Iparku Tak Menghargai Orangtuaku

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum…Ustadz, saya mau tanya. Saya punya ipar (Istri kakak). Ipar saya ini kurang menghargai orang tua dari suaminya dia lebih condong ke orang tuanya sendiri dan sudah beberapa kali orangtua ana mengeluh dengan perlakuan dari istri kakak ana tersebut. Mungkin salah orangtua saya, dia tidak langsung bicara ke kakak, takut nanti kakak ini tersinggung. Salah satu contoh dia sekarang sudah punya anak, dia jarang sekali membawa anaknya ke mertuanya, dia lebih sering ke orangtuanya sendiri. Saya juga nggak ngerti, apa yang harus saya lakukan Ustadz? Sebagai adik bicara langsung sama kakak atau bagaimana, tanpa bikin kakak saya tersinggung?

Jazzakkallahu khairan, wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Jawaban :
Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita taufik-Nya dalam menghadapi segala problematika kehidupan hingga kita mampu bersabar dan mengambil solusi tepat sesuai apa yang dicontohkan oleh Nabi kita.
Dalam permasalahan yang antum hadapi, ada beberapa poin penting yang bisa kita cermati, yaitu sejauh mana kewajiban istri kepada kedua orang tua suaminya (baca: mertua). Kedua, apa penyebab condongnya istri kepada kedua orang tuanya saja. Dan ketiga, bagaimana cara menasihati orang lain tanpa menyinggung perasaannya.

Poin pertama: Sejauh mana kewajiban istri kepada mertuanya?
Kita ketahui bersama, bahwa seorang suami harus menjaga hak-hak kedua orang tua istrinya. Suami harus bisa menjaga tali silaturahim dan berbakti orang tua istrinya. Demikian pula seorang istri, dia berkewajiban menjaga hak-hak orang tua suaminya. Seorang istri harus bisa memahami betapa besar kasih sayang kedua orang tua suaminya kepada suaminya. Oleh karenanya, tidak sepantasnya hal ini menjaga pemicu api cemburu hingga dia ingin menjauhkan suaminya dari kedua orangtuanya.

Jika seorang istri menginginkan keberkahan dari Allah dalam keluarganya, hendaklah dia membantu suaminya untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, bukan malah menyakitinya, atau memutuskan silaturahim dengan mereka.
Betapa banyak para mertua yang menangis melihat tingkah laku menantunya, betapa banyak para mertua yang sakit hatinya karena perilaku menantunya yang menyayat hati mereka. Ingatlah, ketika seorang istri mengajarkan suaminya untuk durhaka terhadap kedua orang tuanya, maka sebenarnya dia telah melakukan dua dosa atau dua kesalahan sekaligus, yaitu dosa durhaka kepada kedua orang tua dan dosa kedua adalah dosa memutuskan hubungan kekerabatan atau tali silaturahim.

Poin kedua: Mengapa istri lebih condong kepada kedua orang tuanya sendiri daripada mertua?

Sebelum Anda memvonis bahwa ipar Anda lebih condong kepada kedua orang tuanya sendiri daripada kedua orang tua suami, atau lebih ekstrim dia telah melupakan mertua, seyogianya Anda cermati terlebih dahulu penyebab perilaku istri saudara Anda yang jarang berkunjung kepada kedua orang tua suami, bahkan sekadar mengajak anak-anak mereka berdua bermain di rumah kakek mereka. Hal ini bisa jadi dikarenakan, terkadang orang tua suami terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga mereka, sehingga sang istri tidak betah atau lebih mengutamakan untuk menjauh dari mertua daripada menimbulkan perselisihan dan cekcok. Hal ini bisa dimengerti, karena biasanya seorang istri apabila mertua terlalu ikut campur, maka dia memiliki dua pilihan:
Pertama, dia bersabar atas perilaku mertua dan mengharap pahala dari Allah, opsi pertama ini lebih baik.
Kedua, dia memerhatikan kerusakan yang ditimbulkan apabila terlalu dekat dengan mertua terlebih dahulu. Apabila dampak kerusakannya lebih besar, maka dia bisa meminta suaminya untuk tidak terlalu dekat dengan mertua dengan pertimbangan di atas.

Oleh karena itu, sebelum kita menetapkan perilaku istri saudara Anda yang terkesan menyakiti kedua orang tua suaminya, alangkah baiknya dilihat dan dicari sebenarnya penyebabnya itu dari pihak orang tua suami atau pihak istri itu sendiri.

