Mengapa Cek Cok Itu Bahaya?

Dalam kehidupan rumah tangga, wajar-wajar saja suami dengan istri mengalami perselisihan karena berbagai masalah yang mereka hadapi. Bisa berupa masalah prinsip, perbedaan, sikap mendasar dan watak yang sudah mendarah daging, atau hanya karena persoalan-persoalan sepele yang menggurita. Akhirnya timbullah percekcokan, muncullah kegersangan hidup, dan tidak jarang memuncak menjadi perceraian!

Biang Keladi Percekcokan

Perlu dimaklumi, di antara faktor yang dapat menimbulkan percekcokan antara suami istri adalah tidak adanya perasaan saling memahami antara kedua belah pihak. Islam telah menetapkan adanya kewajiban saling memahami antara pasutri, bahkan menganjurkan dan mewajibkan mereka untuk menunaikan hak dan kewajiban mereka secara benar.
Allah berfirman,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan ‘ daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah: 228)

Ayat ini menegaskan, segala hak yang dimiliki pasutri, diimbangi dengan adanya kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada pasangannya. Dengan cara itulah akan tercipta keseimbangan antara keduanya dalam berbagai sektor yang dapat mendukung kenyamanan hidup berkeluarga.

Ibnu Abbas – rodhiyallohu ‘anhu  – menyatakan, “Mereka memiliki hak untuk dipergauli dengan baik oleh suami mereka sebagaimana mereka memiliki kewajiban untuk menaati sang .suami.”

Ibnu Zaid menyatakan, “Hendaknya  kalian bertakwa kepada Allah dalam memelihara hak mereka, sebagaimana mereka juga harus bertakwa kepada Allah dalam memelihara hak-hak kalian.”

Sementara Imam al-Qurthubi menyatakan, “Ayat tersebut meliputi seluruh hak-hak suami istri, yang di antaranya adalah sikap tidak terlalu memerhatikan kekeliruan dan kekhilafan masing-masing, terutama yang dilakukan bukan untuk tujuan yang jelek, baik itu ucapan maupun perbuatan.”

Sementara dalam hadits Anas – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bahwa Nabi  bersabda, “Setiap Bani Adam itu selalu berbuat keliru dan sebaik-baik orang yang keliru adalah yang se1alu bertaubat.” (Riwayat at-Tirmidzi dalam al-Jami’ ash-Shahih : IV)

Pasutri hendaknya memahami pasangannya. Setiap manusia pasti memiliki kekeliruan. Dan orang yang paling berhak untuk dipahami oleh seseorang  adalah orang yang paling banyak berinteraksi dalam kehidupannya, yaitu .suami atau istri. Masing-masing hendaknya tidak menimpali setiap reaksi pihak lain dengan tindakan pembalasan. Apabila salah satu melihat pasangannya bereaksi karena amarah, hendaknya ia menahan amarahnya sendiri dan  jangan langsung terpengaruh oleh amarah tersebut.

Oleh sebab itu, Abu Darda berkata kepada istrinya, “Apabila engkau melihatku marah, hendaknya engkau menyabarkan diriku. demikian juga bila kaudapati engkau  marah, aku akan menyabarkan dirimu. Kalau tidak demikian, kita tidak akan  dapat saling menjadi teman.”

Di  antara hak suami istri yang terbesar adalah hendaknya masing-masing memberi nasihat kepada pasangannya untuk taat kepada Allah l. Dalam satu hadits shahih diriwayatkan, beberapa orang shahabat pernah bertanya kepada Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam -. Mereka berkata, “Bisakah kami tahu, harta apakah yang terbaik, sehingga kami bisa berusaha memperolehnya?” Beliau menjawab,”Harta terbaik adalah lisan yang selalu berdzikir, hati yang selalu bersyukur dan istri mukminah yang selalu menolong suaminya untuk beriman.” (Riwayat Ahmad – rohimahulloh -: 278 dan at-Tirmidzi 3039, dalam Shahihul jami’ : 5231)

Tidak sepantasnya seorang suami membenci istrinya apabila melihat hal yang tidak disukainya pada diri si istri. Apabila ia melihat akhlak si istri yang tidak disukainya, ia akan senang melihat akhlaknya yang lain; sehingga ketidaksukaannya terhadap akhlak si istri itu terbayar oleh akhlaknya yang lain itu.

