<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majalah Sakinah</title>
	<atom:link href="http://majalahsakinah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majalahsakinah.com</link>
	<description>Inspirasi Rumah Tangga Islami</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 May 2013 03:49:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Kapankah Shalat Bisa Ditunda?</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2013/05/kapankah-shalat-bisa-ditunda/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2013/05/kapankah-shalat-bisa-ditunda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 May 2013 03:46:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[fikih keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1503</guid>
		<description><![CDATA[Ibu Fulan baru saja dikarunia seorang putra, tak ayal bertambahlah kesibukan sang ibu, sang ibu harus mengurus dan merawat buah hatinya yang baru menyapa dunia, belum lagi mengurus ketujuh anak lainnya yang telah lebih dahulu menghirup udara dunia. Sang bapak &#8230; <a href="http://majalahsakinah.com/2013/05/kapankah-shalat-bisa-ditunda/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu Fulan baru saja dikarunia seorang putra, tak ayal bertambahlah kesibukan sang ibu, sang ibu harus mengurus dan merawat buah hatinya yang baru menyapa dunia, belum lagi mengurus ketujuh anak lainnya yang telah lebih dahulu menghirup udara dunia. Sang bapak pun ikut-ikutan kerja siang malam untuk menafkahi istri dan anak-anaknya.</p>
<p>Kisah di atas adalah sekelumit kisah dari kisah-kisah rumah tangga yang terkadang kesibukan suami atau istri dijadikan alasan untuk menangguhkan shalat yang telah tiba waktunya. Bolehkah kesibukan dijadikan alasan untuk menangguhkan shalat?<br />
Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, kita harus memahami terlebih dahulu arti dari menangguhkan shalat.<br />
Menangguhkan shalat adalah menunda pelaksanaan shalat yang telah tiba waktunya. Menangguhkan shalat ada dua macam, yaitu menangguhkan pelaksanaan shalat hingga sebelum berakhirnya waktu shalat, dan menangguhkan pelaksanaan shalat hingga berakhirnya waktu shalat.<span id="more-1503"></span></p>
<h2>1. Menangguhkan shalat hingga berakhirnya  waktu shalat</h2>
<p>Shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya. Tidak boleh melaksanakan shalat sebelum masuk waktunya dan tidak boleh juga melaksanakan shalat setelah waktu shalat habis.</p>
<p>Syekh Abu Malik Kamal bin Sayid as-Salim berkata, &#8220;Telah kita ketahui, bahwa para ulama sepakat atas ketidaksahan shalat seseorang yang menyengaja shalat sebelum masuk waktunya, demikian juga orang yang menyengaja untuk shalat setelah keluarnya waktu shalat, maka shalatnya juga tidak sah.&#8221; (Shahih Fiqih Sunnah : I/258)</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p>إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا<br />
&#8220;Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.&#8221; (an-Nisa&#8217; : 103)</p>
<p>Seorang muslim dituntut untuk melaksanakan shalat di waktu-waktu yang telah ditentukan oleh syariat. Karena waktu adalah hal terpenting, bahkan syarat sah shalat seseorang. Karenanya, shalat Zhuhur harus dilaksanakan setelah tergelincirnya matahari hingga bayangan benda sama panjang dengan benda aslinya. Shalat Ashar  harus dilaksanakan setelah bayangan benda lebih panjang daripada benda aslinya hingga tenggelamnya matahari. Shalat Maghrib harus dilaksanakan setelah tenggelamnya matahari hingga hingga hilangnya senja merah. Shalat Isya harus dilaksanakan dari hilangnya senja merah hingga terbitnya fajar Shubuh. Dan shalat Shubuh harus dilaksanakan dari terbitnya fajar shadiq hingga terbitnya matahari.</p>
