Suamiku Menikah Lagi

Pak ustadz, saya berumah tangga sudah 15 tahun, dikaruniai 3 orang anak. Ketika saya mengandung anak ketiga, suami saya diam-diam melakukan nikah siri dengan janda yang lebih mapan dan berkecukupan. Bisa dibilang lebih kaya dan katanya banyak yang suka. Suami janda itu baru saja meninggal. Pernikahan siri yang mereka lakukan juga tidak diketahui oleh orangtua mereka masing-masing ataupun kerabatnya.

Yang ingin saya tanyakan:

  1. Apakah ada dalam syariat Islam seorang wanita menolong suami orang dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis?

  2. Apakah benar pernikahan siri yang dilakukan itu sesuai syariat dan merupakan ibadah (ittiba’ Nabi)?

  3. Apakah benar jika suami melakukan pernikahan siri itu merupakan ladang amal bagi istri dan pahala buat istri?

  4. Apakah benar orang-orang yang menentang pernikahan siri (Poligami) termasuk orang-orang yang menentang Al Quran?

  5. Apakah boleh seorang istri memperolok suaminya yang sudah meninggal? Mohon penjelasan.

Jawaban:

 Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Saudari seiman … Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan Saudari, harus dipahami dulu, pernikahan siri berbeda dengan poligami. Poligami adalah seorang suami yang menikahi lebih dari satu wanita dan batasan maksimal adalah empat wanita. Allah berfirman,

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki yang demikian itu adalah lebih dekat untuk tidak berbuat aniaya.” (an Nisa’ :3)

Syeikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi menegaskan, “Ayat ini menunjukkan bolehnya menikahi empat wanita sebagaimana pula ditunjukkan oleh ijma’ kaum muslimin”

Adapun dari sunnah, adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar al Asdi ketika beliau menyampaikankepada Nabi bahwa dirinya memiliki delapan istri di masa jahiliyah, maka nabi berkata kepadanya:

Pilihlah empat dari istri-istrimu” (diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Bahkan disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhri bahwa Ibnu Abbas berkata kepada sa’id bin jubair, “Nikahlah kamu, sesungguhnya sebaik-baik umat ini adalah yang paling banyak istrinya” (Bukhari : 5069)

Dari nash-nash di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa poligami adalah disyariatkan jika terpenuhi syarat-syaratnya, yaitu:

  • Suami mampu berbuat adil terhadap istri-istrinya

  • Suami bisa aman dari fitnah wanita dan tidak menyebabkan dirinya melalaikan hak-hak Allah karena poligami

  • Suami mampu menjaga dan melindungi kesucian istri-isrinya

  • Suami mampu menafkahi istri-istrinya.

Adapun pernikahan siri, sesungguhnya pernikahan semacam ini memiliki banyak arti. Terkadang yang dimaksud dengan pernikahan siri adalah pernikahan yang tidak terpenuhi rukun dan syarat sah nikah atau terkadang pula yang dimaksud dengan pernikahan siri adalah pernikahan yang telah terpenuhi rukun dan syarat sah nikah. Ada ijab dan qabul, keridhaan dari kedua calon mempelai, izin dari wali calon mempelai wanita, mahar, dan saksi. Akan tetapi, pernikahan ini belum di daftarkan ke KUA.

Jadi, pernikahan siri lebih khusus kepada cara pernikahan, terlepas itu pernikahan yang pertama atau kedua dan seterusnya.

Bertolak dari hal ini, apakah disyariatkan dalam islam bagi seorang wanita membantu suami orang lain dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis?

Jika yang dimaksud adalah seorang wanita yang merelakan dirinya untuk dijadikan madu secara resmi dan dicatat di KUA, dengan niat membantu sang calon suami –meskipun sudah menjadi suami wanita lain- untuk menjaga diri dari perbuatan haram dalam memenuhi kebutuhan biologis yang belum terpenuhi dari istri pertama, maka jawabannya disyariatkan. Karena di antara hikmah menikah adalah untuk menjaga diri dari perbuatan zina dan perbuatan-perbuatan haram lainnya dalam memenuhi kebutuhan biologis.

Namun, sebaiknya seorang wanita yang siap dijadikan madu hendaknya berniat untuk menikah karena Allah dan untuk menjalankan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini lebih baik dan lebih besar pahalanya baginya.

Lalu, apakah benar nikah siri ini sesuai dengan syariat? Benarkah ia meneladani Nabi Muhammad b?

Jawabannya kembali kepada pernikahan siri mana yang dikehendaki. Jika yang dimaksud pernikahan yang tidak terpenuhi rukun dan syarat nikah, semisal tidak ada wali atau izin dari mempelai wanita, maka pernikahan siri yang seperti ini tidak sah menurut kacamata agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ

“Tidak sah pernikahan tanpa adanya wali.” (Riwayat Abu Dawud : 2085)

Jika yang dimaksud dengan pernikahan siri adalah pernikahan yang telah terpenuhi rukun dan syarat sah nikah (ada ijab dan qabul, keridhaan kedua mempelai, izin dari wali mempelai wanita, mahar, dan saksi), akan tetapi pernikahan ini belum di daftarkan ke KUA, maka pernikahan semacam ini sah menurut agama namun pelakunya berdosa karena tidak menaati peraturan pemerintah. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (an-Nisa’: 59)

Jadi, apabila pemerintah memandang adanya undang-undang keharusan tercatatnya akad pernikahan, maka itu adalah undang-undang yang sah dan wajib bagi rakyat untuk mematuhinya dan tidak melanggarnya.

