<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majalah Nikah Sakinah</title>
	<atom:link href="http://majalahsakinah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majalahsakinah.com</link>
	<description>Inspirasi Rumah Tangga Islami</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 May 2012 03:00:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>7 (Tujuh) Rintangan Setan</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2012/05/7-tujuh-rintangan-setan/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2012/05/7-tujuh-rintangan-setan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 03:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[lentera]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1167</guid>
		<description><![CDATA[Allah ta&#8217;ala berfirman, يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (5) إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2012/05/lentera-7-rintangan-setan.jpg" alt="" width="584" height="311" />Allah ta&#8217;ala berfirman,<br />
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (5) إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ<br />
<em>“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”</em> (Fathir: 5-6)</p>
<p>Pada ayat di atas Allah menegaskan kepada segenap manusia bahwa janji Allah akan adanya hari kebangkitan dan pembalasan terhadap amal manusia di dunia adalah benar adanya, tidak ada keraguan sedikit pun padanya. Sebuah penegasan yang mengingatkan kita semua bahwa kehidupan kita di dunia ini hanyalah sementara, hanya sebagai jalan menuju kehidupan akhirat, kehidupan yang hakiki dan abadi. Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi setiap manusia untuk mempersiapkan diri mereka menyambut hari akhirat dengan bersegera memanfaatkan waktu-waktu yang ada sebagai ladang menanam amal-amal shalih untuk bekal di akhirat kelak.<br />
<span id="more-1167"></span><br />
Dan tatkala upaya meraih kebahagiaan akhirat itu tidak bisa tercapai kecuali dengan melewati dua buah rintangan besar; keindahan kehidupan dunia dan tipu daya setan, maka Allah pun memberikan peringatan kepada manusia agar tidak tertipu dan teperdaya dengan kehidupan dunia ataupun dengan tipu daya setan. Bahkan Allah memerintahkan manusia untuk menjadikan setan sebagai musuh utamanya, karena setan benar-benar telah nyata memusuhi manusia.</p>
<h2>Kenali Tipu Daya Musuh</h2>
<p>Allah ta&#8217;ala berfirman,<br />
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ<br />
<em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.”</em> (an-Nur: 21)</p>
<p>Dalam ayat ini, Allah melarang kita mengikuti langkah-langkah setan. Dari sinilah kita perlu memahami apa saja langkah-langkah setan atau tipu daya setan dalam menjerumuskan umat manusia dalam kesesatan, agar kita tidak teperdaya oleh setan, melakukan sesuatu yang disenangi setan tanpa kita sadari. Maka ketahuilah bahwa langkah-langkah setan adalah segala jalan yang dia tempuh untuk menyesatkan seseorang dari jalan yang benar, atau menjauhkan seseorang dari Allah ta&#8217;ala.</p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullah telah menjelaskan dalam kitab Madarijus Salikin, tentang jalan-jalan yang ditempuh oleh setan untuk menghalangi dan merintangi manusia dari penghambaannya kepada Allah ta&#8217;ala. Jalan atau rintangan itu sebagiannya lebih berat dibanding dengan yang lainnya. Jika setan gagal dengan rintangan terbesarnya, dia akan beralih kepada rintangan yang lebih kecil di bawahnya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Rintangan pertama</strong></span>, yaitu rintangan terbesar yang menghalangi seseorang dari penghambaannya kepada Allah. Rintangan ini adalah kekafiran terhadap Allah ta&#8217;ala, agama-Nya, hari akhir, sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan kafir terhadap segala sesuatu yang diberitakan oleh para Rasul-Nya dari Allah ta&#8217;ala. Jika setan berhasil pada rintangan ini, maka padamlah api permusuhannya terhadap manusia, dan dia akan beristirahat darinya. Namun jika dia gagal pada rintangan ini, dia akan beralih pada rintangan kedua.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Rintangan kedua</strong></span>, rintangan kebid&#8217;ahan, yaitu perkara-perkara baru dalam agama yang tidak pernah dituntunkan oleh agama ini. Kebid&#8217;ahan ini bisa berupa keyakinan yang menyelisihi kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam -, dan bisa juga berupa amalan-amalan ibadah baru atau dengan tata cara baru yang tidak pernah dituntunkan oleh syariat. Rintangan ini bisa dihadapi dengan memegangi hakikat mutaba&#8217;ah (peneladanan) yang benar kepada Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam -, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Rintangan ketiga.</strong></span> Jika seorang manusia melewati rintangan kedua, maka setan akan berusaha menjerumuskannya pada perbuatan dosa-dosa besar. Jika setan berhasil pada rintangan ini, maka dia akan menghias-hiasi dan memperindah dosa besar ini. Setan akan menipu daya manusia dan mengatakan; yang penting dalam keimanan adalah pembenaran saja, sedang amalan tidak akan bisa memengaruhi keimanan. Padahal Allah mengancam para pelaku dosa besar dengan berbagai siksaan, baik di dunia maupun di akhirat. Lalu jika Allah memberi taufik-Nya kepada seorang manusia sehingga dia terbebas dari dosa besar atau bertaubat darinya, maka setan akan tetap berusaha menghalanginya dengan rintangan berikutnya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Rintangan keempat</strong></span>, berupa berbagai perbuatan dosa kecil. Di sini, setan juga tetap melancarkan tipu dayanya, mengatakan bahwa engkau tidak akan mendapatkan bahaya dari dosa kecil ini selama engkau menjauhi dosa besar, dosa kecil ini akan mudah terhapus dengan amal-amal kebajikan. Dan berbagai tipu daya yang dilancarkan agar dia meremehkan dosa kecil ini sehingga terus-menerus melakukannya. Padahal, dosa kecil yang dilakukan secara terus-menerus akan menjadi lebih buruk dari pada dosa besar yang dilakukan oleh seseorang yang kemudian menyesal dan bertaubat darinya. Ketika setan gagal pada rintangan ini karena manusia yang diganggunya selalu berusaha menjaga diri dan berhati-hati, bertaubat dan istighfar, dan senantiasa mengiringi perbuatan buruk dengan kebaikan, maka setan terus berusaha dan beralih kepada rintangan berikutnya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Rintangan kelima</strong></span>. Pada rintangan ini, setan akan menggunakan perkara-perkara mubah yang pada asalnya tidak mengapa jika dilakukan. Akan tetapi setan berusaha menyibukkan manusia dengan memperbanyak perkara mubah sehingga dia lalai dari ketaatan kepada Allah, lalai dari bersungguh-sungguh dalam memperbanyak bekal menuju akhirat. Setan terus menyibukkan manusia dengan perkara mubah ini sehingga dia meninggalkan perkara yang sunah, kemudian meningkat meninggalkan perkara yang wajib, karena kesibukannya dengan perkara yang mubah pada asalnya. Seandainya seorang manusia mengetahui besarnya nilai akhirat yang tidak bisa dibandingkan dengan dunia, niscaya dia tidak akan melewatkan berbagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bahkan dia akan bersikap bakhil atas waktunya dan berusaha memanfaatkannya agar tidak berlalu tanpa keuntungan. Jika demikian keadaan seorang manusia, maka setan gagal pada rintangan ini dan beralih pada rintangan berikutnya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Rintangan keenam</strong></span>. Pada rintangan ini, setelah setan tidak berhasil membuat seorang manusia rugi dengan tidak mendapatkan pahala sama sekali, maka setan berusaha membuatnya rugi dari pahala yang sempurna. Setan akan menyibukkannya dengan amalan-amalan yang lebih rendah keutamaannya, sehingga dia meninggalkan amalan yang lebih besar keutamaan dan pahalanya, sehingga dia tidak mendapatkan pahala yang besar dan derajat yang tinggi. Dan tidak akan selamat dari rintangan ini kecuali orang-orang yang memiliki pemahaman mendalam tentang amalan dan tingkatan-tingkatannya di sisi Allah, mengetahui perbedaan tingkatan dari keutamaan setiap amalan. Dan tidak akan bisa mencapainya kecuali para ulama yang diberi taufik sehingga bisa menempatkan setiap amalan pada tempatnya yang sesuai.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Rintangan ketujuh</strong></span>. Jika setan tidak berhasil dengan keenam rintangan di atas, maka hanya tinggal satu cara untuk merintangi manusia. Rintangan terakhir ini berupa gangguan-gangguan yang diberikan oleh setan dan bala tentaranya baik dari kalangan jin dan manusia, baik berupa gangguan fisik, lisan maupun hati. Tidak akan ada seorang pun yang bisa lepas dari gangguan ini. Karena gangguan ini akan semakin besar dilancarkan oleh setan dan bala tentaranya ketika manusia semakin mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah. Seandainya ada yang bisa bebas dari rintangan ini, maka mereka itu adalah para nabi dan utusan Allah. Akan tetapi dengan adanya rintangan ini, seorang mukmin atau wali-wali Allah akan bisa beribadah kepada Allah dengan memerangi dan menghinakan musuh-musuh Allah. Karena tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah dibandingkan dengan penghinaan dan perendahan musuh-musuh Allah oleh wali-wali Allah. Wallahu a&#8217;lam. (***)</p>