<p>Allah telah menyiapkan pahala dan keutamaan-keutamaan bagi yang melaksanakan shalat pada waktunya.<br />
Lihatlah, bagaimana Allah memuji orang-orang yang melaksanakan shalat pada waktunya, Allah berfirman,</p>
<p>وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ يُحَافِظُونَ<br />
&#8220;Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.&#8221; (al-Ma&#8217;arij : 34)</p>
<p>Ibnu Mas&#8217;ud menegaskan, &#8220;Pada waktu shalat yang telah ditentukan&#8221;.</p>
<p>Bahkan, melaksanakan shalat pada waktunya merupakan amalan yang paling utama dan dicintai Allah, dalam sebuah hadits disebutkan:</p>
<p>Dari Ibnu Mas&#8217;ud –semoga Allah meridhainya- berkata, &#8220;Aku bertanya kepada Nabi n, &#8220;Amalan apa yang paling dicintai Allah?&#8221;, Beliau n menjawab, &#8220;Shalat pada waktunya.&#8221; Aku berkata, &#8220;Kemudian apa lagi?&#8221; Beliau n menjawab, &#8220;Berbakti kepada orang tua.&#8221; Aku berkata, &#8220;Kemudian apa lagi?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Jihad di jalan Allah.&#8221; (Riwayat Bukhari : 527)</p>
<p><strong>Bagaimana jika seseorang menangguhkan shalat hingga berakhirnya waktu shalat tanpa alasan syar&#8217;i?</strong></p>
<p>Tidak diragukan, bahwa menangguhkan shalat hingga berakhirnya waktu shalat tanpa alasan syar&#8217;i maka pelakunya terancam oleh firman Allah,</p>
<p>فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤)الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ (٥)<br />
&#8220;Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya&#8221;. (al-Ma&#8217;un :  4-5)</p>
<p>Bahkan, orang yang menangguhkan shalat hingga keluar waktu shalat, pada hakikatnya dia telah melakukan dosa besar. Allah berfirman,</p>
<p>فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا<br />
&#8220;Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan&#8221;. (Maryam : 59)</p>
<p>Sebagian salaf menafsirkan, bahwa maksud &#8220;menyia-nyiakan shalat&#8221; adalah mengerjakan shalat di luar waktu yang telah ditentukan.</p>
<p><strong>Kapankah seseorang boleh menangguhkan shalat hingga keluar waktu shalat?</strong><br />
Ada beberapa sebab yang membolehkan seseorang menangguhkan shalat hingga keluar waktunya. Di antaranya:</p>
<p><strong>a. Ketiduran atau lupa</strong><br />
Jikalau seseorang ketiduran atau lupa hingga waktu shalat habis, sedangkan dirinya belum melaksanakan shalat, maka dia tidak berdosa. Namun, dia berkewajiban untuk meng-qadha&#8217; shalat yang terlewatkan saat dia bangun tidur atau saat dia ingat. Hal ini berdasarkan sabda Nabi b,</p>
<p>مَنْ ناَمَ عَنْ صَلاَةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهاَ إِذاَ ذَكَرَهَا  لاَ كَفَارَةَ عَلَيْهِ إِلاَّ ذَلِكَ</p>
<p>&#8220;Barangsiapa ketiduran tidak shalat atau lupa tidak shalat, maka hendaklah dia shalat saat dia ingat, tidak ada kafarah atasnya kecuali qadha&#8217;&#8221; (Riwayat Bukhari: 597)</p>
<p><strong>b. Terpaksa</strong><br />
Jika seseorang dipaksa untuk meninggalkan shalat, dilarang untuk shalat dengan isyarat, atau dipaksa untuk melakukan hal-hal yang tidak memungkinkan baginya shalat, maka dia termasuk orang yang mendapatkan keringanan untuk menangguhkan shalat hingga habis batas waktu yang ditentukan. Namun, jika dia mampu mendirikan shalat meskipun dengan isyarat, maka wajib baginya untuk shalat pada waktunya dan tidak ada kewajiban atasnya untuk mengulangi shalat yang dikerjakan hanya dengan isyarat.</p>
<p><strong>c. Menjamak dua shalat</strong><br />
Orang yang menjamak dua shalat dengan jamak ta&#8217;khir, maka dia mengerjakan shalat pertama di waktu shalat kedua. Bentuk pelaksanaan shalat ini, seakan-akan dia menangguhkan shalat yang telah tiba waktunya hingga keluar waktu shalat yang telah ditentukan.</p>
<p><strong>d. Takut yang berlebih</strong><br />
