Menyikapi Desas-desus

Oleh : Abu Rufaid Agus Susehno, Lc

Perceraian keluarga, perseteruan sengit antar teman, pertikaian antara lembaga pendidikan, dan permusuhan-permusuhan lainnya sering kali kita dapatkan dan kita lihat dengan mata kepala kita sendiri menimpa kaum muslimin.

desasdesusKalau kita cermati, ternyata salah satu biangnya adalah salah menerima berita, atau mudah percaya kepada berita yang sampai kepada dirinya, dan atau menggampangkan dalam menyebarkan berita tersebut. Padahal, berita tersebut hanya desas-desus yang belum jelas ujung pangkalnya.

Islam memberi solusi

Islam dengan jelas telah mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan klarifikasi dan konfirmasi (tabayyun) terlebih dahulu terhadap berita yang sampai kepada seseorang.

Tabayyun adalah meneliti berita dengan cermat, dengan pelan-pelan, dengan lembut, tidak tergesa-gesa menghukumi perkara dan tidak meremehkan urusan, sehingga menghasilkan keputusan yang jelas dan benar. (Lihat Fathhul Qadir : 5/80)

Ibnul Qayyim menegaskan, “Tabayyun adalah meminta penjelasan hakikat suatu perkara dan benar-benar mengetahuinya”. (Tafsir al-Qayyim oleh Ibnul Qayyim, 441)

Allah juga dengan tegas Allah menjelaskan hukum tabayyun dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (al-Hujurat : 6)

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk ber-tabayyun terlebih dahulu terhadap berita dari orang fasik. Perlu diketahui, perintah tabayyun dalam ayat di atas, bukan berarti perintah untuk menolak berita dari orang fasik, namun perintah untuk menglarifikasi terlebih dahulu akan kebenaran berita tersebut. Jika benar, maka diterima meskipun datang dari orang fasik dan jika salah maka tidak diterima.

Imam Ibnul Qayyim menegaskan, “Allah tidak memerintahkan kaum muslimin untuk menolak dan mendustakan berita dari orang fasik, namun Allah memerintahkan untuk bertabayyun terhadap berita orang fasik. Jika ada indikasi lain menunjukkan akan kejujuran mereka, maka berita tersebut diterima dengan adanya indikasi lain yang menunjukkan akan kejujurannya” (Tafsir al-Qayyim oleh Ibnul Qayyim, 441)

Tabayyun juga untuk orang yang jujur?

Perlu dicermati, bahwa mengklarifikasi berita itu diperlukan saat terwujud salah satu sebab dari dua sebab di bawah ini, yaitu:

1. Karena amanah orang yang menyampaikan berita. Artinya, jika seseorang tidak amanah, maka saat itulah diperlukan tabayyun. Dari kaidah pertama ini, maka orang-orang fasiq tidak bisa langsung diterima beritanya karena kebanyakan mereka tidak amanah. Inilah makna dari firman Allah dalam surat al-Hujurat ayat 6, yang menjelaskan wajibnya tabayyun terhadap berita yang datang dari orang fasik.

2. Karena kekuatan ingatan si penyampai berita. Artinya, seseorang dalam menyampaikan berita terkadang salah memahami, terburu-buru, atau mungkin lupa. Sehingga, berita yang bersumber dari orang seperti ini perlu diadakan klarifikasi.

Kesimpulannya, tabayyun diperlukan bukan hanya dalam menyikapi berita orang fasik saja, namun juga berita dari orang jujur. Karena tidak menutup kemungkinan si penyampai berita salah, terburu-buru, atau lupa. Sehingga sangat diperlukan tabayyun untuk mengambil sikap selanjutnya.

Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin – rahimahullah – menegaskan, “Kesimpulannya, wajib atas seseorang untuk mengklarifikasi apa yang dikatakan oleh seseorang dan meneliti si pembawa berita, dia orang yang amanah atau tidak.” Kemudian beliau menambahkan, “Terlebih khusus jika hawa nafsu telah ikut andil, orang pun semakin suka berbicara “kata fulan” tanpa klarifikasi atau membuktikan terlebih dahulu, maka tabayyun saat seperti ini semakin ditekankan kewajibannya, hingga seseorang tidak terjerumus dalam kebinasaan”. (Syarh Riyadhus Shalihin : 1/ 1795)

Dampak tidak tabayyun

Setelah kita mengenal kapan harus tabayyun, maka ketahuilah, sesungguhnya jika seseorang terburu-buru dalam menerima dan menyampaikan berita, bisa berdampak terjerumusnya seseorang ke dalam beberapa kesalahan dan dosa, antara lain :