<p><em><strong>Sumber: Rubrik Lentera, Majalah Nikah Sakinah Vol. 11 No. 2</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2012/05/7-tujuh-rintangan-setan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Majalah Sakinah Vol. 11 No. 2</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2012/05/majalah-sakinah-vol-11-no-2/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2012/05/majalah-sakinah-vol-11-no-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 02:54:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[beranda]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1161</guid>
		<description><![CDATA[Setan Musuh Kita! Saat iblis terusir dari surga karena pembangkangannya terhadap perintah Allah, iblis pun meminta tangguh dan bersumpah akan menggoda dan menjerumuskan Adam beserta anak cucunya agar menyimpang dari jalan yang lurus. Dan korban pertama tidak lain adalah nenek moyang kita, yaitu Adam dan Hawa. Mereka berdua terbujuk rayuan iblis sehingga mereka juga harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Setan Musuh Kita!</h2>
<p><a href="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2012/05/cover1205-350x519.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1162" title="cover1205-350x519" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2012/05/cover1205-350x519-202x300.jpg" alt="" width="202" height="300" /></a>Saat iblis terusir dari surga karena pembangkangannya terhadap perintah Allah, iblis pun meminta tangguh dan bersumpah akan menggoda dan menjerumuskan Adam beserta anak cucunya agar menyimpang dari jalan yang lurus.</p>
<p>Dan korban pertama tidak lain adalah nenek moyang kita, yaitu Adam dan Hawa. Mereka berdua terbujuk rayuan iblis sehingga mereka juga harus terusir dari surga. Tak cukup sampai di situ, iblis pun mengajak bala tentaranya dari kalangan setan untuk menggoda dan menggelincirkan anak cucu adam sampai hari kiamat.</p>
<p>Allah berfirman, mengingatkan kita, “&#8230;. dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah: 168)</p>
<p>Inilah peringatan Allah bagi manusia bahwasanya setan adalah musuh manusia yang sangat nyata.<br />
<span id="more-1161"></span><br />
Untuk itulah, Sakinah pada edisi ini menghadirkan bagaimana  menutup pintu-pintu masuknya setan dalam menggoda kita. Tak lupa kami kupas juga amalan-amalan apa saja untuk melawan tipu daya setan tersebut.</p>
<p>Pembaca sekalian, selanjutnya kami mohon maaf karena belum bisa menampilkan polling di website maupun facebook sebagaimana yang telah kami rencanakan sebelumnya. Sebab, setelah kami pertimbangkan lagi, kami putuskan untuk memuat jajak pendapat tersebut seperti jajak-jakak pendapat yang telah kami lakukan sebelumnya. Karena kami rasa ini lebih berbobot dibanding polling di dunia maya. Semoga saja kami bisa mewujudkan secepatnya.</p>
<p>Sebagi penutup, kami ingatkan bahwa keberadaan setan sebagai musuh kita merupakan ujian terberat bagi manusia. Sebab, setan bisa melihat kita tanpa kita bisa melihatnya. Allah berfirman,</p>
<p>“µHai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” (al-A&#8217;raf: 27)</p>
<p>Akhirnya, Selamat membaca! (***)</p>
<p>(*** Beranda Majalah Nikah Sakinah Vol. 11 No. 2 ***)</p>
<h2>Daftar isi Majalah Nikah Sakinah Vol. 11 No. 2</h2>
<p><img class="alignnone" title="daftar isi nikah sakinah vol 11 no 2" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/579525_349851648406304_123081537749984_985390_2142952118_n.jpg" alt="" width="450" height="689" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2012/05/majalah-sakinah-vol-11-no-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dia Bukan Lelaki Yang Kuharap</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2012/04/dia-bukan-lelaki-yang-kuharap/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2012/04/dia-bukan-lelaki-yang-kuharap/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2012 02:41:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasi keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1156</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Beberapa pekan yang lalu ana telah menikah dengan seorang ikhwan pilihan abi. Sebelum menikah dengannya, ana telah dikenalkan dengan seorang ikhwan yang sedang kuliah di Yordania. Ana sendiri belum pernah bertemu dengannya. Ana hanya mendapat kabar tentang dirinya dari seorang teman. Dan dari kabar yang ana terima, ana simpulkan bahwa kriterianya cocok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em><img class="aligncenter" title="konsultasikeluarga" src="http://photoserver.ws/images/JmEI4f98b3ee3704b.jpg" alt="" width="600" height="240" />Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.</em><br />
Beberapa pekan yang lalu ana telah menikah dengan seorang ikhwan pilihan abi. Sebelum menikah dengannya, ana telah dikenalkan dengan seorang ikhwan yang sedang kuliah di Yordania. Ana sendiri belum pernah bertemu dengannya. Ana hanya mendapat kabar tentang dirinya dari seorang teman. Dan dari kabar yang ana terima, ana simpulkan bahwa kriterianya cocok dengan idaman ana. Teman ana berkali-kali mengatakan bahwa ikhwan itu ingin secepatnya dikenalkan dengan keluarga ana. Seorang yang berpenghasilan tetap, dan insya Allah din-nya baik. Abi sangat menekankan agar ana menerimanya. Dan ana tidak kuasa menolak keinginan abi. Sebelum menikah, ana tidak pernah melihatnya. Maklum, malu. Setelah walimah, suami masuk menemui ana. Masyaallah ustadz, ana sangat terkejut melihat wajahnya dan posturnya. Dia sangat berbeda dengan bayangan ana selama ini. Namun ana tetap berusaha menerimanya dan melayaninya dengan pelayanan yang baik. Ana khawatir ia akan memahami bahwa ana agak canggung berjalan bersamanya.</p>
<p>Yang ingin ana tanyakan:<br />
1. Bolehkan seseorang memaksa diri menikah dengan orang yang tidak ia sukai, karena alasan tidak dapat menolak keinginan orang tua atau buat kemaslahatan bersama?<br />
2. Langkah apa yang harus ana tempuh agar kekhawatiran ana tidak terjadi?<br />
3. Ustadz, ana tidak ingin pernikahan ini berakhir dengan perceraian. Apalagi abi memilihnya karena dirinya agar kelak ia dapat memberikan tarbiyah dan riayah kepada ana. Hal ini yang membuat ana tidak kuasa menolak keinginan abi. Benarkah sikap ana ini ustadz?<br />
4. Apakah salah bila seorang akhwat memilih sendiri calon pasangan hidupnya?<br />
5. Bolehkah seorang akhwat memilih kriteria seorang suami menggabungkan antara ilmu, tampan, dan berpenghasilan?</p>
<p>Ustadz, walau baru beberapa pekan ana menikah, ana telah mendengar suara-suara sumbang dari teman-teman. Namun ana tetap berusaha sabar. Alhamdulillah tidak terlintas niat dalam hati ana untuk menuntut khulu’ (cerai). Ana berusaha ikhlas menerima takdir yang telah Allah tetapkan buat ana. Ana berdoa semoga dia laki-laki terbaik buat ana dan problem ini cepat berlalu.</p>
<p>Namun ana ingin meminta nasihat dari ustadz agar hati ini semakin teguh dan mantap untuk hidup bersamanya. Afwan ya ustadz, kalau risalah ini sangat panjang. Namun ana berharap ustadz berkenan memberikan nasihat dan jawabannya, karena jawaban ustadz ana harapkan dapat menjadi obat dan penawar hati. Serta dapat menghilangkan kerisauan ana selama ini.<br />
<em>Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.</em><br />
<em><strong> Hamba Allah</strong></em></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Jawab:</strong></span><br />
<em>Alhamdulillah, washshalatu wassalamu’ala Rosululillah</em><br />
Menurut pendapat yang rajih (lebih benar), bahwasanya wali tidak mempunyai hak untuk memaksakan kehendak agar anak perempuannya menikah dengan lelaki pilihan walinya bila perempuan itu telah berakal dan dewasa. Wali baik itu bapaknya sendiri atau yang menduduki kedudukannya tidak boleh menikahkannya kecuali dengan izin dan kerelaan perempuan tersebut. Kalau pun wali bersikeras untuk menikahkannya tanpa ada izin dan kerelaan perempuan tersebut dan langsung mengakadnya sendiri, maka pernikahannya di anggap batal. Hal ini berdasarkan beberapa dalil berikut ini:</p>