Jika seseorang sedang ketakutan yang berlebih, sehingga dia tidak mampu shalat meskipun hanya dengan hatinya, maka dia mendapatkan keringanan untuk menangguhkan shalat meskipun sampai habis waktu yang telah ditentukan. Sebab, jika dia nekat untuk shalat, maka dia tidak menyadari apa yang dia ucapkan dan lakukan, seperti halnya Nabi b yang shalat Ashar saat tenggelamnya matahari saat perang Khandak.</p>
<h2>2. Menangguhkan shalat hingga sebelum berakhirnya waktu shalat</h2>
<p>Jika ada yang bertanya, &#8220;Bukankah waktu shalat merupakan kewajiban yang luas waktunya? bisa dikerjakan selama  batasan waktu yang telah ditentukan syariat masih ada?&#8221;</p>
<p>Jawabannya: Ya, memang benar, bahwa shalat itu kewajiban yang luas waktunya, artinya boleh dikerjakan di akhir waktu. Namun, perlu kita ketahui, mengerjakan shalat di awal waktu adalah sebuah keutamaan, kecuali shalat Isya&#8217;, shalat Isya dianjurkan untuk diakhirkan jika memang tidak menyebabkan terlewatkannya shalat Isya&#8217; dan jamaah.</p>
<p>Bahkan Anas bin Malik memandang, menangguhkan shalat yang telah tiba waktunya hingga sebelum waktu shalat habis adalah perbuatan yang menyelisihi petunjuk Nabi n dan merupakan salah satu bentuk penyia-nyiaan terhadap ibadah shalat.<br />
Dalam sebuah hadits disebutkan, Zuhri berkata, “Aku mendatangi Anas bin Malik saat beliau di Damaskus, saat itu beliau menangis, lalu aku bertanya kepadanya, &#8216;Apa yang menyebabkanmu menangis?&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Sekarang ini aku tidak menemukan sebuah perkara yang aku temukan pada zaman Nabi saw kecuali tinggal perkara shalat saja, namun shalat sekarang ini telah disia-siakan.&#8217;&#8221; (Riwayat Bukhari : 530)</p>
<p>Kapan seseorang boleh menangguhkan shalat hingga sebelum waktu shalat ? dan bagaimana hukum shalatnya?<br />
Secara umum, shalat yang dikerjakan bukan di awal waktu itu sah, namun dia tidak mendapatkan pahala keutamaan shalat di awal waktu, kecuali ada alasan syar&#8217;i yang mengharuskan dia untuk menunda pelaksanaan shalat dari awal waktu. Di antara sebab tersebut adalah:</p>
<p>a. Jika menangguhkan shalat dari awal waktu itu lebih baik, lebih sempurna dan lebih khusyu&#8217;  maka diperbolehkan seseorang menangguhkan shalat dari awal waktu. Sebagai contoh, seorang yang sedang dalam perjalanan dan bersamaan dengan masuknya waktu shalat, jika dia shalat di awal waktu, maka dia harus bertayamum karena tidak ada air, namun, jika dia tunda, maka dia bisa mengerjakan shalat dengan berwudhu dan masih bisa shalat di waktu yang ditentukan, maka dia boleh menangguhkan shalat.</p>
<p>b. Jika dia sedang melakukan sebuah pekerjaan yang jika dia tinggalkan untuk shalat di awal waktu, maka bisa menyebabkan dia melanggar batasan agama lainnya. Misalnya, seseorang yang menggembala kambing, saat tiba waktu shalat, kambing-kambing mendekati tanaman tetangga, jika dia tinggalkan untuk shalat di awal waktu, maka kambing-kambingnya akan merusak tanaman tersebut, karenanya, dia boleh menangguhan shalat dari awal waktu, selama tidak sampai keluar dari waktu yang ditentukan oleh syariat. Wallahu A&#8217;lam.<br />
Demikianlah, semoga pembahasan ini bisa membawa sedikit pencerahan bagai pembaca yang belum mengetahuinya. (***)</p>
<p><em><strong>Rubrik Fikih Keluarga Majalah Sakinah Vol. 10 No. 6<br />
</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2013/05/kapankah-shalat-bisa-ditunda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Majalah Sakinah Vol. 12 No. 2</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2013/05/majalah-sakinah-vol-12-no-2/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2013/05/majalah-sakinah-vol-12-no-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 May 2013 02:33:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[beranda]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1472</guid>
