Mengasah Kedermawanan

mengasah-sedekah

Agama Islam datang untuk menetapkan dan menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia. Segala bentuk kemuliaan akhlak, baik yang telah ada di zaman jahiliyah ataupun yang dibawa oleh Islam, senantiasa dijunjung tinggi oleh agama yang mulia ini. Bahkan Nabi pembawa risalah Islam ini, Nabi Muhammad – shallallahu ‘alaihi wa sallam -, adalah seorang manusia yang menjadi panutan utama dalam akhlak yang mulia. Allah – ta’ala – berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu (Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 4)

Dermawan Itu Terpuji

Kedermawanan adalah salah satu sifat terpuji yang hendaknya dimiliki setiap muslim. Dan Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – sebagai teladan bagi setiap muslim juga telah menunjukkan sifat dermawan yang luar biasa. Beliau tidak pernah enggan memberi jika ada seseorang yang meminta sesuatu darinya. Bahkan sifat derma Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – seperti ini telah menjadi sebab banyak orang masuk ke dalam Islam.

Disebutkan oleh Anas bin Malik – radhiyallahu ‘anhu -, dia berkata, “Tidaklah Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – diminta (sesuatu) dengan syarat Islam kecuali beliau pasti memberinya. Dan telah datang seseorang kepadanya lalu beliau memberinya kambing (yang banyak) antara dua gunung. Orang itu pun kembali kepada kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian, sesungguhnya Muhammad memberi sesuatu tanpa takut miskin.” Dan sungguh ada seseorang yang masuk Islam (awalnya) hanya menginginkan dunia, namun tidak lama kemudian Islam menjadi lebih dia cintai dari pada dunia seisinya.” (Riwayat Muslim)

Adapun tentang definisi kedermawanan, para ulama telah menjelaskannya dengan beberapa ungkapan yang berkisar pada makna mudah memberi sesuatu yang layak kepada siapa saja yang layak diberi, dengan sukarela tanpa mengharapkan ganti atau tanpa memiliki tujuan tertentu.

Sebagaimana akhlak-akhlak mulia lain, sifat kedermawanan terkadang sudah menjadi sifat dasar sebagian orang, sehingga dia tidak perlu bersusah-susah berusaha untuk meraih sifat mulia ini. Namun demikian bukan berarti sifat ini dan sifat-sifat mulia lainnya itu tidak bisa diusahakan dan diasah pada setiap kita. Bahkan sifat-sifat dan akhlak-akhlak mulia ini bisa diraih dengan melatih diri untuk terbiasa dengan akhlak-akhlak tersebut.

Bagaimana mungkin hal ini tidak bisa diraih dan diusahakan, padahal Allah telah menganjurkan dan memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk memiliki sifat-sifat mulia itu. Dan ini tentu saja menunjukkan bahwa sifat-sifat itu bisa diusahakan untuk dimiliki.

Oleh karena itu, perlu kiranya kita mengetahui apa saja yang bisa membantu kita untuk meraih sifat dermawan ini, atau dengan kata lain, bagaimana kita mengasah kedermawanan kita?

Berderma bukan penyebab habis harta

Amalan lahiriah sangat terkait erat dengan amalan batiniyah. Maksudnya, jika secara batin kita meyakini bahwa apa saja yang kita dermakan pada hakikatnya tidak akan habis, maka keyakinan batin ini adalah salah satu pendorong yang sangat kuat agar kita mau berderma.

Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (Riwayat Muslim)

Tentang hadits ini Imam an-Nawawi v menjelaskan, “Para ulama menyebutkan dua sisi makna tentang hadits ini, yang pertama, maknanya bahwa dia diberkahi padanya dan dihindarkan dari berbagai musibah, sehingga (harta) yang berkurang secara lahiriah itu ditutup dengan berkah yang tidak tampak. Dan hal ini bisa dirasakan secara nyata. Makna yang kedua, bahwa meskipun secara lahiriah harta itu berkurang, namun pahala yang dihasilkan olehnya bisa menjadi penambal dan sekaligus sebagai tambahan yang sangat banyak.” (Syarah Shahih Muslim)

Dan Allah – ta’ala – telah menegaskan,

وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (al-Baqarah: 272)

Dalam hadits, Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – juga bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Setiap pagi pasti ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang berinfak. Dan malaikat yang satunya berdoa, ya Allah berikanlah kebinasaan pada orang yang enggan berinfak.” (Muttafaq ‘alaih)

Oleh karena itu dalam kita membiasakan diri berderma, hendaknya kita juga melatih niat kita untuk bisa ikhlas dalam derma yang kita keluarkan ini. Karena apa yang Allah janjikan bagi orang-orang yang berderma bahwa harta tidak akan berkurang bahkan akan diberi ganti yang lebih baik, hanya berlaku bagi orang-orang yang ikhlas dalam berderma.