<p>1. Sabda Nabi, “Janda tidak boleh dinikahkan kecuali dengan persetujuannya, dan perawan tidak boleh dinikahkan kecuali dengan izinnya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana izinnya?” Beliau bersabda, “Diamnya.” (Riwayat Bukhari dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah). Imam Bukhari memberikan penjelasan terhadap hadits ini dengan ucapannya. Bab Laa yankihu al-Abbu wa ghairuhu al-Bikra wa ats-Tsayyiba illa bi radhaahuma (Bab bapak kandung dan yang lainnya tidak boleh menikahkan seorang perawan dan janda kecuali dengan kerelaan mereka berdua). Ibnu Hajar al-Asqalani menerangkan, hadits ini menunjukkan bila wali tidak boleh memaksanya-perawas-jika ia telah baligh.</p>
<p>2. Nabi bersabda, “Janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya. Perawan diminta izinnya, dan izinnya adalah diamnya.” (Riwayat Muslim dari Ibnu Abbas). Hadits ini juga diriwayatkan Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Darimi, dan Baihaqi. Imam Syaukani menegaskan, yang jelas hadits-hadits dalam bab ini menunjukkan kalau anak perempuan yang telah baligh jika dinikahkan tanpa kerelaannya dan izinnya maka akadnya tidak sah. (lihat Nailul Authar VI/123). Jadi, wali tidak mempunyai kekuasaan untuk memaksa menikah atas perawan yang telah baligh, dan ia tidak boleh dinikahkan kecuali dengan izinnya. Oleh karena itu, bila tetap dinikahkan, akad pernikahannya tidak sah.</p>
<p>3. Dari Ibnu Abbas, bahwasanya ada seorang perempuan perawan datang menghadap Nabi, lalu mengadukan kalau bapaknya telah menikahkannya dengan lelaki yang tidak disukainya, maka beliau memberikan pilihan kepadanya.(riwayat Abu Dawud). Di dalam penjelasannya disebutkan “Hadits ini menunjukkan seorang bapak kandung diharamkan memaksa anak perempuannya yang telah dewasa dan berakal untuk menikahkan dengan lelaki yang tidak disukainya. Demikian pula wali yang menduduki kedudukan bapak, tentu terlebih lagi.</p>
<p>Berdasarkan ini, maka tidak boleh seorang perempuan yang telah dewasa menerima paksaan walinya untuk menikah dengan seseorang yang tidak dikehendaki dan tidak disukainya. Karena pernikahan yang demikian itu tidak sah dan tidak boleh dilanjutkan. Sebab hal ini bertentangan dengan larangan yang dilarang syariat. Oleh karena itu umat ini dituntut untuk tidak mencampuradukkan da melakukannya.</p>
<p>Di sisi lain, ketidaktenangan batin seorang perempuan yang dengan terpaksa menerima pernikahan ini bisa menjadi bom waktu yang dapat meledak di kemudian hari. Mungkin sekarang ia bisa mencoba menerima dan berlapang dada. Namun di suatu saat nanti seiring dengan bertumpuknya masalah rumah tangga yang datang silih berganti, semua itu akan dapat menjadi pemicu kehancuran rumah tangga yang tidak dibangun dengan kerelaan hati salah satu pihak dari pihak suami istri. Sehingga hal ini juga berdampak tidak terwujudnya kemaslahatan yang diinginkan.</p>
<p>Di pihak lain, sebenarnya diadakannya wali dalam syariat itu tujuannya adalah untuk mewujudkan kemaslahatan perempuan yang berada di bawah pengampuannya, bukan untuk mencelakakannya dan mengakibatkannya terjerumus dalam bahaya. Seperti dengan menikahkannya secara paksa. Karena itu syari’at melarang pernikahan seperti ini dan menyatakannya tidak sah, dan harus dianulir. Demikianlah prinsipnya.</p>
<p>Dalam pernikahan seorang perempuan, memang wali mempunyai “kewajiban mencarikan” pasangan yang agama dan budi pekertinya bagus. Namun bukan berarti ia tidak boleh menempuh “jalur lain” guna mendapatkan lelaki yang berkriteria semacam itu. Atau, ditambah kriteria lain yang diidamkannya, seperti berpenghasilan mapan, tampan, dan sebagainya. Dan memang ia harus harus memilih, bukan sekadar pasrah. Namun hendaknya dalam memilih ini disertai pertimbangan-pertimbangan lain yang sesuai dengan keadaan diri perempuan tersebut. Jangan sampai karena idealisnya itu mengakibatkannya menunda-nunda pernikahannya dan menjadikannya perawan tua tanpa suami di sisinya. Segala sesuatu sebaiknya menurut kewajaran.</p>
<p>Rasulullah memberikan bimbingan utama agar memilih yang kuat agamanya, karena ia dapat mengantarkan istri kepada kepada kebahagiaan. Adapaun kalau ada kekurangan di sana sini, maka Allah berfirman, “Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu,padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa’:19)</p>
<p>Jadi kalau seorang perempuan telah mendapatkan seorang lelaki yang disebut Rasulullah sebagai “man tardhauna diinahu wa khuluqahu” (seorang yang bagus agama dan perangainya), maka hendaklah ia tetap bersabar untuk tetap mendampinginya, karena insya Allah kebahagiaan telah bersamanya. Wallahu a’lam bishshawab.(***)</p>
<p>Diambil dari konsultasi keluarga Majalah Nikah Vol. 3 No. 3, Juni 2004</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2012/04/dia-bukan-lelaki-yang-kuharap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keagungan Amalan Hati</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2012/04/keagungan-amalan-hati/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2012/04/keagungan-amalan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Apr 2012 07:37:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[lentera]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1150</guid>
		<description><![CDATA[“Sesungguhnya dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik maka akan baik seluruh tubuh, namun jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah qalbu (jantung).” Demikian Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- mempermisalkan hati (batin) seorang manusia dengan jantung yang bisa memengaruhi baik buruknya seluruh anggota tubuh yang lain. Karena memang hati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2012/04/lentera1204.jpg"><img class="size-full wp-image-1152 aligncenter" title="lentera1204" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2012/04/lentera1204.jpg" alt="" width="550" height="305" /></a></p>
<p style="text-align: center;">“Sesungguhnya dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik maka akan baik seluruh tubuh, namun jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah qalbu (jantung).”</p>
<p>Demikian Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- mempermisalkan hati (batin) seorang manusia dengan jantung yang bisa memengaruhi baik buruknya seluruh anggota tubuh yang lain. Karena memang hati juga bisa memengaruhi baik buruknya amalan seseorang. Jika hati seseorang baik dan sehat, maka akan membuahkan amalan yang shalih. Sebaliknya, ketika hati itu sakit, atau bahkan mati, maka akan membuahkan amalan-amalan buruk.</p>
<h2>Antara Mukmin dan Munafiq</h2>
<p>Oleh karena itu, seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak hanya memperhatikan amalan-amalan lahiriah semata tanpa amalan-amalan batin. Bahkan mereka mengetahui dengan yakin bahwa amal shalih itu memiliki timbangan batin sebagaimana juga memiliki timbangan lahiriah.</p>
<p>Para ulama telah menjelaskan bahwa hakikat amal shalih adalah amal yang murni ditujukan kepada Allah (ikhlas) dan amal yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-. Maka keikhlasan dalam amalan itulah sebagai timbangan batin, sebagaimana kesesuaian dengan tuntunan Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- merupakan timbangan lahiriah bagi amal shalih.</p>
<p>Adapun orang-orang munafik, maka mereka adalah orang-orang yang secara lahiriah melakukan amalan-amalan kaum muslimin, namun secara batin mereka kosong dari keimanan terhadap Allah -subhanahu wa ta&#8217;ala-.</p>
<h2>Hati Adalah Raja</h2>
<p>Pengaruh hati terhadap baik buruk amalan manusia, tidak lain karena hati adalah bagaikan raja bagi seluruh anggota tubuh. Seorang yang sadar dan berakal tidak akan melakukan suatu amalan kecuali karena ada dorongan dari dalam hatinya. Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<p>إِنَّمَا اْلأَعْماَلُ بِالنِّيَّاتِ<br />
“Sesungguhnya amalan-amalan itu dengan niatnya.” (Muttafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Di antara penjelasan para ulama tentang makna hadits ini bahwa seluruh amalan itu terjadi dengan niat. Maka tidak ada satu amal pun yang dilakukan dengan kesadaran manusia tanpa disertai dengan niat. Ada juga yang menjelaskan maksudnya bahwa baik buruk amalan seorang manusia itu tergantung pada niatnya.</p>