		<description><![CDATA[Mungkinkah Tanpa Bentakan? Mungkin kita seringkali menggunakan bentakan sebagai senjata dan jalan pintas agar orang lain mengikuti kemauan kita. Dan yang paling sering menerima, buah hati kita. Padahal, membentak bukanlah tindakan yang baik. Berbagai tulisan tentang dampak buruk akibat bentakan, &#8230; <a href="http://majalahsakinah.com/2013/05/majalah-sakinah-vol-12-no-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1474" alt="cover-1305-350px" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2013/05/cover-1305-350px-202x300.jpg" width="202" height="300" /></p>
<h2>Mungkinkah Tanpa Bentakan?</h2>
<p>Mungkin kita seringkali menggunakan bentakan sebagai senjata dan jalan pintas agar orang lain mengikuti kemauan kita. Dan yang paling sering menerima, buah hati kita. Padahal, membentak bukanlah tindakan yang baik. Berbagai tulisan tentang dampak buruk akibat bentakan, sudah banyak beredar. Tak hanya bentakan, bahkan mungkin pukulan juga kita lakukan.</p>
<p>Lantas, mengapa kita terasa sulit untuk tidak melakukannya? Bisa jadi kita menganggap bahwa itu tindakan yang paling efektif untuk melakukan pemerintah atau larangan. Atau, karena kita memang sudah terbiasa melakukannya?</p>
<p>Untuk itulah, pada edisi ini Sakinah mengupas tentang bentakan-bentakan yang sering terdengar dalam rumah tangga. Pembaca bisa  menyimak bagaimana melarang tanpa membentak, indahnya rumah tangga tanpa bentakan dan bagaimana menggunakan bentakan di saat diperlukan. Semoga sajian kali ini benar-benar bisa memuaskan pembaca sekalian.</p>
<p>Selanjutnya, marilah kita renungkan sabda Rasulullah n berikut ini,</p>
<p>إِنَّ اللهَ إِذَا ارَادَ بِاهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِم الرِّفْقَ<br />
<em>&#8220;Sesungguhnya jika Allah menghendaki kebaikan bagi sebuah keluarga maka Allah akan memasukan kelembutan kepada mereka.&#8221;</em> (Riwayat Ahmad dan dishahikan oleh al-Albani <em>rahimahullah</em> dalam ash-Shahihah no 523)</p>
<p>Nah, jika kondisi rumah tangga kita selalu dipenuhi dengan suara keras, lantang, kekasaran, bentakan atau bahkan pukulan terhadap anak-anak, kita harus waspada. Bisa jadi kita sedang jauh dari kebaikan.</p>
<p>Untuk itu, marilah kita ubah sikap kita dan kita usahakan memperbaiki kondisi rumah kita. Mari kita penuhi rumah kita dengan senyuman dan kelembutan, niscaya Allah akan menebar kebaikan dalam keluarga kita. Amiin. (***)</p>
<p><em><strong>Sumber artikel: Beranda Majalah Sakinah Vol. 12 No. 1</strong></em></p>
<h2>Daftar Isi Majalah Sakinah Vol. 12 No. 1 :</h2>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-1477" alt="daftarisi-1305-500px" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2013/05/daftarisi-1305-500px.jpg" width="500" height="744" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2013/05/majalah-sakinah-vol-12-no-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fenomena Cinta Dunia Takut Mati</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2013/04/fenomena-cinta-dunia-takut-mati/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2013/04/fenomena-cinta-dunia-takut-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Apr 2013 03:55:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[lentera]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1464</guid>
