Konsultasi Syariat: Shalat Ashar Dijamak Dengan Shalat Jum’at

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz, apakah shalat Jumat bisa di jamak dengan shalat Ashar jika pada saat perjalanan? Dulu ana lupa, malah niatnya jamak shalat zhuhur dengan Ashar. Syukran

08191xxxxxx

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Perlu diketahui pengertian menjamak shalat adalah mengabungkan antara dua shalat (Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya’) dan dikerjakan dalam waktu salah satunya. Boleh seseorang melakukan jamak taqdim dan jamak ta’khir.[1]

Jamak taqdim adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat pertama, contohnya Zhuhur dan Ashar dikerjakan dalam waktu Zhuhur, Maghrib dan Isya’ dikerjakan dalam waktu Maghrib. Jamak taqdim harus dilakukan secara berurutan sebagaimana urutan shalat dan tidak boleh terbalik.

Adapun jamak ta’khir adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat kedua, contohnya Zhuhur dan Ashar dikerjakan dalam waktu Ashar, Maghrib dan Isya’ dikerjakan dalam waktu Isya’. Jamak Ta’khir boleh dilakukan secara berurutan dan boleh pula tidak berurutan akan tetapi yang afdhal adalah dilakukan secara berurutan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wa sallam– .[2]

Menjamak shalat boleh dilakukan oleh siapa saja yang memerlukannya – baik musafir atau bukan- dan tidak boleh dilakukan terus menerus tanpa udzur. Jadi dilakukan ketika diperlukan saja.[3]

Termasuk udzur yang membolehkan seseorang untuk menjamak shalat adalah musafir ketika masih dalam perjalanan dan belum sampai di tempat tujuan,[4] turunnya hujan,[5] dan orang sakit.[6]

Berkata Imam Nawawi –rohimahulloh–: sebagian imam (ulama) berpendapat bahwa seorang yang mukim boleh menjamak shalatnya apabila di perlukan asalkan tidak di jadikan sebagai kebiasaan.”[7]

Ibnu Abbas h berkata, bahwasanya Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wa sallam– menjamak antara Zhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya’ di Madinah tanpa sebab takut dan safar (dalam riwayat lain; tanpa sebab takut dan hujan). Ketika ditanyakan hal itu kepada Ibnu Abbas beliau menjawab: Bahwa Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wa sallam– tidak ingin memberatkan umatnya.[8]

Lalu bagaimana bila hari Jumat? Banyak ulama yang tidak membolehkan menjamak (menggabung) antara shalat Jumat dan Ashar dengan alasan apapun baik musafir, orang sakit, turun hujan atau ada keperluan, dll. Walaupun orang tersebut adalah orang yang diperbolehkan menjamak antara Zhuhur dan Ashar.

Mereka berargumen dengan sebab tidak adanya dalil tentang menjamak antara Jumat dan Ashar, dan yang ada adalah menjamak antara Zhuhur dan Ashar dan antara Maghrib dan Isya’. Jumat tidak bisa diqiyaskan dengan Zhuhur, karena sangat banyak perbedaan antara keduanya. Ibadah harus dengan dasar dan dalil, apabila ada yang mengatakan boleh maka silakan dia menyebutkan dasar dan dalilnya. Namun, yang berpendapat membolehkan tidak akan mendapatkannya, karena tidak ada satu dalil pun dalam hal ini.

Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah kami (tidak ada ajarannya) maka amalannya tertolak.”[9]

Jadi kembali kepada hukum asal, yaitu wajib mendirikan shalat pada waktunya masing-masing kecuali apabila ada dalil yang membolehkan untuk menjamak dengan shalat lain.[10]

Demikianlah yang dirajihkan syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin –rohimahulloh– dalam masalah ini.

Wallahu a’lam. (***)

Rubrik Konsultasi Syariat Majalah Nikah Sakinah, Majalah keluarga bulanan, Vol. 9 no. 8

================

Catatan Kaki:

[1] Lihat Fiqhus Sunnah 1/313-317.

[2] Lihat Fatawa Muhimmah, Syaikh Bin Baz 93-94, Kitab as-Shalah, Prof.Dr. Abdullah ath-Thayyar 177.

[3] Lihat Taudhihul Ahkam, al-Bassam 2/308-310 dan Fiqhus Sunnah 1/316-317.

[4] Riwayat Bukhari dan Muslim.