<p>Apapun penjelasan yang disampaikan para ulama tentang hal ini yang jelas niat yang bertempat dalam hati manusia sangat memengaruhi amalan seseorang baik dari sisi keberadaan amalan itu atau dari sisi baik buruknya amalan tersebut. Dan ini jelas menunjukkan akan keagungan hati manusia dan pentingnya kita memperhatikan hati kita dan amalan-amalan hati kita.</p>
<h2>Hati Asas Keimanan</h2>
<p>Hal lain yang menunjukkan akan keagungan hati dan amalan-amalannya, adalah keberadaan hati itu sebagai asas dari keimanan. Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa keimanan meliputi keyakinan hati, amalan hati, perkataan lisan dan amalan anggota badan, maka hati merupakan landasan bagi tegaknya keimanan. Tidak akan mungkin tegak keimanan seseorang tanpa adanya keyakinan hati dan amalan hati.</p>
<p>Maka hati bukan semata raja bagi anggota tubuh manusia, bahkan lebih dari itu, hati adalah sumber dari amalan-amalan lahiriah dan pondasi bagi baik buruknya amalan tersebut. Jika kehendak hati berlandaskan keimanan, maka perbuatan lahiriah pun merupakan keimanan. Jika kehendak hati berlandaskan kekufuran, kemunafikan atau kemaksiatan, maka amalan lahiriah pun akan menjadi semisalnya.</p>
<p>Banyak dalil yang telah menunjukkan hal ini, salah satunya firman Allah -subhanahu wa ta&#8217;ala-,<br />
أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ<br />
“Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya.” (al-Mujadilah: 22)</p>
<p>Mereka yang dimaksud adalah orang-orang yang merealisasikan syariat wala dan bara, dan ternyata apa yang mereka lakukan itu dikarenakan telah ada keimanan dalam hati mereka. Maka jelas bahwa keimanan yang ada dalam hati adalah landasan bagi keimanan yang terpancar secara lahiriah.</p>
<h2>Macam-macam Amalan Hati</h2>
<p>Sangat banyak amalan hati yang harus kita perhatikan, seperti ikhlas, jujur, cinta, pengagungan, rasa takut, rasa harap, tawakkal, ketundukan, penerimaan, sabar, ridha, berserah diri, taubat, muraqabah dan lain-lain sebagainya.</p>
<p>Semua amalan-amalan hati itu akan menjadi amalan yang baik jika ditujukan hanya kepada Allah -subhanahu wa ta&#8217;ala- semata. Karena dengan dtujukannya kepada Allah dan karena Allah, jadilah amalan itu sebagai ibadah kepada-Nya. Namun jika ditujukan kepada selain-Nya maka akan menjadi bentuk kesyirikan kepada Allah -subhanahu wa ta&#8217;ala-, yang akan bisa membinasakan pelakunya. Allah -subhanahu wa ta&#8217;ala- berfirman,</p>
<p>وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ<br />
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa mereka dengan kecintaan yang mereka tujukan kepada selain Allah telah menjadikan mereka terjerumus ke dalam perbuatan syirik kepada Allah -subhanahu wa ta&#8217;ala-. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka mentauhidkan Allah dalam kecintaan mereka. Dan demikian pula dalam amalan hati lain seperti rasa takut dan rasa harap.</p>
<p>Jika kecintaan, rasa takut, rasa harap seseorang hanya ditujukan kepada Allah, sebagaimana amalan-amalan hati lainnya ditujukan hanya kepada Allah dan karena Allah, maka amalan hati itu akan mendorongnya mewujudkan peribadahan lahiriah kepada Allah dengan sebaik-baik bentuknya.</p>
<h2>Masuk surga dengan amalan hati</h2>
<p>Jika kita menilik perjalanan hidup orang-orang shalih yang ada pada generasi terdahulu, niscaya akan mudah kita dapatkan banyak contoh nyata yang menunjukkan akan besarnya pengaruh kebaikan hati dan amalan hati manusia terhadap keshalihannya. Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- pernah bersabda,</p>
<p>إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ<br />
“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada orang yang seandainya bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (Muttafaq &#8216;alaih)<br />
Dan beliau -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- juga bersabda,<br />
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ<br />
“Maukah aku beri tahu kalian tentang ahli surga. Dia adalah setiap orang yang lemah dan tawadhu&#8217;, seandainya dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Dia akan meluluskan sumpahnya.” (Muttafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Para ulama telah menjelaskan hadits ini dengan berbagai macam penjelasan. Ada di antara mereka yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan orang yang lemah adalah orang yang memiliki sikap tawadhu&#8217;, yang bersikap rendah hati. Ibnu Khuzaimah pernah ditanya tentang maksud orang yang lemah dalam hadits di atas, maka beliau menjawab, dia adalah orang yang berlepas diri dari kekuatan dan daya upaya, sebanyak dua puluh sampai lima puluh kali setiap harinya. Sedangkan al-Kirmani maksudnya adalah orang yang tawadhu&#8217; dan merendahkan diri. Al-Qadhi berkata, kelemahan yang ada dalam hadits ini bisa juga bermakna kelembutan dan kehalusan hati, dan ketundukannya terhadap keimanan.</p>
<p>Bagaimanapun juga, hadits ini menunjukkan bahwa para penduduk surga ketika mereka hidup di dunia memiliki amalan hati yang luar biasa sehingga hati-hati mereka menjadi lembut dan Allah pun menjadi sangat dekat dengan mereka, jika mereka bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan meluluskan sumpahnya. Wallahu a&#8217;lam. (***)</p>
<p><em><strong>Artikel</strong> <strong>Rubrik Lentera Majalah Sakinah Vol. 11 No. 1</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2012/04/keagungan-amalan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikah Sakinah Vol. 11 No. 1</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2012/04/nikah-sakinah-vol-11-no-1/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2012/04/nikah-sakinah-vol-11-no-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 06:13:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[beranda]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1138</guid>
		<description><![CDATA[Seberapa Dalam Ikhlas Kita? Pembaca Sakinah yang dimuliakan Allah, sesungguhnya prinsip terpenting dalam agama kita adalah terwujudnya keikhlasan kepada Allah ta&#8217;ala dalam setiap ibadah, dan menghindari segala hal yang membatalkannya, baik riya’, sum’ah, ‘ujub, dan lain sebagainya. Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amalan, di samping amalan tersebut harus sesuai tuntunan Nabi –shallallahu &#8216;alaihi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Seberapa Dalam Ikhlas Kita?</h2>
<p><img class="alignleft" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2012/04/cover1204-350x519.jpg" alt="" width="210" height="311" />Pembaca Sakinah yang dimuliakan Allah, sesungguhnya prinsip terpenting dalam agama kita adalah terwujudnya keikhlasan kepada Allah ta&#8217;ala dalam setiap ibadah, dan menghindari segala hal yang membatalkannya, baik riya’, sum’ah, ‘ujub, dan lain sebagainya. Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amalan, di samping amalan tersebut harus sesuai tuntunan Nabi –shallallahu &#8216;alaihi wa sallam–. Tanpa ikhlas, amalan jadi sia-sia belaka.</p>
<p>Ibnu Qayyim rahimahullah berkata. ”Sesungguhnya niat itu laksana ruh, sedangkan amalan itu laksana badan, dimana kalau ruh itu meninggalkannya maka akan mati.”</p>
<p>Selanjutnya, beliau rahumahullah memberikan nasihat yang sangat indah tentang ikhlas, “Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi –shallallahu &#8216;alaihi wa sallam– bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.”</p>
<p>Untuk itu, kami juga mengupas tentang ikhlas ini terkait dengan niat dalam pembahasan kali ini (bisa disimak dalam rubrik “Fikih Keluarga”). Benar, ikhlas merupakan amalan hati yang seharusnya seorang muslim melatih dan mengasahnya.</p>
<p>Selain itu, ikhlas mempunyai tanda- tanda. Setidaknya ada 3 tanda ikhlasnya seseorang dalam beramal. Yang pertama adalah berusaha menyembunyikan amalan shalih,  yang kedua khawatir pada popularitas (ketenaran), dan yang terakhir merasa diri penuh kekurangan dalam beramal</p>
<p>Nah, setelah mengetahui tanda-tanda tersebut, kita semua bisa melihat pada diri kita sendiri, seberapa dalam ikhlas kita dalam beramal shalih, sehingga kita akan selalu berusaha memperbaiki dan meningkatkan keikhlasan kita.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Diterimanya suatu amalan berkaitan dengan melakukan sesuatu sesuai dengan yang diperintahkan. Setiap orang yang bertakwa pada Allah ketika ia beramal, maka ia akan melakukan sebagaimana yang diperintahkan. Akan tetapi ia tidak bisa memastikan sendiri bahwa amalan yang ia lakukan diterima di sisi Allah karena ia tidak bisa memastikan bahwa amalan yang ia lakukan sudah sempurna.”</p>
<p>Inilah yang membuat para salaf begitu khawatir dengan tidak diterimanya amalan mereka karena mereka sendiri tidak bisa memastikan sempurnanya amalan mereka.</p>