		<description><![CDATA[Setiap manusia hidup pasti akan mati. Tak ada seorang pun yang mengingkari hal ini. Malaikat maut sang pencabut nyawa, tidak pandang bulu ketika mengambil nyawa manusia dari jasadnya. Si kaya, si miskin, si mukmin maupun si kafir, muda atau tua, &#8230; <a href="http://majalahsakinah.com/2013/04/fenomena-cinta-dunia-takut-mati/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1466" alt="cinta-dunia" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2013/04/cinta-dunia-300x199.jpg" width="300" height="199" />Setiap manusia hidup pasti akan mati. Tak ada seorang pun yang mengingkari hal ini. Malaikat maut sang pencabut nyawa, tidak pandang bulu ketika mengambil nyawa manusia dari jasadnya. Si kaya, si miskin, si mukmin maupun si kafir, muda atau tua, semua akan ia datangi, sesuai dengan perintah Allah &#8211; subhanahu wa ta&#8217;ala -. Semua akan dicabut nyawanya, tak peduli dengan suka atau terpaksa. Jika sudah waktunya, tak ada yang bisa menangguhkan kematian meski hanya sedetik saja.<br />
<span id="more-1464"></span><br />
Mungkin ada yang hampir tak percaya, ketika ada pemain sepakbola tiba-tiba meninggal saat sedang bermain bola di lapangan. Atau ketika seorang penceramah tiba-tiba menghentikan ceramahnya karena maut telah menjemputnya tanpa permisi. Memang begitulah maut. Tak ada yang tahu kapan ia akan menjemput.</p>
<p>Bagi seorang mukmin yang merindukan kebahagiaan abadi di negeri akhirat, tentu ia akan berusaha berbekal sebanyak-banyaknya, sehingga ia selalu siap kapan saja  sang maut akan menjemput. Ia selalu sadar jika kehidupan di dunia ini hanyalah fana. Semua kenikmatan dunia akan ditinggalkan, begitu nyawa keluar dari badan.<br />
Sebagaimana firman Allah &#8211; subhanahu wa ta&#8217;ala -,<br />
&#8220;Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.&#8221; (Ali-Imran: 85)</p>
<p>Namun, sayang seribu sayang, seorang mukmin yang demikian itu, saat ini semakin sulit ditemukan. Karena kebanyakan kaum muslimin saat ini, terlihat lebih cinta dunia dan takut mati.</p>
<p>Fenomena ini begitu terasa, dan sangat mudah dibuktikan. Begitu banyak kaum muslimin yang mengisi kehidupannya untuk memburu dunia. Hanya kenikmatan dan pernik-pernik dunia yang ada di kepalanya, hingga tanpa terasa ia telah melupakan akhiratnya. Gaya hidup mewah, glamour dan berlebihan, kini semakin membudaya dalam kehidupan sebagian kaum muslimin. Halal haram pun tak lagi diperhatikan, baik dalam makan minum, pergaulan dan cara berpakaian. Bukan lagi Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; dan para sahabatnya yang dijadikan teladan dan panutan, melainkan para artis dan selebritis yang tiap hari mereka lihat di televisi.</p>
<p>Mereka begitu mencintai dunia. Materi, kedudukan, dan popularitas, begitu ramai diperebutkan. Bahkan anak-anak pun telah diajari  dengan gaya hidup demikian. Seorang muslim semakin jauh dari Islam, dan tak lagi mengenal agamanya. Mereka tak punya waktu untuk menuntut ilmu syar&#8217;i, atau beribadah sesuai sunnah. Maka sungguh benar sabda Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam -,  &#8220;Akan terjadi masa dimana umat-umat di luar Islam berkumpul di samping kalian wahai umat Islam, sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang menyantap hidangan. Lalu seorang sahabat bertanya, &#8216;Apakah kami pada saat itu sedikit wahai Rasulullah?&#8217;  Beliau menjawab, &#8216;Tidak. Bahkan ketika itu jumlah kalian banyak. Akan tetapi kalian ketika itu bagaikan buih di lautan. Ketika itu Allah hilangkan dari musuh-musuh kalian rasa segan dan takut terhadap kalian, dan kalian tertimpa penyakit wahn. Sahabat tadi bertanya lagi, &#8216;Wahai Rasulullah apa yang engkau maksud dengan wahn itu?&#8217; , Rasulullah menjawab, &#8216;Cinta dunia dan takut mati.&#8217;&#8221; (Riwayat Abu Dawud)</p>
<p><strong>Dunia sebagai Ujian</strong></p>