[5] Riwayat Muslim, Ibnu Majah dll.

[6] Taudhihul Ahkam, al-Bassam 2/310, al-Wajiz, Abdul Adhim bin Badawi al-Khalafi 139-141, Fiqhus Sunnah 1/313-317.

[7] Lihat Syarh Muslim, imam Nawawi 5/219 dan al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz 141.

[8] Riwayat Muslim dll. Lihat Sahihul Jami’ 1070.

[9] HR. Muslim.

[10] Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin 15/ 369-378.

Tagged under: , , , , , ,

12 Comments

  1. rahman Reply

    kalau saya, saya memanfaatkan rukhsas dari allah dengan menjamak qosar dua sholat. maka kalau pada hari jum’at, saya tidak sholat jum’at walau bertemu dengan orang yang sholat jum’at. saya tetap menggantikannya dengan sholat zuhur dan dijamk qosar dengan asar. saya ada kekhawatiran, jika saya sholat jum’at, maka saya sholat sempurna, lalu ketika nanti mobil tidak berhenti, maka sholat asar jadi ketinggalan. harus di qodho. maka lebih baik saya jamak qosar zuhur dan asar daripada sholat jum’at. wallahahu ‘alam.

  2. yuni Reply

    ustd…dlm Qs Al-Jumu’ah ayat 9 disebutkn “wahai orang-orang yg beriman! apabila tlah diseru untuk melaksanakan salat pd hari Jum’at, maka segeralah kmu mengingat Allah…….” disini yg disebut orang2 beriman apakan hanya untuk laki2 saja apa jg untuk wanita jg???
    dan bagaimana hukumnya bg wanita yg mjalankan salat jum’at dan yang tdk mnjalankannya….???

    1. admin Reply

      Pada asalnya seruan semacam itu memang umum mencakup laki-laki dan wanita. Hanya saja, dalam masalah kewajiban shalat jumat ini, ada hadits yang telah mengususkannya hanya bagi muslim selain budak, wanita, anak kecil, orang sakit, dan musafir. Jadi wanita tidak wajib shalat jumat. Namun jika dia ikut shalat jumat di masjid, hal itu telah mencukupinya dari shalat zhuhur. Jika dia tidak ikut shalat jumat, maka dia berkewajiban melaksanakan shalat zhuhur empat rakaat.

  3. abu hafshah Reply

    Afwan ust, ana mo nanya, apakah orang yang safar diwajibkan juga untuk melaksanakan shalat jum’at apabila mereka mendapatkan shalat jum’at di daerah yang di tuju atau bolehkah ia tidak shalat jum’at dengan menggantikan dengan shalat dhuhur..syukran

  4. abu hafshah Reply

    Assalamu alaiku…ijin share yah ust buat tman2 ana yang sering safar keluar daerah..syukran, jazakallah khaer…

  5. adnal Reply

    Assalamualaikum ustadz
    Saya sering melakukan perjalanan dengan kendaraan umum setelah shalat jumat dengan jarak tempuh hampir 200KM. Saya lalu menjamak shalay jumat dengan ashar krn ketika waktu ashar masuk saya sdg dlm bus, bagaimana hukumnya? Dan apkah shalat ashar yg sya jamak dengan shalat jumat itu syah? Dan apakah shalat asharnya saya kerjakan 2 atau 4 rakaat? Dan klu tdk boleh dijamak apa yg mesti dilakukan?
    Mohon penjelasannya.

    Wassalam

    1. admin Reply

      Sepengetahuan kami, bacaan dari bilal sholat Jumat itu tidak ada tuntunannya dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Wallohu a’lam

  6. Abu haritsah Reply

    Bagaimana apabila kita tertinggal 1 rakaat sholat jumat?

    Redaksi:
    Tertinggal 1 rakaat berarti masih bisa ikut satu rakaat. Maka dia cukup menyempurnakan lagi satu rakaat, karena dengan mendapati 1 rakaat berarti dia telah mendapati shalat jumat. Wallahu a’lam.

  7. musa Reply

    jadi kalo misalnya seseorang muslim tertinggal solat jumat jadi dia tak bisa menggantinya dg shlat dhuhur.

    Redaksi:
    Tidak demikian, seorang muslim yang tertinggal sholat jumat maka dia masih berkewajiban untuk melaksanakan sholat zhuhur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top