<p>Semoga sajian kali ini membawa manfaat bagi kita semua, tak lupa kritik dan saran selalu kami nantikan.</p>
<p>(*** Beranda Majalah Nikah Sakinah Vol. 11 No. 1 ***)</p>
<p><strong>DAFTAR ISI MAJALAH NIKAH SAKINAH VOL. 11 NO. 1</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/558012_330801543644648_123081537749984_940168_8531449_n.jpg" alt="" width="474" height="726" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2012/04/nikah-sakinah-vol-11-no-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikah Sakinah Vol. 10 No. 12</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2012/03/nikah-sakinah-vol-10-no-12/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2012/03/nikah-sakinah-vol-10-no-12/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2012 07:35:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[beranda]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1127</guid>
		<description><![CDATA[Bijak Mengatur Waktu Memang, tidaklah sama saat seorang wanita masih membujang dibanding dengan para ibu (termasuk ibu muda). Setidaknya, para ibu punya lebih banyak tugas dan beban yang perlu diselesaikan bagi rumah tangga masing-masing. Apakah pembaca juga merasakan dan mengalaminya? Beruntunglah bagi wanita saat masih bujang, sudah terbiasa mengatur waktu. Ketika berkeluarga, insya Allah dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Bijak Mengatur Waktu</h2>
<p><a href="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2012/03/cover-Sakinah-maret2012-forweb.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1132" title="cover-Sakinah-maret2012-forweb" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2012/03/cover-Sakinah-maret2012-forweb.jpg" alt="Cover majalah sakinah vol 10 no 12" width="221" height="327" /></a>Memang, tidaklah sama saat seorang wanita masih membujang dibanding dengan para ibu (termasuk ibu muda). Setidaknya, para ibu punya lebih banyak tugas dan beban yang perlu diselesaikan bagi rumah tangga masing-masing. Apakah pembaca juga merasakan dan mengalaminya?</p>
<p>Beruntunglah bagi wanita saat masih bujang, sudah terbiasa mengatur waktu. Ketika berkeluarga, insya Allah dia akan lebih bisa mengelola waktu, meski beban yang diemban semakin banyak. Namun, bagaimana dengan wanita yang kurang bisa mengatur waktu atau selalu “kewalahan” melawan waktu?</p>
<p>Untuk itulah, pada edisi ini kami tampilkan “Sosok Wanita &#8216;Penakluk&#8217; Waktu”. Semoga dengan pembahasan ini, para ibu muslimah lebih bisa mengatur waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka. Dan yang paling penting, banyaknya kesibukan dan pekerjaan tidak membuat para ibu lalai atau bahkan lupa terhadap kewajiban/ibadah mereka. padahal, seorang ibu memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk beribadah. Lho kok bisa? Penasaran? Silakan simak pembahasannya pada rubrik “Lentera 2”.</p>
<p>Pembaca, insya Allah dalam waktu dekat kami akan mengadakan polling, meski secara online (melalui website/facebook kami). Kami mengharapkan partisipasi dari pembaca sekalian, demi kebaikan majalah kesayangan kita ini. Semoga ke depannya Sakinah semakin melekat di hati pembaca dan tetap istiqamah dalam menebarkan kebenaran.</p>
<p>Sebagai penutup,marilah kita resapi perkataan Ibnu Mas’ud -radhiyallahu &#8216;anhu- berikut ini, “Tidaklah aku menyesali atas sesuatu seperti penyesalanku atas berlalunya satu hari dan mataharinya terbenam, umurku berkurang, akan tetapi tidak bertambah amalanku pada hari itu.”<br /> Selamat membaca!</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Beranda Majalah Sakinah Vol. 10 No. 12</strong></span></p>
<p><img class="alignnone" title="Daftar isi majalah sakinah vol 10 no 12" src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/427129_310752785649524_123081537749984_881874_818525337_n.jpg" alt="Daftar isi majalah sakinah vol 10 no 12" width="375" height="605" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2012/03/nikah-sakinah-vol-10-no-12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bertaubat dari Pacaran</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2012/02/bertaubat-dari-pacaran/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2012/02/bertaubat-dari-pacaran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Feb 2012 02:34:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[pra nikah]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[pacaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1121</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu &#8216;alaikum, Sakinah, mohon maaf saya ingin bertanya tentang sesuatu. Saya (21th) saat ini berpacaran dan pernah berhubungan seks dengannya. Setelah melakukan kesalahan itu, saya menyadarinya sehingga saya tidak pernah mengulanginya lagi. Namun sampai sekarang status kami masih pacaran. Lambat laun saya menyadari bahwa berpacaran yang saya lakukan sebenarnya sangat tidak disukai Allah walaupun tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu &#8216;alaikum, Sakinah, mohon maaf saya ingin bertanya tentang sesuatu. Saya (21th) saat ini berpacaran dan pernah berhubungan seks dengannya. Setelah melakukan kesalahan itu, saya menyadarinya sehingga saya tidak pernah mengulanginya lagi. Namun sampai sekarang status kami masih pacaran.<br />
Lambat laun saya menyadari bahwa berpacaran yang saya lakukan sebenarnya sangat tidak disukai Allah walaupun tidak sampai berhubungan seks. Sebenarnya kami pun sekarang tidak pernah bersentuhan jika bertemu. kami juga sangat jarang bertemu. Kami hanya komunikasi lewat sms saja.<br />
Sebenarnya saya ingin sekali putus supaya saya bisa lebih dekat ke Allah dan mohon ampun atas dosa-dosa saya dahulu. Tapi, saya udah berulang kali minta putus, namun dia tidak mau. Alasannya, dia yang telah merenggut kesucian saya, maka dia juga yang menikahi saya.<br />
Selain itu, dia juga mengaku sangat mencintai saya dan gak bisa berpindah ke lain hati.  Sebenarnya, dia udah pengin banget nikahin saya, tapi karena masih kuliah dan belum punya kerja, kami belum diperbolehkan menikah oleh ortu kedua belah pihak.<br />
<span id="more-1121"></span><br />
Jika saya minta putus ke dia, biasanya dia gak mau &amp; menjadi sangat sedih. Dia bilang,  selama ini semangat kuliah karena saya. Hal itu kadang membuat saya jadi kasian sama dia sekaligus kasian juga sama ortunya jika dia hancur kuliahnya cuma gara-gara saya putusin.</p>
<p>Selain itu, jika saya putusin pacar saya, saya juga jadi ga enak sama ortu dia, sebab kami udah kenal deket dan mereka udah setuju banget jika nanti saya yang jadi menantu mereka.</p>
<p>Sebenarnya, jika mutusin dia, saya bukan berharap supaya sata dapat yang lebih baik dari  dia. Sama sekali bukan. Saya cuma ingin gak pacaran lagi supaya lebih dekat sama Allah,  karena pacaran ini membuat saya terkadang gelisah jika tidak mendapat kabar darinya. Tapi di sisi lain, saya bimbang atas dua hal di atas. Selain itu, masa&#8217; orang yang udah mau tanggung jawab dengan ketidakperawanan saya, sy sia-siakan??</p>
<p>Saya takut, jika nanti akhirnya kami benar-benar putus, dia akan menikah dengan wanita lain karena dia menganggap saya tidak mencintainya. Sebenarnya saya sangat ingin menikah dengannya. Namun saya hanya tak mau pacaran dengannya. Menurut Sakinah  bagaimana? Apakah:<br />
a. Saya tetap mutusin pacar supaya lebih dekat sama Allah<br />
b. Saya gak mutusin pacar, tapi kami saling bantu seperti layaknya sahabat sampai kami nikah setelah lulus? (Tapi masih sekitar 2,5 thn lagi).<br />
c. Atau ada pendapat lain?<br />
Mohon penjelasannya, karena saya sangat bingung. Terima kasih.</p>
<p><em><strong>JAWABAN:</strong></em></p>
<p>Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh, Bismillahirrahmanirrahim.<br />
Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang senantiasa setia mengikuti ajarannya yang lurus hingga hari kiamat.<br />
Saudariku, semoga Allah merahmati Anda, setelah membaca semua apa yang Anda ceritakan di atas, kami nasihatkan kepada Anda dan pacar Anda agar segera bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha, memperbanyak istighfar (minta ampunan) kepada-Nya atas segala perbuatan dosa yang pernah Anda berdua lakukan, serta bersungguh-sungguh dalam menjalan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala tatkala menyebutkan beberapa sifat orang-orang yang bertakwa:<br />
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)<br />
<em>“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”</em> (Ali ‘Imran: 135-136)<br />
Dan firman-Nya pula:<br />