Poin ketiga: Cara menasihati saudara?

Jika memang ternyata perilaku istri saudara Anda ada kekurangan, yaitu dia lebih mengutamakan kedua orang tuanya dari pada mertua, atau mungkin malah menyakiti kedua orang tua suami, maka sebagai saudara seagama bahkan sekandung, hendaklah Anda menasihatinya dengan memerhatikan adab-adab memberi nasihat, antara lain:
a. Hanya mengharap wajah Allah
Semata-mata untuk mengharapkan wajah Allah l. Karena yang demikian ini berarti pemberi nasihat akan mendapatkan ganjaran dari Allah k, sehingga Allah pun akan membantu Anda agar orang yang dinasihati diberikan hidayah oleh-Nya.
b. Tidak ingin membongkar aib saudara kita
Inilah perbedaan antara menasihati dengan mencela. Tujuan pemberi nasihat adalah untuk melakukan perbaikan, menutup rahasia (keburukan orang yang dinasihati), dan memperbaiki kekurangan. Sebaliknya, tujuan seorang pencela adalah untuk membongkar rahasia dan aib, menyebarkan kerusakan dan melakukan perusakan, menimbulkan kebencian dalam dada (bagi orang yang dinasihati).
c. Tidak menasihati saudara kita di hadapan orang banyak. Menasihati orang lain itu artinya kita ingin menutup kekurangan yang ada dalam dirinya, tentu hal ini tidak mungkin terlaksana kecuali saat orang yang ingin kita nasihati dalam keadaan lapang dadanya dan jernih pikirannya. Kondisi lapang dada dan jernih pikiran tidak mungkin terwujud kecuali saat sendirian bukan di depan orang banyak.
Ibnu Rajab berkata, “Para salaf apabila ingin menasihati, mereka menasihati secara sembunyi-sembunyi.”
Nasihat yang disampaikan di keramaian, sesungguhnya telah membantu setan untuk mencelakakan saudaranya. Yakni dengan mengumbar aib, kejelekan dan sifat-sifat buruknya di hadapan orang banyak. Maka perhatikanlah keadaan ini, bagaimana penerima nasihat akan menerima akan menerima nasihat Anda, ketika itu penerima nasihat malah sibuk memikirkan bagaimana menangkis dan menangkal aib-aib dirinya yang telah diumbar oleh Anda, dan tidak lagi memikirkan nasihat yang Anda berikan.
Imam Abu Hatim bin Hibban al Busti rohimahulloh berkata, “Namun nasihat tidaklah wajib diberikan kecuali dengan cara rahasia. Karena orang yang menasihati saudaranya secara terang-terangan pada sejatinya ia telah memperburuknya (keadaan penerima nasihat). Barangsiapa yang memberi nasihat secara rahasia, maka dia telah menghiasinya. Maka menyampaikan sesuatu kepada seseorang muslim dengan cara menghiasinya, lebih utama daripada bermaksud untuk memburukkannya.” (Raudhatul Uqala’, hal. 196)
d. Menasihati dengan lemah lembut. Menasihati orang lain itu ibarat membuka pintu yang terkunci, pintu tersebut tidak mungkin dibuka tanpa menimbulkan kerusakan kecuali dengan kunci yang sesuai. Demikian pula hati seseorang yang ingin kita nasihati membutuhkan cara yang tepat agar mereka menerima nasihat dan tidak tersinggung. Maka, pintu itu adalah hati, dan kuncinya adalah nasihat yang disampaikan dengan lemah lembut, santun, dan halus. Ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya kelemahlembutan tidaklah berada dalam sesuatu kecuali menghiasinya. Dan tidaklah terpisah dari sesuatu kecuali ia perburuk.” (Riwayat Muslim no. 2594)
Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam mengatakan hal ini kepada ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha,
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ
“Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Lembut yang mencintai kelembutan dalam seluruh perkara.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Sebagaimana disebutkan pula dalam sebuah hadits,
مَنْ يُحْرَمْ الرِّفْقَ يُحْرَمْ الْخَيْرَ
“Orang yang dijauhkan dari sifat lemah lembut, maka ia dijauhkan dari kebaikan.” (Riwayat Muslim)
e. Tidak memaksa orang yang ingin kita nasihati untuk menerima nasihat kita, karena orang yang menasihati tidak memiliki hak itu, dia hanya sebatas memberi masukan dan pengarahan saja.

f. Memilih waktu yang tepat. Karena terkadang seseorang itu sedih, keruh hatinya, atau sedang memiliki masalah hingga dia tidak siap untuk menerima nasihat kita. Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,
“Hati itu memiliki rasa suka dan keterbukaan. Hati juga memiliki kemalasan dan penolakan. Maka raihlah ketika ia suka dan menerima. Dan tinggalkanlah ia ketika ia malas dan menolak.” (al –Adab asy-Syar’iyyah, karya Ibnu Muflih)
Demikianlah, semoga dengan adab-adab tersebut, Anda berhasil memberikan nasihat kepada ipar Anda tanpa tersinggung perasaannya. Wallahu a’lam.