1. Ghibah dan fitnah

Ketika seseorang dengan gampang menerima berita lalu menceritakan ke orang lain berkaitan dengan keburukan seseorang maka sungguh ia telah terjerumus dalam ghibah. Karena ghibah adalah menyebutkan sifat atau karakter buruk orang ketiga. Jika ternyata sifat ini tidak ada pada orang yang sedang digunjing, maka ia telah memfitnahnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – ,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ »

Dari Abu Hurairah – radhiyallahu ‘anhu -, Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bertanya, “Tahukah kalian, apa itu ghibah?”, para sahabat menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih tahu”. Rasulullah meneruskan, “Ghibah adalah kamu menceritakan saudaramu yang ia tidak sukai.” Rasulullah ditanya, “Apa pendapatmu jika ternyata yang aku ceritakan betul-betul ada padanya?”. Beliau – shallallahu ‘alaihi wa sallam – menjawab, “Jika benar yang kamu katakan berarti kamu telah menggunjing dirinya dan jika tidak benar maka kamu telah memfitnah dirinya.” (Diriwayatkan oleh Muslim VI/481)

2. Namimah

Jika seseorang terburu-buru menyampaikan berita tanpa klarifikasi terlebih dahulu, maka tidak menutup kemungkinan berita tersebut berasal dari orang-orang yang ingin menimbulkan permusuhan. Sehingga, dengan tidak ia sadari dia telah membantu musuh-musuh islam menyalakan api permusuhan dan mengadu domba antar kaum muslimin.

Namimah atau mengadu domba adalah menyampaikan berita kepada orang lain dengan tujuan menimbulkan kerusakan, permusuhan, dan kebencian. (Taisirul Karimir Rahman : 879)

Namimah memiliki dampak yang sangat bahaya. Karena namimah bisa terjadi antara teman dekat, suami istri, karib kerabat, suku, bahkan negara. Syekh Abdullah bin Jarullah menjelaskan bahaya namimah: “Namimah adalah senjata setan yang paling buruk untuk memecah belah umat dan mencabik-cabik ukhuwah dan kasih sayang”. (Al-Baayan Fi Aaafaatil Lisan : 28)

Selain itu, namimah juga merupakan dosa besar, Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda, “Tidak masuk surga orang yang mengadu domba.” (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

3. Dusta

Orang yang gampang sekali menyampaikan berita tanpa klarifikasi, maka ia akan terjerumus dalam dusta. Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – menegaskan :

كَفَى بِالمَرْءِ كَذِباً أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar (diriwayatkan oleh Muslim I/12)

Dusta adalah sifat orang-orang munafik, dusta juga merupakan dosa besar, dan dusta juga menimbulkan pertikaian. Karena dusta bisa memutarbalikkan fakta, yang hak jadi batil, dan batil jadi hak di pandangan manusia.

Agar tidak terjerumus dalam ghibah, namimah, dan dusta

Ghibah, namimah, dan dusta adalah contoh kecil dari dampak tidak adanya tabayyun dalam menerima, mendengar, dan menyampaikan berita. Bagaimana agar kita tidak terjerumus dalam dosa-dosa ini?

Di antara langkah yang bisa kita tempuh adalah sebagai berikut:

1. Tidak mendengar atau membaca semua berita terlebih khusus berkaitan dengan aib orang lain.

2. Tidak terburu-buru dalam menerima berita, namun harus diklarifikasi dan diteliti (tabayyun) terlebih dahulu. Terburu-buru dalam menerima berita hanya akan mendatangkan keburukan, karena terburu-buru itu dari setan. Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – menegaskan :

“Pelan-pelan itu dari Allah, sedangkan terburu-buru itu dari setan.” (Musnad Abu Ya’la: 7/247, dishahihkan oleh al-Albani – rahimahullah – : 4/404)

3. Waspada terhadap semua berita yang datang dari pengikut hawa nafsu, fanatik golongan, penyebar fitnah, peleceh sunah, orang yang mengumbar lisan dan tidak takut dosa.

4. Setelah ketiga langkah di atas, maka ia juga masih dituntut untuk mempertimbangkan tiga hal sebelum berbicara menyampaikan berita yang ia dengar, yaitu ia harus mempertimbangkan : Apakah berita yang akan ia sampaikan itu benar atau salah, apakah tujuan penyampaian berita itu benar atau salah, dan apakah berdampak buruk atau tidak.

Hendaklah ia selalu ingat akan bahaya lisan, Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – menegaskan,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ اْلجَنَةَ

“Barangsiapa menjaga apa yang ada antara dua jenggotnya (lisan) dan antara dua kakinya (kemaluan) niscaya aku jamin baginya surga.” (Diriwayatkan oleh Bukhari no: 6474).

Demikian, semoga Allah selalu membimbing kita untuk berbicara yang benar. Wallahu a’lam. (***)

Sumber: Rubrik Fikih Keluarga, Majalah Sakinah, Vol. 11 No. 6

Tagged under: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top