<p>Sesungguhnya segala macam kenikmatan dunia adalah ujian dari Allah &#8211; subhanahu wa ta&#8217;ala -, karena hampir setiap manusia memiliki kecenderungan atau rasa suka terhadap hal-hal duniawi. Allah berfirman, &#8220;Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).&#8221; (Ali-Imran: 14)</p>
<p>Namun kemudian Allah menegaskan bahwa semua kenikmatan tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenikmatan di sisi-Nya, yaitu kenikmatan yang kekal abadi, bukan kenikmatan semu seperti kenikmatan dunia ini, &#8220;Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.&#8221;(al-Mukmin: 39)</p>
<p>Kenikmatan dunia itu bermacam-macam sebagaimana yang telah disebutkan oleh Allah &#8211; subhanahu wa ta&#8217;ala -.  Masing-masing mengandung nilai godaan dengan kapasitas yang berbeda-beda. Wanita, harta dan anak-anak menempati posisi teratas sebagai bagian duniawi yang paling menggoda. Allah telah memperingatkan tentang godaan tersebut dalam firman-Nya, &#8220;Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.&#8221; (Al-Anfal: 28)</p>
<p>Begitulah dunia, tidak ada nilainya di sisi Allah yang Maha Pencipta. Dan begitu pula seharusnya manusia memandangnya.</p>
<p>Karena itulah Allah melarang kita memandang dengan penuh ketakjuban kepada manusia-manusia yang dianugerahi kenikmatan dunia.  Karena kelak mereka pun akan mati juga. &#8220;Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami cobai mereka dengannya, dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.&#8221; (Thaha: 131)</p>
<p><strong>Akhirat Semestinya di Hatimu    </strong></p>
<p>Berbagai peringatan Allah &#8211; subhanahu wa ta&#8217;ala &#8211; yang menyebutkan tentang godaan dunia itu, bukan berarti kita harus melupakan sama sekali kehidupan dunia.</p>
<p>Allah berfirman, &#8220;Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.&#8221; (Al-Qashash: 77)</p>
<p>Penerapan dari konsep ini adalah ketika seorang muslim menjadikan dunia di genggamannya, ia menguasainya. Bukan sebaliknya, ia dikuasai oleh dunia. Cukuplah dunia tersebut berada di tangannya tapi tidak pernah dia biarkan bersemayam di hatinya. Karena sesuatu yang kita pegang tentu akan mudah untuk kita lepaskan jika ia sudah membahayakan. Sebaliknya sesuatu yang sudah merasuk ke hati akan sulit untuk diangkat darinya. Sejarah telah mencatat orang-orang seperti ini. Lihatlah Abu Bakar &#8211; radhiyallahu &#8216;anhu -, Umar &#8211; radhiyallahu &#8216;anhu -, Abdurrahman bin Auf &#8211; radhiyallahu &#8216;anhu -, mereka sangat mudah menginfakkan setengah hartanya bahkan seluruh hartanya karena melihat ada keuntungan akhirat yang berlipat-lipat ketika mereka menginvestasikan harta mereka tersebut di jalan Allah. Saat mereka masih hidup di dunia, mereka menguasainya, namun jiwa dan cita-cita mereka telah terbang melayang ke alam akhirat. Maka layaklah bila Allah &#8211; subhanahu wa ta&#8217;ala &#8211; dan Rasul-Nya menjamin mereka dengan surga.</p>
<p>Coba bandingkan sikap mereka terhadap dunia dengan sikap sebagian dari kita, yang ketika kehilangan sedikit harta saja seperti kehilangan dunia seisinya. Kita begitu takut kehilangan dunia, padahal semua itu tak ada apa-apanya dibandingkan kenikmatan di akhirat. Jika kita terlalu mencintai dunia, Allah  telah memperingatkan kita dengan firman-Nya,</p>
<p>&#8220;Adapun orang yang melampaui batas, Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.&#8221; (an-Nazi&#8217;at: 37-41)</p>
<p>Maka jadikanlah diri kita di dunia ini seperti orang asing atau musafir yang  tidak tinggal menetap. Gunakan masa hidup kita untuk mengumpulkan perbekalan menuju ke kampung halaman, yaitu negeri akhirat yang kekal. Semoga Allah &#8211; subhanahu wa ta&#8217;ala &#8211; menjauhkan kita dari penyakit wahn, dan berkenan membukakan pintu surga bagi kita. Amiin. (***)</p>