Dalam  suatu hadits, Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda,
“Janganlah seorang di antara kamu membenci istrinya. Kalau  ia tidak senang dengan satu akhlaknya, ia akan senang dengan akhlaknya yang lain.” (Riwayat Muslim)

Dari Samurah  diriwayatkan bahwa Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda,
“Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Apabila engkau hendak meluruskannya, ia akan patah. Maka berhati-hatilah memeliharanya, (sehingga) engkau akan dapat hidup bersamanya.” (Riwayat Ahmad – rohimahulloh -: 8 dan Ibnu Hibban 1308 dan dalam Shahihul Jami’ II 163)

Akhlak Baik kepada Istri

Di antara faktor yang mendukung terciptanya kehidupan suami istri yang harmonis adalah akhlak atau budi pekerti yang luhur. Oleh sebab itu, lslam meletakkan soal akhlak dalam posisi yang tinggi. Nabi  adalah orang yang telah mencapai titik final dalam kesempurnaan akhlak. Dalam hadits Abu Darda’ diriwayatkan bahwa Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda,
“Tidak ada suatu amalan yang lebih berat timbangannya daripada akhlak yang baik. Orang yang baik akhlaknya, dapat mencapai derajat orang yang gemar melakukan puasa dan shalat. (Riwayat at-Tirmidzi 2003 dan Abu Dawud 4799).

Manifestasi keluhuran akhlak itu amat luas sekali. Diantaranya adalah menggauli pasangan hidup baik itu suami atau istri dengan cara yang baik. Cara bergaul yang baik antara pasangan suami istri di antaranya. sikap tidak terlalu memerdulikan berbagai kekhilafan. tidak memperpanjang urusan; tidak asal mengejek dan mencemooh segala tindakan pasangan. kecuali dalam upaya menegakkan hukum Allah k. Demikianlah yang dibimbingkan dalam firman Allah,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan pergaulilah mereka dengan baik; dan apabila kamu tidak menyukai sesuatu pada diri mereka, bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu yang Allah jadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa: 19)

Di antara manifestasi sikap luhur suami, terhadap istrinya adalah memberi pelajaran yang baik bila si istri berbuat kesalahan. Apabila seorang istri mendurhakai, suaminya dan tidak mau taat. hendaknya , sang suami memberinya pelajaran dengan cara yang disyariatkan. Allah berfirman,

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (an-Nisa : 34)

Ayat itu mengajarkan bahwa seorang suami berhak memberi pelajaran kepada istrinya, ketika si istri mendurhakainya dan enggan bersikap taat. “Pelajaran” pun disyariatkan secara bertahap. yang pada masanya bisa sampai pada tingkat pemukulan (yang tidak membahayakan) dengan beberapa syarat.

Al-Qurthubi – rohimahulloh – menyatakan, “Perlu diketahui, bahwa Allah l tidak pernah memerintahkan untuk memukul istri secara terang-terangan kecuali dalam ayat ini. dan dalam batasan yang ketat. Kedurhakaan istri kepada suaminya disetarakan dengan dosa besar. Urusan penghukuman itu diserahkan kepada suami, bukan kepada pemimpin umat, menjadi hak suami. bukan hak para hakim, tanpa perlu saksi dan tanpa penyerahan bukti, sebagai kepercayaan yang Allah berikan kepada suami terhadap istri mereka.”

