjelaskan yang sebenarnya, bersikap lebih baik terhadap mertua dan juga terhadap suami. wallahu a’lam.

  1. DIAN Reply

    Bagaimana jika suami di benci keluarga istri karena dia tidak bekerja karena dia sakit (stroke ringan)dan dia jg seorang WNA yg sulit diterima kerja , si istri yg bekerja dan dia iklash lahir bathin untuk mencari nafkah buat keluarganya,dan kaka iparnya tidak mau menolong dalam bentuk apapun apabila keluarga adik iparnya dlm kesusahan karena mengira adiknya menjadi sapi perah suaminya.

  2. tias bintu turmudi Reply

    Assalaamu’alaikum ustadz , mungkin garis besar problematika rumtang memang sama .
    Sebagaimana pertanyaan riza , banyak pula suami mengatakan bahwa istri mengandalkan penghasilan suami ; memang tidak salah bahwa nafkah kami para istri ditanggung suami dan bukankah ini adalah kewajiban seorang kepala keluarga ?

    sebagai istri kami menyadari bahwa suami mempunyai tanggung jawab kepada orang tua nya , akan tetapi bagaimana ustadz ; jika pihak keluarga suami serta merta menyangka kehidupan pasutri berfoya-foya padahal tidak benar demikian , suami-isteri tsb merantau dan tidak memiliki rumah dengan perabotan mewah . namun mungkin karena tidak berhasilnya komukasi dlam keluarga menimbulkan kesalah pahaman tersebut . bahkan pernah suatu kali istri itu mendengar dr telepon yg belum ia tutup stlh bicara dng ibu mertuanya ; ibu mertuanya itu mengolok2 istri itu bersama anak2nya , setelah sadar bahwa masih tersambung maka mertuanya berbicara seolah2 tidak terjadi apa2 barusan.

    Sang istri sebisa mungkin ntuk tidak mengurangi hak dari keluarga suami ; tetap ada bagian uang bulanan kepada mertua bahkan tatkala ada kebutuhan tak terduga pun membantu .

    Tapi ustadz suami juga condong kepada adik perempuannya yang notabene sudah bersuami , bukankah nafkah kepada istrinya lebih penting ?
    itu pun sang suami dari adik perempuannya seakan tidak rela menjual barang2 nya tatkala ada kebutuhan mendesak malah orang tuanya memilih memakai uang anak laki2 sulungnya ?

    padahal adiknya tidak cuma 1 , adik2 yang lain pun masih diberikan uang ntuk biaya sekolah .

    tolong ustadz jelaskan prioritas berbuat baik bagi suami setelah ibu-bapaknya ; apakah istri diakhirkan setelah ipar ?

    `afwan panajng ustadz .

  3. dwi yuliani Reply

    Asallamuallaikum ustad, bagaimna sikap seorang istri yg tdk d’sukai oleh klwrga mertua, yg selalu berpikiran jlk tntang istri’y pdahal apa yg d’pikirkan mertua dan klwrg’y, tdk bnar’. Tpi istri ttp sabar trma smua prlakuan mertua dan klwrg’y

  4. riza Reply

    bagaimana ,jika kondisinya berbalik. suami yang dimusuhi iparnya (adik istri nya). kerna tuntutan mereka,supaya ibunya dapat jatah uang bulanan dari kakak perempuan,padahal si kakaknya tidak punya penghasilan dan hanya mengandalkan keuangan pd suaminya.ibu si isteri berpenghasilan/gaji PNS,sedangkan ibunya si suami hy seorang janda tak punya penghasilan yg masih mmbutuhkan biaya untuk sekolah adik si suami. apakah dlm islam ada kewajiban menantu laki laki menafkahi ibu istrinya ?

    Redaksi:
    Dalam Islam, kewajiban seorang suami yang paling utama (setelah kewajiban terhadap Allah dan Rasul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam) tetap tertuju pada keduaorangtuanya, terlebih khusus adalah ibu kandungnya sendiri. Telah datang dalam hadits ketika seorang sahabat bertanya kepada Nabi shollallohu ‘alaih wa sallam tentang siapa yang paling berhak mendapatkan kebaikan darinya, maka Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengatakan “Ibumu” dan mengulangnya tiga kali, kemudian baru mengatakan “bapakmu”. (Muttafaq ‘alaih) Sedangkan seorang wanita setelah menikah, maka kewajiban terbesar adalah terhadap suaminya. Bahkan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “lihatlah posisimu pada suamimu, karena dia adalah surgamu dan nerakamu.” (Lihat ash-Shohihah: 2612)
    Meskipun demikian, hal ini tidak bertentangan dengan sikap baik yang harus diberikan oleh suami kepada mertuanya. Artinya, meskipun pada asalnya seorang suami tidak wajib memberi nafkah kepada mertuanya (apalagi jika mertua memiliki kecukupan), namun jika memang ada kelonggaran harta dan itu bisa menjadi sarana penyambung hubungan antara suami dan kerabat istri, maka itu adalah suatu kebaikan. Akan tetapi jika memang tidak ada kelonggaran untuk itu, maka pintu kebaikan yang lain masih sangat banyak tidak hanya terbatas pada pemberian nafkah saja. Dan hendaknya masing-masing pihak diberi pengertian sebaik-baiknya akan prioritas kewajiban-kewajiban ini dan kondisi masing-masing, dengan cara yang santun dan baik. Wallohu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top