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا (17)<br />
<em>“Sesungguhnya Taubat di sisi Allah hanyalah Taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang Kemudian mereka bertaubat dengan segera, Maka mereka Itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”</em> (An-Nisa’: 17)</p>
<p>Maka dari itu, sejak sekarang juga hendaknya Anda berhenti dari berpacaran dengan siapa pun (baik bertemu secara langsung maupun melalui telepon, sms, chatting atau lainnya), dan menjauhi segala hal yang akan menjerumuskan diri Anda ke dalam perbuatan keji (zina) dan mungkar. Dengan demikian, mudah-mudahan Allah menerima taubat Anda dan mengampuni segala kesalahan dan dosa yang telah lalu. Allah Ta’ala berfirman,<br />
وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا<br />
<em>“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.”</em> (Al-Isra’ : 32)</p>
<p>Janganlah Anda tertipu atau terlena dengan pengakuan pacar Anda yang menyatakan bahwa dia sangat mencintai dan menyayangi Anda, padahal Anda belum halal baginya. Sebab, ini akan membuat Anda sulit untuk terbebas dari jerat-jerat setan, sehingga menghalangi Anda dari taubat nashuha. Di samping itu, berlarut-larut dalam dosa dan maksiat akan membuat hidup Anda penuh dengan kegelisahan, kesedihan dan kesempitan, serta hati pun hampir-hampir tak pernah merasakan ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki.<br />
Sebab, tatkala Anda bertemu dan berdekatan dengan pacar Anda, hati Anda merasa khawatir akan kehilangan dan berpisah dengannya. Begitu pula ketika Anda berpisah dan berjauhan dengan pacar Anda, hati Anda pun merasa rindu yang sangat untuk segera berjumpa dan berdekatan dengannya. Demikianlah keadaan hati orang yang berpacaran (berbuat maksiat) sebagai pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh dosa dan maksiat. Allah Ta’ala berfirman,<br />
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا<br />
<em>“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit&#8221;.</em> (QS. Thaaha: 124)</p>
<p>Sedangkan ketenangan dan kebahagiaan hidup, serta lapangnya dada hanya diperoleh dengan jalan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala semata. Sebagaimana firman-Nya:<br />
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (28)<br />
<em>“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”</em> (Ar-Ra’d: 28)</p>
<p>Adapun keinginan pacar Anda untuk segera menikahi Anda sebagai bentuk tanggung jawabnya, namun tidak disertai dengan adanya kemampuan memberikan nafkah secara lahir dan batin, maka yang demikian ini tidak sesuai dengan bimbingan Islam dalam pernikahan. Sebab, keadaan seperti itu akan menimbulkan banyak kerusakan dan akan mengurangi keharmonisan dalam berumah tangga. Apalagi kedua orang tua masing-masing belum mengizinkan atau merestui pernikahan Anda berdua, tentu ini sangat dilarang.</p>
<p>Oleh karena itu, hendaknya Anda dan pacar Anda memperbaiki keadaan masing-masing dengan bertaubat kepada Allah, menghiasi diri Anda dengan akhlak dan adab Islami yang mulia, serta memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada Anda calon suami yang sholih dan hidup bahagia di dunia dan akhirat.</p>
<p>Jika Anda berdua telah bertaubat, maka dengan izin Allah, Anda berdua akan dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang baik-baik, dan berhak mendapatkan pendamping hidup yang baik-baik pula. Allah Ta’ala berfirman,<br />
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ<br />
<em>“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).”</em> (An-Nuur: 26)<br />
Demikian jawaban atas pertanyaan yang dapat kami sampaikan. Semoga dapat menyelesaikan problem yang sedang Anda hadapi, dan menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat. Wallahu Ta’ala A’lam bish-showab.</p>
<p><em><strong>Artikel Majalah Nikah Sakinah rubrik Konsultasi Pra Nikah</strong></em><br />
<em><strong>Dijawab oleh: Muhammad Wasitho, Lc</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2012/02/bertaubat-dari-pacaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikah Sakinah Vol. 10 No. 11</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2012/02/nikah-sakinah-vol-10-no-11/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2012/02/nikah-sakinah-vol-10-no-11/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 02:32:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[beranda]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1111</guid>
		<description><![CDATA[Setahun shalat 2 kali!? Sungguh menyedihkan dan patut disayangkan kondisi saudara-saudara kita seiman. Tidak sedikit di antara mereka menganggap remeh perkara shalat. Sebagai contoh, shalat mereka bolong-bolong alias tidak penuh dalam sehari. Atau, mereka shalat ketika hari raya tiba. Artinya, dalam stahun mereka cuma shalat 4 rakaat! Semoga ini tidak terjadi pada diri kita, naudzubillahi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Setahun shalat 2 kali!?</h2>
<p><img class="alignright" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/405349_290592654332204_123081537749984_832317_93074875_n.jpg" alt="majalah nikah sakinah vol.10 no.11" width="210" height="312" />Sungguh menyedihkan dan patut disayangkan kondisi saudara-saudara kita seiman. Tidak sedikit di antara mereka menganggap remeh perkara shalat. Sebagai contoh, shalat mereka bolong-bolong alias tidak penuh dalam sehari. Atau, mereka shalat ketika hari raya tiba. Artinya, dalam stahun mereka cuma shalat 4 rakaat! Semoga ini tidak terjadi pada diri kita, naudzubillahi min dzalik!</p>
<p>Padahal, sudah semestinya shalat lima waktu itu dijaga. Sebab, barangsiapa yang selalu menjaganya, berarti ia telah menjaga agamanya. Sebaliknya, barangsiapa menyia-nyiakannya, maka tentulah amalan-amalan lain akan lebih disia-siakan.</p>
<p>Hal ini sesuai perkataan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu &#8216;anhu, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“</p>
<p>Demikian juga Imam Ahmad rahimahullah, beliau mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agamanya. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktunya. Kenalilah dirimu, wahai Abdullah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.”</p>
<p>Untuk itu, pada edisi ini Sakinah menyuguhkan tema tentang fenomena penyia-nyiaan shalat oleh kaum muslimin. Semoga pembahasan ini mampu memberikan pencerahan dan penggugah hati bagi saudara-saudara kita yang terlalai dalam shalatnya. Selamat membaca!<br />
<em><strong> (Beranda Majalah Nikah Sakinah Vol. 10 No. 11)</strong></em></p>
<p><em><strong>DAFTAR ISI</strong></em></p>
<p><img src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/399874_290647340993402_123081537749984_832355_1198196423_n.jpg" alt="Daftar isi majalah nikah sakinah vol 10 no 11" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2012/02/nikah-sakinah-vol-10-no-11/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suami Bejat Bagamana Istri Bersikap?</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2012/01/suami-bejat-bagamana-istri-bersikap/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2012/01/suami-bejat-bagamana-istri-bersikap/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 03:22:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[fikih keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[suami istri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1094</guid>
		<description><![CDATA[Setiap wanita yang shalihah pasti mendambakan pasangan hidup dari laki laki yang shalih, sehingga ia dapat memimpinnya serta menuntunnya menuju surga Allah. Sebab, suami adalah imam bagi rumah tangga, jika ia baik niscaya kondisi rumah tangga akan menjadi baik, namun jika ia fasik maka akan terjadi ketimpangan agama dan akhlak pada keluarga tersebut, bisa jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2012/01/fikihkeluarga.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1099" title="fikihkeluarga" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2012/01/fikihkeluarga.jpg" alt="" width="300" height="240" /></a>Setiap wanita yang shalihah pasti mendambakan pasangan hidup dari laki laki yang shalih, sehingga ia dapat memimpinnya serta menuntunnya menuju surga Allah. Sebab, suami adalah imam bagi rumah tangga, jika ia baik niscaya kondisi rumah tangga akan menjadi baik, namun jika ia fasik maka akan terjadi ketimpangan agama dan akhlak pada keluarga tersebut, bisa jadi kesyirikan menjadi keyakinan dan maksiat menjadi kebiasaan. Untuk itu, tentunya wanita yang shalihah tidak layak mendapat pemimpin yang seperti ini. Allah Ta’ala dalam Al Quran telah memerintahkan kita untuk memilih pasangan hidup sesuai keadaan agama kita, baik itu pria maupun wanita, sebagaimana Firman-Nya,</p>