Arti nusyuz (tidak taat) dalam ayat itu adalah mendurhakai suami. Yakni, enggan dan tidak sudi mengerjakan apa yang Allah wajibkan atas mereka dalam menaati suami. Maka, Allah menjadikan pelajaran terhadap istri dalam beberapa tingkatan:

Yang pertama, peringatan tanpa meninggalkannya. Hendaknya si istri diingatkan dengan kewajiban yang Allah bebankan kepadanya untuk bergaul dengan cara yang baik bersama suami. Dan menjadi teman yang baik pula. Kalau peringatan dan pelajaran dengan lembut dan santun itu tidak bermanfaat, beralihlah kepada cara kedua, yakni pisah tempat tidur. Artinya, dengan membalikkan punggung atau dengan langsung tidur di tempat terpisah. Tetapi itu tidak boleh berlangsung lebih dari 4 bulan. Selain itu, pisah tempat tidur itu harus diniatkan untuk memberi pelajaran dan perbaikan, bukan untuk menyakiti. Adapun yang ketiga, memukulnya dengan pukulan yang tidak membahayakan.

Ibnu Abbas – rodhiyallohu ‘anhu  – menyatakan, “Berpisah ranjanglah darinya hingga ia bertaubat. Kalau tidak juga bertaubat, kamu boleh memukulnya dengan pukulan yang tidak rnembahayakan. Namun hendaknya sang suami menyadari, pukulan itu bertujuan untuk memberi pelajaran dan untuk menyelesaikan masalah serta menahan terjadinya pelanggaran. Maka, hendaknya ia meringankan pukulan itu sebisa mungkin. Yang demikian itu dapat direalisasikan dalam bentuk tamparan dan sejenisnya.”

Atha’ bertanya kepada Ibnu Abbas, “Apa yang dimaksudkan dengan pukulan yang tidak membahayakan?” Beliau menjawab, “Gunakan siwak dan sejenisnya.” Yakni memukulnya dengan siwak dan sejenisnya.

Hendaknya sang suami menghindari lokasi-Iokasi berbahaya seperti kepala, perut, juga wajah. Karena Nabi  melarang memukul wajah secara umum. Dalam hadits Mu’awiyyah bin Hidah  – rodhiyallohu ‘anhu  – disebutkan bahwa ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apa hak Istri atas diri kami?” Beliau menjawab, “Hendaknya engkau memberinya makanan sebagaimana yang engkau makan dan memberinya pakaian sebagaimana yang engkau kenakan; jangan engkau menjelek-jelekkannya dan jangan memukul sembarangan.” Yakni (dalam riwayat lain). ‘jangan memukul wajah.” (Riwayat ibnu Majah 1850 dan Ahmad IV: 446).

Kalau si istri telah kapok, jangan terus menghukumnya dan menyakitinya dengan ucapan atau perbuatan. Banyak sekali percekcokan yang terjadi akibat kekeliruan suami dalam memberi pelajaran kepada istrinya yang bersalah. Sikap yang salah dibalas dengan tindakan yang salah, bahkan terkadang lebih besar lagi kesalahannya. Banyak suami yang seolah-olah tidak menyadari keberadaan wanita yang diciptakan dari tulang rusuk lelaki yang bengkok. Proses pembelajaran terhadap istri itu harus dilakukan dengan menyadari kekurangan pada pribadi wanita, dengan penuh kesabaran dan barometer akhlak yang luhur. Dengan demikian diharapkan pasutri akan terhindar dari percekcokan yang selalu menghantui kehidupan rumah tangga yang jauh dari bimbingan ilahi. (***)

Artikel Majalah Nikah Sakinah Vol. 10 No. 1, Rubrik Fikih Keluarga

.

Tagged under: , , ,

2 Comments

  1. firdaus Reply

    Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
    saya adalah salah seorang pelanggan nikah sakinah. saya sangat menyukai isi dan gaya bahasa yang di sajikan.
    selain itu saya juga minta izin untuk meng copy paste tulisan-tulisan dari nikah sakinah yang sesuai dengan maksud dari web saya. atas izin dari nikah sakinah saya ucapkan terimakasih.

    1. admin Reply

      Alhamdulillah, segala pujian hanyalah milik Allah. Kami persilahkan bagi siapa saja untuk menyebarkan lebih luas lagi artikel kami, dengan syarat tetap mencantumkan sumber artikel tersebut. Dan lebih baik lagi dalam bentuk pranala/link yang menuju ke artikel tersebut atau ke situs http://www.majalahsakinah.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top