Fikih Cekcok Suami Istri

Oleh : Ustadz Abu Rufaid Agus Suseno, Lc

Sebuah bahtera rumah tangga tidak selalu selamat dari hantaman ombak pertengkaran dan percekcokan. Sehingga, tak jarang ada seorang istri yang tiba-tiba pulang ke rumah dengan mata syahdu karena banyak menangis.

Bagaimanakah Islam memberikan solusi? Benarkah perbuatan istri yang langsung pulang ke rumah orang tua untuk lari dari masalah keluarganya?

Hakikat cekcok dalam keluarga

Pertengkaran dalam rumah tangga adalah ketidakharmonisan suami istri di mana masing-masing pihak menyusahkan pihak lainnya. Jika yang menyusakan pihak istri, maka disebut nusyuz, dan jika yang menyusahkan adalah pihak suami, maka bisa berupa perbuatan suami yang tidak mau menggauli istri dengan baik dan tidak mau pula menceraikannya dengan baik. Ini adalah hakikat pertengkaran dalam rumah tangga, meskipun di balik itu semua banyak sebab yang memicu pertengkaran.

Imam Ibnu Jarir at-Thabari berkata, “Pertengkaran suami istri adalah permusuhan antara suami istri, yaitu saling menyusahkan salah satu pihak, jika istri yang menyusahkan disebut nusyus dan jika yang menyusahkan pihak suami, maka bisa berwujud suami yang tidak mau menggauli istrinya dengan baik dan tidak mau menceraikannya dengan baik pula.” (Tafsir ath-Thabari 8/318)

Kapan juru damai dibutuhkan?

Pertengkaran dalam rumah tangga itu bermacam-macam tingkatannya, bisa diperinci sebagai berikut:

a. Pertengkaran yang tidak sampai menyakiti salah satu pihak dengan pukulan atau cacian. Pertengkaran seperti ini bisa disebabkan oleh kesalahan istri yang durhaka kepada suami atau suami yang tidak menjalankan kewajibannya.

Jika memang istri yang bersalah, maka suami bisa menempuh cara-cara yang Allah syariatkan, yaitu dalam firman-Nya, “Dan wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[kedurhakaannya terhadap suami], maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.” (an Nisa’ : 34)

Dari ayat ini bisa ditarik kesimpulan, bahwa langkah untuk membimbing istri yang durhaka, suami hendaknya melakukan beberapa langkah sebagai berikut:

1. Menasihatinya dengan lemah lembut, yaitu dengan mengingatkan akan kewajiban seorang istri terhadap suaminya dan besarnya dosa seorang istri yang durhaka terhadap suaminya.

2. Memboikotnya dengan sesuatu cara yang membuat dirinya jera, seperti pisah ranjang atau tidak menggaulinya. Tentunya dengan cara baik, yaitu tidak sampai mengusir istri dari rumah dan tidak disebarluaskan.

3. Pukulan yang tidak menyakiti, yaitu pukulan yang tidak keras dan bukan pada anggota tubuh yang terlarang untuk dipukul. Karena tujuan pukulan adalah pukulan mendidik untuk mengingatkan kesalahan istri.

Jika memang ketiga cara ini tidak membuahkan hasil, maka keputusan dikembalikan kepada suami. Jika ia hendak menceraikannya, maka syariat membolehkannya dan jika masih berharap perubahan dari istrinya, maka syariat juga membolehkan. Tentunya, keduanya dilakukan dengan baik dan bijaksana.

Allah berfirman, “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (al Baqarah: 229)

b. Pertengkaran yang telah sampai kepada pukulan, cacian, dan hal-hal lain yang menggambarkan pertengkaran telah sampai pada puncaknya. Pertengkaran yang telah melahirkan perbuatan-perbuatan yang tidak boleh dilakukan, seperti menyakiti atau istri yang pulang ke rumah orang tua tanpa seizin suaminya.

c. Pertengkaran yang telah membabi buta, di mana masing-masing pihak menyalahkan pihak lain, dan hakim tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan salah.

d. Pertengkaran yang disebabkan oleh kedurhakaan istri dan gugatan cerai istri, namun sang suami tidak bersedia menceraikannya dan tidak bersedia menerima tebusan gugatan cerai istri.

Pertengkaran rumah tangga yang telah sampai pada kondisi kedua, ketiga, dan keempat di atas adalah pertengkaran yang mewajibkan mengundang juru damai. Karena Islam sangat menjaga ikatan tali pernikahan, Islam tidak menganjurkan perceraian yang hanya akan berdampak buruk kepada suami istri tersebut, bahkan anak-anak mereka. Oleh karena itu, diperlukan juru damai, yang akan mempelajari kondisi keluarga terkait, juru damai akan mengadakan pendekatan dengan masing-masing pihak, siapa tau pertengkaran mereka hanya buah dari kemarahan sesaat yang memuncak.

Hal ini ditegaskan oleh firman Allah :

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

“Dan jika kamu khawatirkan ada perseteruan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam [juru damai] dari keluarga laki-laki dan seorang hakam (juru damai) dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada pasutri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (an Nisa’ :35)

Imam al-Mawardi menegaskan, “Perseteruan suami istri bisa disebabkan kedurhakaan istri yang tidak mau melaksanakan kewajibannya terhadap suami, kemudian suami pun tidak mau menggaulinya dengan baik dan tidak mau menceraikannya dengan baik” (al-Hawi fi Fiqih Imam Syafi’i 9/601)

Siapa yang bisa menjadi juru damai?