Bahkan, banyak sekali manfaat yang diambil dari pencatatan akad nikah secara resmi di KUA. Antara lain, menjaga hak-hak pasutri dari kesia-siaan, solusi persengketaan pasutri, menutup pintu pengakuan-pengakuan palsu dari pasutri, dan lain sebagainya.

Jika sang istri merelakan dirinya dimadu dengan cara yang dibenarkan syariat, apakah bisa menjadi ladang pahala baginya?

Tidak bisa dipungkiri, terkadang wanita lebih dikuasai oleh rasa cemburu. Ia cemburu jika harus membayangkan suami tersayang membagi kasih, cinta, dan kesenangan duniawi lainnya bersama wanita lain. Terkadang seorang wanita merasa dunia ini akan runtuh saat mendengar suaminya ingin menikah lagi. Ini adalah hal yang wajar, karena istri-istri para nabi pun tidak terlepas dari rasa cemburu, itu semua karena besarnya cinta sang istri kepada suami.

Namun, akankah wanita mendahulukan rasa cemburu dan emosinya? Bukankah di antara hikmah poligami adalah dengan banyak istri akan memperbanyak jumlah kaum muslimin, bagi laki-laki manfaat yang ada pada dirinya bisa dioptimalkan untuk memperbanyak umat ini, dan optimalisasi ini kemungkinan kecil terlaksana jika hanya memiliki satu istri saja. Poligami juga terkadang untuk kebaikan wanita, karena sebagian wanita terhalang untuk menikah dan jumlah laki-laki itu lebih sedikit dibanding wanita, sehingga akan banyak wanita yang tidak mendapatkan suami. Terkadang pula poligami dapat mengangkat kemuliaan wanita yang suaminya meninggal atau menceraikannya, dengan menikah lagi ada yang bertanggung jawab terhadap kebutuhan dia dan anak-anaknya.

Bertolak dari beberapa hikmah poligami tersebut, jika seorang istri merelakan dirinya untuk dimadu dengan tujuan-tujuan di atas, maka insya Allah akan menjadi ladang pahala baginya.

Jika seorang istri tidak rela untuk dimadu, kemudian menentang syariat poligami, apakah ia termasuk menentang Al Quran?

Poligami sifatnya tidak memaksa, artinya kalaupun seorang wanita tidak mau dimadu atau seorang lelaki tidak mau berpoligami, maka tidak ada masalah. Karena poligami hukum asalnya adalah boleh, dan bisa menjadi sunnah, wajib, makruh, dan haram sesuai dengan tujuan dan faktor yang mendorong ia berpoligami.

Namun, ketidakmauan untuk berpoligami jika diikuti memanggugat hukum poligami, maka berarti ia telah menentang Al Quran yang jelas-jelas telah menyebutkan syariat poligami.

Adapun yang berkaitan dengan mengolok-olok suami yang telah meninggal, cukup dengan menyebutkan firman Allah,

يَاأّيُّهَا الّذِينَ ءَامَنُوا لاَيَسْخَرْ قَوْمُُ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلاَنِسَآءُُ مِّن نِّسَآءٍ عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلاَتَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلاَتَنَابَزُوا بِاْلأَلْقَابِ بِئْسَ اْلإِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ اْلإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” [al-Hujurat:11].

Berkenaan dengan ayat ini, Ibnu Katsir menyatakan, “Allah l melarang mengolok-olok orang lain. Yaitu merendahkan dan menghinakan mereka. Sebagaimana disebutkan sebuah hadits dari Rasulullah b bahwa Beliau bersabda, “Sombong itu adalah menolak kebenaran dan menghinakan orang lain.” (Riwayat Muslim (I/93)). Wallahu a’lam, semoga bermanfaat. (***)

Sumber: Rubrik Konsultasi Keluarga, Majalah Nikah Sakinah Vol 10 No. 11

Tagged under: , , , , , , ,

7 Comments

  1. ziah Reply

    jika dg satu istri saja sdh cukup sdh sangat brsyukur.
    utk mnjlnkn sunnah Rosul tdk hrs dg cra memadu, msh byk sunnah2 yg lain yg bs kita ikuti dan tnpa perlu mnykiti hti istri.

  2. sebelasmeter Reply

    subhanalloh… berat sekali ya… buat yang ikhlas mungkin itu mendatangkan pahala dan hikmah, namun pada kenyataannya mayoritas wanita tak mau diduakan, apalgi membayangkan suami mencintai apalagi sampai berhubungan biologis dengan wanita lain. bagi yang menjunjung tinggi kesetaraan gender, ini adalah bentuk diskriminasi. posisi wanita yang tak berdaya bergantng pada suami dimanfaatkan untuk memenuhi nafsu duniawi laki-laki.
    bukannya hikmah yang terjadi, tapi merusak keharmonisan keluarga, generasi selanjutnya yang jadi korban. tak ada gunanya banyak anak tapi dari hasil poligami yang merusak keutuhan. lagipula sampai saat ini kaum muslimin banyak tapi kehidupannya di dunia bergantung pada orang non-muslim. memalukan! saya kira banyak kaum muslimin yang memahami iIslam melulu secara tekstual, sehingga ujungnya memmpermalukan nama baik Islam sendiri.

Leave a Reply to Rus Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top