<p>الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُوْلَئِكَ مُبَرَّؤُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ</p>
<p><em>Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).</em> [an-Nur : 26]</p>
<p><span id="more-1094"></span>Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- juga memerintahkan kepada mereka yang ingin mencari pasangan hidup hendaknya ia memilihnya karena Agama. Sebagaimana sabda beliau dalam sebuah hadits,</p>
<p>عن أبي هريرة ، رضي الله عنه ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : تنكح المرأة لأربع لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها فاظفر بذات الدين تربت يداك . رواه البخاري و مسلم</p>
<p>Dari Abu Hurairah –Semoga Allah meridhainya- dari Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-, beliau bersabda,<em>“ Seorang wanita dinikahi karena empat perkara ; karena hartanya, kedudukannya, dan kecantikannya atau karena agamanya, maka pilihlah (nikahilah) wanita karena Agamanya, jika tidak engkau akan binasa.</em> [Riwayat Bukhari, No.5090 dan Muslim, No.3708]</p>
<p>Demikian juga Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- memerintahkan kepada wali perempuan untuk menikahkan putrinya kepada orang yang baik agamanya.</p>
<p>إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ</p>
<p><em>Jika datang kepada kalian seorang (pelamar) yang kalian ridhai agamanya serta akhlaknya maka nikahkanlah ia(dengan putri kalian) jika tidak kalian lakukan maka akan terjadi Fitnah(cobaan) di muka bumi dan kerusakan yang luas.</em> [Riwayat at-Tirmidzi, menurut Syekh al-Albani rahimahullah hadits ini hasan lighairihi ]</p>
<p>Namun bagaimana jika semua usaha telah dilakukan untuk mendapat pasangan hidup yang baik, akan tetapi ternyata sang suami berubah di kemudian hari, ia menjadi ahli maksiat – Naudzubillhi min dzalik- , karena tidak menutup kemungkinan hal yang demikian bisa terjadi, sebagaimana keyakinan ahli sunnah wal jamah bahwa iman seseorang akan naik dan turun sesuai amalannya. Atau bisa jadi dahulu kala ketika berjodoh keduanya sama sama dari kalangan pelaku maksiat, tetapi di tengah perjalanan, ternyata sang istri lebih dahulu mendapat hidayah ke jalan yang lurus.. bagaimana solusinya? Apa yang hendak dilakukan wanita tersebut agar sesuai dengan syariat Islam? Apakah minta cerai? Atau bagaimana? Mari kita simak ulasan berikut ini.</p>
<h2><strong>Jenis kemaksiatan yang dilakukan suami</strong></h2>
<p>Sebelum mengambil tindakan terhadap suami hendaknya kita tinjau dahulu jenis perbuatan dosa yang gemar dilakukan suami. Karena dosa ada beberapa jenis yaitu:<br />
1. Dosa kecil: semua dosa yang belum sampai pada derajat dosa besar.<br />
2. Dosa besar: Perbuatan dosa yang diancam pelakunya dalam Al Quran maupun hadits dengan api neraka, laknat , kemurkaan Allah atau siksa-Nya.<br />
3. Dosa kesyirikan atau kekufuran: Dosa semacam ini pelakunya akan kekal di neraka jika belum taubat sebelum mati.</p>
<h2>Sikap istri terhadap perbuatan suami</h2>
<p>Jika suami melakukan dosa kecil atau malas dalam melakukan kebaikan maka hendaknya ia bersabar dengan menasihatinya sesuai kemampuan, dan selalu berdoa kepada Allah Ta’ala agar memberinya hidayah. Dan tidak boleh baginya untuk mengadukan masalah ini kepada orang lain, karena ini merupakan rahasia yang suami.</p>
<p>Akan tetapi jika maksiat yang ia gemari adalah dosa besar maka hendaknya ia mengambil langkah-langkah berikut ini:</p>
<p>1. Menasihatinya dengan cara yang bijak. Sementara itu ia selalu berdoa agar suaminya dapat kembali ke jalan yang lurus. Dan cara ini hendaknya ditempuh dengan sabar(tidak terburu-buru), karena bagaimana pun rahasia keluarga hendaknya tidak bocor kepada pihak ketiga. Kecuali jika perbuatan dosa ini merupakan perbuatan fakhisyah (perbuatan keji yang menjijikkan). Seperti zina, mendatangi istri lewat duburnya, dan semacamnya. Maka ia mengambil langkah kedua.</p>
<p>2. Langkah kedua, Jika dengan cara pertama tidak mempan, atau bahkan terjadi keributan, atau perbuatan suami adalah dosa yang sangat keji, maka ia meminta bantuan pihak ketiga, yaitu orang tua suami atau saudaranya yang ia segani. Diharapkan dengan ini akan berubah dengan nasihat dari keluarga dan kerabat sendiri tanpa melibatkan orang jauh. Namun jika ia tidak mendapatkannya pada keluarga, maka si istri boleh melibatkan orang lain yang dihormati suami dalam urusan agama.</p>
<p>3. Apabila suami tetap tidak berubah maka jalan yang terakhir adalah meminta cerai (khulu’); yakni apabila dosa besar yang dilakukannya adalah dosa yang sangat berpengaruh pada agama istri. Namun jika dosa itu hanya kembali pengaruhnya kepada suami saja maka hendaknya istri bersabar dan terus berusaha semampunya untuk menasihati, walaupun boleh baginya meminta cerai. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,</p>
<p>عَنْ ثَوْبَانَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقًا فِى غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ ».</p>
<p>Dari Tsauban semoga Allah meridhainya berkata, “Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- bersabda,&#8217;Wanita mana saja yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan syar’i maka haram baginya bau surga.&#8217;” [Riwayat Abu Dawud no. 2228, at-Tirmidzi No. 1187. Hadis ini dishahihkan oleh al-Albani dalam ta’liq-nya]</p>
<p>4. Apabila dosa tersebut merupakan perbuatan syirik akbar atau kekufuran dan suami tidak mau tobat dari perbuatan tersebut dan telah iqamatul hujah, maka wajib bagi istri bercerai dengan suami. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala :</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ وَآتُوهُم مَّا أَنفَقُوا وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَن تَنكِحُوهُنَّ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَلَاتُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَاسْأَلُوا مَا أَنفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنفَقُوا ذَلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ</p>
<p>Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana [al-Mumtahanah: 10 ]</p>
<h2>Kesimpulan yang dapat kita petik adalah:</h2>
<p>1. Suami adalah pemimpin keluarga maka hendaknya ia mengemban amanah ini dengan baik, karena ia akan ditanya tentang kepemimpinannya di hari kiamat. Dalam sebuah hadis disebutkan sabda Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-,</p>
<p>عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا</p>
<p>Dari Ibnu Umar &#8211; semoga Allah meridhainya – berkata, “Aku mendengar Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- bersabda, &#8216;Setiap kalian pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab tentang apa yang ia pimpin, dan imam (umaro’) adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab tentang rakyatnya, dan seorang laki laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai tanggung jawab tentang apa yang ia pimpin, dan seoarang perempuan di rumah suaminya adalah pemimpin dan ia akan dimintai tanggung jawab tentang apa yang ia pimpin&#8230;&#8217;” [Riwayat Bukhari No. 2751. Muslim No. 4828]</p>
<p>2. Istri yang shalihah adalah istri yang dapat menyimpan rahasia suaminya. Kecuali jika keadaan memaksanya untuk menceritakan kepada orang lain. Hal ini seperti yang dilakukan oleh shahabiyah Hindun yang mengadukan kebakhilan suaminya kepada Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-.</p>
<p>3. Seorang istri hendaknya banyak berintrospeksi diri tentang kondisi agamanya seta ketaatannya kepada suami, sehingga kenapa suami dapat berbuat demikian, karena bisa jadi kesalahan yang sama terjadi pada istri, maka akan sangat sulit perubahan dalam rumah tangga menuju ke arah positif.</p>
<p>4. Permintaan cerai adalah jalan terakhir yang ditempuh seorang istri dalam menghadapi suami yang tidak dapat dijadikan imam oleh sebab kedurhakaannya kepada Allah Ta’ala.</p>
<p>Semoga ulasan sederhana ini dapat menjadi pertimbangan dalam memecahkan masalah yang serupa di saat mengguncang keutuhan rumah tangga. Wallahu A’lam Bissawab. (***)</p>
<p><strong>Penulis: Ust. Abu Riyadh Nurcholis, Lc</strong></p>
<p><em><strong>Artikel Rubrik Fikih Keluarga <a title="majalah keluarga islami" href="http://majalahsakinah.com">Majalah Nikah Sakinah</a> Vol. 10 No. 4</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2012/01/suami-bejat-bagamana-istri-bersikap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tetap Optimis Meski Diramal Kiamat</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2012/01/tetap-optimis-meski-diramal-kiamat/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2012/01/tetap-optimis-meski-diramal-kiamat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 03:02:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[lentera]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1083</guid>
