Anak Yatim Piatu Apakah Mewarisi Harta Kakek Nenek?

Pertanyaan:

Saya mau tanya, apakah anak –anak yang sudah tidak punya orang tua berhak mewarisi harta kakek dan neneknya jika kakek dan neneknya meninggal dunia kelak? Sedangkan saudara-saudara dari kakak orangtua mereka (paman atau bibi dan paman dan bibi) juga masih hidup. Syukran, jazakumullah khairan katsiiran.
0857XXXXXX

Jawaban:

Allah – Subhanahu wa ta’ala – telah menjelaskan permasalahan Mawaris (pembagian warisan) dengan sangat lengkap dalam al-Qur`an dan dilengkapi secara sempurna melalui sunnah-sunnah Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – . Sudah sepantasnya seorang muslim untuk menggunakan sistem pembagian warisan menurut standar syariat yang sudah dibakukan oleh para ulama dalam ilmu Mawaris.

Setiap ahli waris sudah memiliki bagian dan hitungan sesuai keadaannya. Anak-anak yang tidak punya orang tua adalah cucu sang kakek atau nenek dan saudara-saudara dari kakak orang tua mereka adalah anak-anak sang kakek atau nenek tersebut. Dari sini kita lihat yang meninggal adalah kakek atau nenek, maka kita jadikan sebagai standar menilai pertanyaan saudara.
Anak-anak yang tidak punya orang tua tersebut adalah anak-anak yang orang tua mereka telah meninggal sebelum sang nenek atau kakek meninggal, ini dinamakan cucu dari sang mayit (dalam istilah ilmu Mawaris Ibnu ibn atau ibnu Bintu). Ibnu Bintu (anak dari anak perempuan) tidak termasuk ahli waris dari sang kakek atau nenek tersebut. Sedangkan ibnu ibn (cucu lelaki dari anak lelaki) termasuk ahli waris yang mendapatkan sisa harta waris (al-Ashaabah). Ia sama dengan anak-anak lelaki dari kakek tersebut, yaitu mewarisi dengan cara at-Ta’shib bin-Nafsi.

Dalam pertanyaan saudara jelas bahwa kakak orang tauan anak-anak tersebut yang perempuan (bibi) adalah anak perempuan (bintun) sang kakek atau nenek tersebut, sehingga termasuk yang mendapatkan hak warisan tergantung adanya ahli waris yang lain. Apabila tidak ada lagi ahli waris lain selain yang saudara sebutkan maka anak perempuan kakek tersebut mendapatkan warisan dengan cara at-ta’shib bil ghair. Keduanya mendapatkan masing-masing satu bagian dan anak lelaki mendapatkan dua bagian. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah – Subhanahu wa ta’ala – :
يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۚ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۚ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًاµµ
“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” (an-Nisaa` : 11)

Dari keterangan diatas anak-anak lelaki dari orang tua yang telah meninggal sebelum sang kakek adalah cucu lelaki dari anak lelaki saja yang masuk sebagai ashabah bersama sang anak kakek. Dengan demikian berkumpul dalam keadaan ini dua orang ashabah binnafsi, sehingga diberlakukanlah kaidah yang disampaikan Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – dalam sabda beliau:
( ألحِقوا الفرائضَ بأهلِها فما بَقِيَ فلأَولَى رجلٍ ذكرٍ )
“Bagikan hak waris kepada ahlinya, sisa harta yang telah terbagi milik lelaki yang paling dekat.” (Riwayat al-Bukhari).
Sehingga bila berkumpul dua lelaki yang menjadi ahli waris (ashabah) atau lebih, didahulukan yang paling dekat sisi kekerabatannya. Apabila sama, maka yang terdekat derajat kekerabatannya.

Dalam hal ini, anak dan cucu sama-sama satu sisi kekerabatannya yaitu Bunuwwah (anak). Maka kita lihat derajat dan kedudukannya, didapatkan yang langsung lebih kuat dari yang tidak langsung. Anak lebih kuat dari cucu, karena anak memiliki hubungan secara langsung sedangkan cucu harus ada anak lelaki dari mayit dahulu sehingga kekerabatannya tidak langsung. Dengan demikian maka anak kakek tersebut yaitu paman-paman dari anak-anak yang ditinggal wafat orang tuanya sebelum kakek tersebut wafat menghalangi para cucu tersebut mendapatkan harta warisan.

Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya menyatakan, “‘Bab yang menjelaskan warisan ibnulibn (cucu lelaki dari anak lelaki) apabila tidak ada anak lelaki’. Zaid berkata, ‘Cucu dari anak lelaki sama kedudukannya dengan anak lelaki apabila tidak ada bersama mereka anak lelaki… dan tidaklah cucu dari anak lelaki mewarisi bersama anak lelaki sang mayit .”
Kesimpulannya, anak-anak yang ditinggal mati orang tuanya sebelum sang kakek meninggal tidak mendapatkan bagian warisan karena terhalangi keberadaan paman-paman mereka yang menjadi anak lelaki sang kakek. Semoga penjelasan ini dapat dipahami dan dimaklumi. Wabillahittaufiq. (***)

Sumber: Rubrik Konsultasi Syariat, Majalah Sakinah Vol. 10, No. 7

Tagged under: , , ,

3 Comments

  1. heryawan Reply

    ya mau diapain lagi kalau udah begini… yg sabaryah dan tawekal bagi para cucu yg telah meninggal duluan orang tuanya mendahului kake ama nenek….
    yg sabar rezeki bukan dari warisan saja

  2. firman Reply

    cucunya yg telah duluan meninggal ayahnya sangat sial gigit jari krn semua bt sang pamannya. Bt Sakinah jgn hanya terpaku kpd satu sumber ulama sebaiknya dicari sumber2 lain.

Leave a Reply to firman Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top