Artikel Majalah Nikah Sakinah, Rubrik Konsultasi Keluarga, Vol. 9 No. 11

Tagged under: , , , , , ,

4 Comments

  1. kurnia Reply

    Asssalamu’Alaikum
    Ustadz, saya mau tanya apakah saya boleh memberikan sedikit nafkah kpd Ibu saya setelah saya memenuhi kewajiban saya sbg suami kpd istri (memberi nafkah) ? Istri saya saat ini bekerja dan saya tidak pernah menuntut gaji dia krn saya tahu klo itu bukan hak saya. Mana yg harus saya dahulukan isti atau ibu saya dan bagaimana jika istri tidak setuju saya memberikan sedikit nafkah kpd ibu saya sbg bakti anak thd orangtua ? Sebagai informasi bg ustadz bahwa saya (5 bersaudara) sejak umur 6 th dibesarkan dan di sekolahkan ibu saya krn bapak saya meninggal dan ibu tidak pernah meminta uang kpd saya. Bagaimana pula posisi mertua dalam hal ini dibandingkan ibu saya ?

    Mohon pencerahan dari bapak ustadz

    Wassalam

    1. admin Reply

      Wa’alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh
      Subhanallah, apa yang saudara utarakan adalah niatan yang sangat baik sekali, berbakti kepada orang tua, terutama ibu. Suatu hal yang mungkin jarang dipikirkan oleh orang-orang yang telah menikah. Padahal sebagai seorang laki-laki, meski dia telah menikah, bakti yang pertama harus dia berikan tetap kepada orang tua terutama kepada ibu. Oleh karena itu, silahkan tunaikan niat baik yang telah saudara utarakan ini, semoga Allah memberikan kemudahan kepada Anda, dan keberkahan kepada keluarga Anda. Dan seandainya istri anda tidak setuju (semoga tidak demikian) akan niatan anda untuk berbakti kepada ibu, padahal kewajiban Anda terhadap istri sudah dipenuhi sewajarnya, maka tidak mengapa jika Anda tidak memberitahukan hal tersebut kepada istri Anda, selama kewajiban anda terhadap istri tetap terpenuhi. Sekali lagi, semoga Allah memberkahi anda dan keluarga anda karena anda mau berbakti kepada ibu. Wallahu a’lam.

  2. wan's Reply

    Memang kebanyakan para istri selalu bersikap seperti itu ( tidak baik ) kepada mertuannya ( orang tua suaminya ). Aneh…..

  3. nurdiani Reply

    assalamu’alaikum ustadz. saya saat ini sudah menikah selama 3 tahun dan baru dikaruniai seorang anak. Problem rumah tangga yang saya hadapi adalah mertua yang selalu meyakiti hati dengan ucapan-ucapan nya dan suka menghakimi.contoh saja, saya pernah dituduh mengambil barang nya, pernah dituduh mengusir mertua, bahkan ketika anak saya lahir selalu menyindir saya dengan menanyakan anak saya tersebut mirip siapa (padahal yang menciptakan manusia itu kan Allah) dan masih banyak yang lainnya. Padahal na’udzubillah saya tidak pernah melakukan itu semua, bahkan untuk meyakinkan suami saya sampai harus mengatakan bahwa saya berani bersumpah di bawah Al-quran bahwa saya tidak pernah berbuat seperti itu.
    Dengan kejadian tersebut, membuat saya enggan untuk bisa akrab dengan mertua karena setiap bertemu atau mengobrol tema apapun, ada aja ucapan nya yang bikin saya sakit hati.Bahkan karena sering mengalami kejadian yang tidak mengenakkan tersebut, maka saya cenderung kesal terhadap mertua.
    Pertanyaan saya, apakah dengan suka kesal maka itu termasuk dosa terhadap orang tua (dalam hal ini mertua) ? dan bagaimana sikap saya seharusnya terhadap mertua yang memiliki sifat seperti itu ?

    wasalam,

Leave a Reply to wan's Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top