		<description><![CDATA[Ramalan bahwa kiamat akan terjadi tahun 2012, telah menjadi buah bibir banyak orang. Ramalan yang berdasarkan pada kalender bangsa Maya tersebut begitu populer karena memang dipopulerkan oleh berbagai media massa. Ada yang percaya dan ketakutan dengan ramalan itu, namun ada juga yang tak percaya, bahkan tak peduli. Sebagai muslim, kita wajib tak percaya dengan ramalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2012/01/lentera1201.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1085" title="lentera1201" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2012/01/lentera1201.jpg" alt="" width="300" height="192" /></a>Ramalan bahwa kiamat akan terjadi tahun 2012, telah menjadi buah bibir banyak orang. Ramalan yang berdasarkan pada kalender bangsa Maya tersebut begitu populer karena memang dipopulerkan oleh berbagai media massa. Ada yang percaya dan ketakutan dengan ramalan itu, namun ada juga yang tak percaya, bahkan tak peduli.<span id="more-1083"></span></p>
<p>Sebagai muslim, kita wajib tak percaya dengan ramalan itu. Karena kapan terjadinya kiamat, itu adalah termasuk perkara gaib, yang hanya diketahui oleh Allah ta&#8217;ala. Allah berfirman, <em>“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang kiamat, “Kapan terjadinya?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu hanya pada sisi Tuhanku. Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu, melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”</em> (al-A’raf: 187).</p>
<p>Jangankan kita, Rasulullah <em>-shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-</em> pun tidak mengetahui kapan kiamat akan terjadi. Hanya saja, beliau telah mengabarkan tentang tanda-tandanya. Di antaranya matahari terbit dari barat, munculnya Dajjal, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj mengacau dunia, serta turunnya Nabi Isa <em>-&#8217;alaihis salam-</em>. Semua itu harus kita imani dan yakini kebenarannya.</p>
<h2>MARI PERBAIKI DIRI!</h2>
<p>Sekali lagi, tentang isu kiamat pada 2012, itu hanyalah ramalan belaka. Yang pasti, adanya pergantian tahun ini, harus kita jadikan momen untuk menata hidup lebih baik. Introspeksi dan segala perbaikan harus kita mulai dari diri pribadi kita masing-masing.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Hal pertama dan utama</strong></span> yang mesti kita usahakan adalah perbaikan atau peningkatan iman kita. Seperti kita ketahui, iman kita itu selalu turun naik, dan seringkali turunnya lebih cepat dan lebih tahan lama daripada naiknya. Nah, saat kita sadar bila grafik atau kualitas keimanan kita sedang menurun, kita harus berupaya melakukan berbagai hal untuk menaikkannya kembali. Diantaranya dengan memperbanyak berdzikir kepada Allah, memperbanyak shalat sunnah, memperbanyak istighfar dan sebagainya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Kedua</strong></span>, kita harus melakukan perbaikan dalam amal-amal kita. Sudahkah setiap amal kita lakukan dengan ikhlas karena Allah? Ataukah kita masih mengharap pujian manusia atas amal-amal kebaikan kita itu? Ya, perbaikilah niat kita. Luruskanlah niat kita. Hendaknya kita selalu ikhlas dan hanya mengharapkan ridha Allah atas setiap kebajikan yang kita lakukan.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Ketiga</strong></span>, perbaikan dalam akhlak.<br />
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قاَلَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: &#8220;اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.&#8221; (رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح)<br />
<em>Dari Abu Dzarr, dia berkata, Rasulullah -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- bersabda, “Takutlah kepada Allah di mana pun kamu berada dan iringilah (balaslah) keburukan dengan kebaikan niscaya Dia akan menghapusnya serta pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.”</em> (Riwayat at-Turmudzi)</p>
<p>Manusia terkadang tergelincir, berbuat keliru, mengalami masa stagnan dalam berbuat baik atau teledor dalam melakukan hak Allah. Oleh karena itu, Allah telah menjadikan jalan bagi siapa saja yang mengalami hal demikian untuk merenungi apa yang telah terjadi, yaitu bersegera melakukan perbuatan baik. Allah ta&#8217;ala berfirman, <em>“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.”</em>(Hud: 114). Perbuatan taat apa saja atas izin Allah dapat memecahkan gelapnya kemaksiatan.</p>
<p>Islam sangat menggalakkan terjadinya hubungan sosial antar sesama manusia berdasarkan pergaulan yang baik dan akhlak yang mulia. Hal itu akan berdampak positif terhadap individu dan masyarakat. Oleh karena itu, banyak sekali nash-nash Al Quran maupun hadits yang menganjurkan agar berinteraksi melalui akhlak seperti ini. Allah berfirman, <em>“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”</em> (al-A’râf: 199) dan firman-Nya, <em>“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”</em> (Fushshilat: 34)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Keempat</strong></span>, perbaikan dalam ketaatan/ketakwaan.<br />
Allah ta&#8217;ala berfirman, <em>“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu, ‘bertakwalah kepada Allah.’”</em> (an-Nisa`:131)</p>
<p>Makna takwa adalah melakukan ketaatan dengan mengharap pahala dari Allah dan menjauhi berbuat maksiat kepada-Nya karena takut jatuh ke dalam siksa Allah.</p>
<p>Ketakwaan dapat diraih, di antaranya dengan menghadirkan rasa takut kepada Allah baik secara tersembunyi maupun terang-terangan, mengamalkan hal-hal yang wajib, banyak berdoa dan tidak bertransaksi dengan hal yang haram atau pun syubhat.</p>
<p>Ketakwaan kita kepada Allah akan membuahkan berbagai kebaikan, di antaranya:<br />
- Menyelamatkan diri kita dari adzab Allah, sebagaimana firman-Nya, “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa.” (Maryam: 72)<br />
- Menyebabkan seorang hamba mendapatkan pertolongan dan penjagaan dari Allah l.“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (an-Nahl:128)<br />
- Penyebab masuk surga.“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai. Di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (al-Qamar: 54-55)<br />
- Menyebabkan seseorang terjaga dari tipu daya musuh.“Jika kamu bersabar dan bertakwa niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudlaratan kepadamu.” (Ali ‘Imran:120)<br />
- Mendatangkan atau mendekatkan rezeki, sebagaimana firman-Nya, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”(ath-Thalaq: 2-3)<br />
- Menghapuskan dosa-dosa.“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah nsicaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.”(ath-Thalaq: 5)</p>
<p>Mudah-mudahan dengan berbagai perbaikan yang kita usahakan, Allah berkenan menjauhkan kita dari adzab dan siksa-Nya di dunia maupun di akhirat.</p>
<h2>TAUBAT SEBELUM KIAMAT</h2>
<p>Mungkin selama ini kita telah melewati hari-hari dengan melakukan berbagai dosa dan kemaksiatan. Ketika kesadaran kita, hati nurani kita telah menyapa dan mengingatkan kita untuk bertobat, maka bersegeralah menyambutnya. Ya, jika kita masih menyayangi diri kita, jangan biarkan diri ini berlarut-larut dalam kemaksiatan. Jangan malu dan jangan ragu untuk bertobat kepada-Nya. Sebelum nyawa sampai di tenggorokan, hingga semuanya akan terlambat.<br />
Rasulullah <em>-shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-</em> bersabda,<br />
<em> &#8220;Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai ke tenggorokan.&#8221;</em> (Riwayat Ahmad)</p>
<p>Dalam riwayat lain beliau <em>-shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-</em> bersabda,<br />
<em> &#8220;Sesungguhnya Allah merentangkan tangan-Nya pada malam hari memberi kesempatan taubat bagi pelaku kesalahan pada siang hari dan merentangkan tangan-Nya pada siang hari memberi kesempatan taubat bagi pelaku kesalahan pada malam hari, sampai kelak matahari terbit dari Barat (hari kiamat).&#8221;</em> (Riwayat Muslim)<br />
Semoga Allah selalu mengampuni dan menerima taubat kita. Amiin. (***)</p>
<p><em><strong>Artikel <a href="http://majalahsakinah.com">Majalah Nikah Sakinah</a> Vol. 10 No. 10</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2012/01/tetap-optimis-meski-diramal-kiamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