Terbiasa berinfak

Sesuatu yang wajib memang harus ditunaikan. Orang yang enggan melaksanakan yang wajib tentu akan merasa berat melaksanakan yang tidak wajib. Nah, seseorang bisa memiliki sifat kedermawanan tatkala dia sangat mudah memberikan apa yang hendaknya diberi meski hal itu bukan merupakan kewajibannya. Oleh karena itu, penunaian nafkah-nafkah yang wajib tentu saja akan menjadi “latihan” bagi setiap muslim yang ingin menjadi dermawan. Bagaimana mungkin seseorang akan menjadi dermawan, seandainya nafkah yang wajib saja, seperti nafkah untuk keluarga, penunaian zakat, dan lain sebagainya, tidak dia tunaikan.

Dan setelah penunaian yang wajib ini, tentu saja seorang muslim yang ingin menjadi seorang dermawan hendaknya berusaha untuk membiasakan diri dan tetap konsisten dalam menginfakkan harta yang tidak wajib. Sisihkanlah selalu dari penghasilan kita, setelah untuk menunaikan kewajiban-kewajiban, sebagian harta yang kita keluarkan untuk infak atau sedekah yang bersifat tidak wajib. Dan Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – telah bersabda mendorong kita untuk senantiasa bersedekah meski hanya dengan harta yang mungkin kita anggap remeh. Karena dengan sedekah itu kita akan mendapatkan perlindungan dari neraka. Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda,

مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَتِرَ مِنْ النَّارِ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَلْيَفْعَلْ

“Barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menutupi diri dari neraka meski dengan separuh kurma, maka hendaknya dia melakukannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Cintailah saudaramu

Latihlah diri kita untuk memiliki rasa cinta terhadap sesama kaum muslimin. Dengan adanya cinta, seseorang akan mudah memberikan apa saja kepada orang yang dicintai. Dalam hal ini, Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – telah memberikan nasihat yang sangat bagus bagi kita dengan sabdanya,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak (sempurna) iman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya.” (Muttafaq ‘alaih)

Yakni, sebagaimana kita senang mendapatkan berbagai kebaikan dan nikmat dari Allah, maka seorang mukmin yang sempurna imannya akan merasa senang ketika saudaranya juga mendapatkan kebaikan atau nikmat sebagaimana yang dia dapatkan. Dengan adanya kecintaan ini akan terasa mudah dan lapang bagi kita memberikan sesuatu kepada orang lain. Karena dengan keimanan dan kecintaan ini, kita akan merasa senang ketika saudara kita merasa senang dan kita akan merasa sedih ketika saudara kita merasa sedih.

Derma dalam segala hal

Kemudian ketahuilah bahwa kedermawanan itu tidak hanya dalam masalah harta. Bahkan dalam segala hal yang bisa kita kerahkan dan kita berikan untuk orang lain, bisa kita dermakan kepada mereka. Seperti ilmu yang bermanfaat, kedudukan, kekuatan, pikiran dan lain sebagainya. Maka, untuk melatih dan mengasah kedermawanan, kita perlu membiasakan diri kita untuk berderma dengan berbagai hal yang sifatnya non materi. Semakin kita terbiasa berderma dengan hal ini, insya Allah lama kelamaan akan membawa kita untuk mudah berderma dengan sesuatu yang bersifat materi.

Demikianlah beberapa hal yang bisa kita usahakan dalam rangka mengasah kedermawanan kita, meski sesungguhnya usaha-usaha yang bisa dilakukan itu lebih banyak dari apa yang tertulis di sini. Wallahu a’lam. (***)

Sumber: Rubrik Lentera, Majalah Sakinah, Vol. 11 No. 8

ٍ

Tagged under: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top