4 Kunci Hadapi Krisis Ekonomi

Seiring dengan melonjaknya harga kebutuhan, melonjak pula problematika keluarga, khususnya terkait dengan keuangan. Tak jarang kondisi seperti ini menyulut api perselisihan, bahkan terkadang jurang perceraian pun tak terelakkan. Bagaimana tidak, seorang istri mendapati pendapatan suaminya tidak cukup untuk keluarga dengan anak banyak. Jangankan menyekolahkan anak ke sekolah yang memadai, apalagi yang berkualitas, makan sehari-hari pun rasanya kurang. Susu bagi balita pun tak terpikirkan. Lantas bagaimana solusinya, agar keluarga tetap harmonis dan berhasil keluar dari himpitan ekonomi ini?

Rezeki itu dari Allah

Perlu diketahui, rezeki itu dari Allah, maka kita harus meminta juga kepada Allah semata. Tidak boleh menggantungkan rezeki hanya dari orang lain dengan melupakan pemberi rezeki hakiki yaitu Allah. Allah menegaskan :
فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ
“Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah.” (al ankabut: 17)

Syekh as-Sa’di menjelaskan, “Allah lah yang akan mempermudah dan menetapkan rezeki seseorang, Dia lah yang mengabulkan doa orang yang berdoa memohon kebaikan duniawi maupun ukhrawi.” (Taisirul Karimirrahman hal: 627, cet. Darussunnah)

Solusi mengatasi himpitan ekonomi

Berangkat dari hal di atas, maka untuk lepas dari himpitan krisis keluarga, maka seorang muslim harus :

1. Banyak istighfar dan taubat kepada Allah

Istighfar adalah memohon ampunan kepada Allah sedangkan taubat adalah kembali kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya disertai penyesalan atas dosa yang telah ia lakukan dengan bertekad untuk tidak mengulanginya. Dengan banyak istighfar dan taubat kepada-Nya, niscaya Allah akan melimpahkan rezeki kepadanya, Allah menegaskan,
“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, membanyakkan harta dan anak-anakmu, menjadikan untukmu kebun-kebun, dan menjadikan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.’” (Nuh : 10-12)

2. Meningkatkan ketakwaan kepada Allah

Takwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya untuk melindungi diri dari kemurkaan Allah dan siksaan-Nya. Sehingga, orang yang menjaga dirinya dari kemaksiatan adalah seorang yang bertakwa, demikian pula orang yang menjalankan perintah-perintah Allah adalah seorang yang bertakwa, dan Allah pun akan melimpahkan rezeki kepadanya. Allah menegaskan:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Thalaaq : 2-3)

Syekh Abdurrahman bin Nashir Assa’di mengomentari ayat ini, “Allah akan melimpahkan rezeki kepada orang yang bertakwa dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak disadari” (Taisirul karimirrahman hal: 870)
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (al A’raaf : 96)

3. Mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai macam ibadah dengan penuh keikhlasan dan sesuai sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai macam ibadah, niscaya Allah akan membukakan pintu-pintu rezeki baginya dan menjadikan usahanya penuh berkah dan menghasilkan. Allah menegaskan dalam hadits Qudsi,
يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِى أَمْلأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ مَلأْتُ صَدْرَكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ
“Wahai anak adam, konsentrasilah dalam beribadah kepada-Ku, niscaya aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan dan aku hilangkan kefakiranmu. Jika tidak (tidak beribadah) niscaya aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak aku hilangkan kefakiranmu.” (diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dishahihkan oeh Syekh al-Albani v dalam Shahih Wa Dha’if Ibnu Majah)

Bertolak dari hadits ini, maka tidak aneh jika kita dapatkan seseorang yang sibuk bekerja siang dan malam hari, tidak pernah nganggur dari pekerjaan, namun ia juga tidak mendapatkan rezeki dari pekerjaannya tersebut.

Dan di antara ibadah-ibadah yang bisa dikerjakan adalah menyambung tali silaturahim, menunaikan ibadah haji dan umrah, hijrah, dan berinfak. Beberapa contoh ibadah ini merupakan sebab diluaskannya rezeki oleh Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من سَرَّهُ أن يُبْسَطَ له في رِزْقِهِ، وُينْسَأ في أثَرِهِ؛ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syekh al-Albani v dalam Shahih Abu Dawud)

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Kerjakanlah ibadah haji dan umrah secara berurutan, sesungguhnya keduanya menghapus kefakiran dan dosa, sebagaimana pandai besi menghilangkan kotoran pada besi, emas, dan perak, ibadah haji yang mabrur tidak memiliki pahala melainkan surga.” (diriwayatkan oleh Turmudzi dan beliau menshahihkannya )

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَماً كَثِيراً وَسَعَةً
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang Luas dan rezeki yang banyak.” (an Nisa’ : 100)

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.” (Saba’ : 39)

Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah berfirman Allah yang Maha Tinggi, “Wahai anak adam, berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak kepadamu” (diriwayatkan oleh Muslim no: 2355)

4. Bertawakkal kepada Allah

Setelah berupaya dengan langkah-langkah di atas, maka langkah keempat ia harus bertawakal kepada Allah. Tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah, bersandar hanya kepada-Nya dan tidak bersandar kepada makhluk. Dengan tawakal, niscaya Allah akan membantu kita memenuhi apa yang kita inginkan.

Allah menegaskan dalam firman-Nya,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaaq : 3)

Ayat ini dengan jelas menegaskan, perkara yang diserahkan kepada Allah,  Dia lah yang akan mengurusinya. Hal senada juga telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jikalau kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaa Allah akan mencurahkan rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada burung dimana ketika pergi dalam keadaan lapar, namun ia pulang ke sarangnya dalam keadaan kenyang.” (diriwayatkan oleh Ahmad dan dishahihkan oleh syeikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah)

Apakah berarti tidak memerlukan usaha duniawi lainnya? Apakah berarti harus berpangku tangan tanpa diiringi upaya sama sekali? Keempat langkah di atas adalah langkah-langkah yang harus ditempuh oleh seorang mukmin tatkala himpitan keuangan keluarga menghampiri. Namun, bukan berarti ia harus berpangku tangan menunggu keajaiban dari langit. Bahkan, ia harus mengerahkan segala upaya dan dayanya untuk keluar dari himpitan ekonomi. Bahkan hal ini, yaitu mengambil sebab dan melakukan usaha adalah bagian dari tawakal.

Seseorang bebas berusaha dengan berbagai macam cara selama tidak dengan cara yang diharamkan oleh syariat seperti mencuri, berbuat curang, bermuamalah dengan riba, dan lain sebagainya. Bahkan, perbuatan dosa dan pelanggaran yang ia kerjakan justru akan menyebabkan dicabutnya atau dikurangi nikmat seseorang. Tidakkah kita memperhatikan firman Allah:
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah menimpakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (an-Nahl : 112)

Demikian, semoga bermanfaat bagi kita semua dan kita memohon kepada Allah agar mencurahkan karunia-Nya kepada kita semua, sesungguhnya Dialah yang Maha Pengasih dan Maka Kuasa untuk melakukan segala hal. Wallahu A’lam. (***)

Ditulis oleh : Ust. Abu Rufaid Agus Suseno, Lc

Majalah Nikah Sakinah Rubrik Lentera, Vol. 11, No. 3

 

Tagged under: , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top