Keberadaan juru damai sangatlah urgen, karena ia harus memiliki kemampuan untuk berdialog dan mengambil keputusan dengan bijak. Jika juru damai diserahkan ke sembarang orang, dikhawatirkan ia akan mengambil keputusan tanpa dasar ilmu sehingga hanya akan menzhalimi salah satu pihak. Karenanya, para ulama memberikan ketetapan bahwa juru damai yang akan mencari solusi atas cekcok dalam rumah tangga haruslah orang yang berakal, dewasa, beragama Islam, laki-laki, memiliki ilmu dan pengalaman, serta diutamakan dari keluarga suami dan istri.

Disebutkan dalam al-Mughni 8/167, “Juru damai harus orang yang berakal, dewasa, beragama Islam, tidak fasik”.

Orang yang telah ditunjuk menjadi juru damai, maka mereka berdua harus berkumpul dan bermusyawarah untuk mencari akar masalah dari percekcoan keluarga yang sedang ia tangani, jika memang hanya disebabkan oleh marah sesaat yang memuncak, maka mereka berdua harus berusaha untuk kembali menyatukan hubungan suami istri yang sedang cekcok. Dan jika memang kedua suami istri tidak bisa lagi disatukan, dan kemaslahatan ada pada perceraian mereka berdua, maka juru damai pun bisa memutuskan hubungan mereka berdua. Tentunya ini semua setelah juru damai mengadakan pertemuan dan dialog khusus dengan masing-masing pihak untuk menyelami masalah yang ada.

Haruskah juru damai didatangkan? Dan siapa yang mendatangkan?

Setelah mengetahui betapa pentingnya juru damai, dan kapan juru damai dibutuhkan serta siapa saja yang bisa menjadi juru damai, sekarang masih tersisa satu permasalahan, yaitu hukum mendatangkan juru damai dan siapa yang berhak mendatangkan juru damai? Kedua suami istri ataukah hakim (baca : pengadilan)?

Ketika cekcok dalam rumah tangga telah sampai puncaknya, telah sampai pada perbuatan yang tidak halal bagi mereka berdua untuk melakukannya, maka wajib bagi hakim untuk mendatangkan juru damai untuk mencari solusi yang lebih baik bagi kedua pasutri yang sedang bertengkar.

Hal ini berdasarkan pendapat jumhur ulama yang berdalil dengan adanya perintah dalam firman Allah “maka kirimlah seorang hakam [juru damai] dari keluarga laki-laki dan seorang hakam (juru damai) dari keluarga perempuan”. Dalam ayat ini terdapat perintah mendatangkan juru damai, dan perintah berarti menunjukkan wajibnya perkara yang diperintahkan, yaitu mendatangkan juru damai selama tidak ada dalil lain yang memalingkan dari hukum asal.

Selain itu, diriwayatkan oleh Imam ath-Thabari, Imam Abdur Razak, dan Imam Syafi’i bahwa saat terjadi pertengkaran antara Uqail bin Abi Thalib dan istrinya yaitu Fatimah bintu Utbah, kemudian Fatimah mengadu kepada Utsman, maka beliau mengutus Ibnu Abbas dan Mu’awiyah untuk menjadi juru damai, kemudian Ibnu Abbas berkata, “Niscaya aku akan meceraikan mereka berdua.” (Shahih fiqih Sunnah III/229).

Jika juru damai telah berusaha semaksimal mungkin untuk menghilangkan pertengkaran pasutri, maka juru damai berhak memutuskan hubungan pasutri –jika memang maslahat ada pada perceraian mereka berdua-, meskipun tanpa ridho suami istri tersebut.

Dari Ubaidah berkata, “Aku melihat Ali bin Abi Thalib ketika didatangi oleh pasutri yang sedang bertengkar dan masing-masing dari mereka mendatangkan sekelompok orang dari kedua belah pihak, maka Ali pun menunjuk seorang juru damai dari pihak laki-laki dan seorang juru damai lain dari pihak wanita lalu berkata kepada keduanya, “Tahukah kalian akan kewajiban kalian berdua? Jika kalian berdua memandang perlu menceraikan mereka berdua, ceraikanlah, dan jika kalian berdua memandang harus disatukan kembali, maka satukanlah mereka”. Lalu, sang suami berkata, “Jika perceraian, maka aku tidak mau,” Ali pun berkata, “Kamu dusta, kami akan terus melakukannya sampai kamu ridha dengan hukum Allah, baik keputusan itu memihak kepadamu atau tidak. Lalu sang istri pun berkata, “Aku ridha dengan hukum Allah, baik memihak kepadaku atau tidak.” (Diriwayatkan oleh Abdur Rozak, Imam al-Baghawi, an-Nasai, dan lainnya, lihat Shahih Fiqih Sunnah III/229).

Demikian, semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk selalu meniti jalan yang Allah ridhai dan menganugerahkan kepada kita rumah tangga yang harmonis, dalam bimbingan Islam dan penuah dengan sakinah, mawaddah, wa rahmah. (***)

Sumber: Majalah Sakinah Vol. 11 No. 9, Rubrik Fikih Keluarga, dengan Judul “Ketika Terjadi Cekcok Pasutri”

Tagged under: , , , ,

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top