<p><em><strong>Rubrik Lentera, Majalah Sakinah Vol. 10 No. 7</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2013/04/fenomena-cinta-dunia-takut-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Tertantang Meminangnya</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2013/04/aku-tertantang-meminangnya/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2013/04/aku-tertantang-meminangnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Apr 2013 03:38:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[pra nikah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1461</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum Ustadz&#8230;.., Ana mau tanya. Ana punya teman seorang akhwat yang dia terkena syubhat khawarij dan juga terkena fitnah pemikiran (fikroh). Jika ada dalil yang bertentangan dengan fikrahnya, maka dia tidak mau menerimanya. Bagaimana cara menasihatinya, sedang ana seorang ikhwan?? &#8230; <a href="http://majalahsakinah.com/2013/04/aku-tertantang-meminangnya/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum Ustadz&#8230;..,<br />
Ana mau tanya. Ana punya teman seorang akhwat yang dia terkena syubhat khawarij dan juga terkena fitnah pemikiran (fikroh). Jika ada dalil yang bertentangan dengan fikrahnya, maka dia tidak mau menerimanya. Bagaimana cara menasihatinya, sedang ana seorang ikhwan??<br />
Bolehkan ana berkeinginan menikahinya untuk mengajaknya pada manhaj salaf?<br />
Mana yang lebih utama, mendoakannya supaya mendapat hidayah atau menasihatinya langsung, atau kedua-duanya? Jazakallahu khairan katsiran.<br />
<em>Dari: Abdulloh</em></p>
<p><span id="more-1461"></span></p>
<p><strong>JAWABAN</strong>:</p>
<p>Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,<br />
Islam adalah agama nasihat. Dan diantara sifat orang-orang yang beriman antara satu dengan yang lainnya saling menasihati dalam kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Allah Ta’ala berfirman,<br />
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ<br />
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma&#8217;ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (at-Taubah :71)</p>
<p>Di dalam hadits, Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; bersabda,</p>
<p>عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ »<br />
“Agama itu adalah nasihat.” Kami (para sahabat) bertanya,“Untuk siapakah (nasihat itu)?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin, dan kaum muslimin semuanya.” (Riwayat Muslim I/74 no.55, dari Tamim ad-Dariy z)<br />
Dan masih banyak dalil-dalil lain yang semakna dengannya.</p>
<p>Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka perintah Allah dan Rasul-Nya kepada kaum mukminin yang laki-laki maupun perempuan agar saling memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar adalah sama. Bahkan ketika seseorang melihat suatu kemungkaran pada saudaranya sesama muslim dalam bentuk apa pun, baik berkaitan dengan masalah akidah, ibadah, manhaj, muamalah atau selainnya hendaknya ia berupaya mencegah atau menghilangkannya sesuai dengan batas kemampuannya. Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; bersabda,</p>
<p>مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ</p>
<p>“Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka hendaknya ia mengubahnya dengan lisannya (nasihat). Dan jika ia tidak mampu (pula), maka hendaknya ia mengubahnya (yakni mengingkarinya) dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah bukti selemah-lemahnya iman.” (Riwayat Muslim I/69 no.49)</p>
<p>Diantara hal yang paling penting untuk diperhatikan dalam memberikan nasihat adalah mengikhlaskan niat karena Allah, bukan karena hal-hal lain yang bersifat duniawi yang akan merusak keikhlasan. Karena memberikan nasihat kepada orang lain adalah ibadah yang harus dibangun atas dasar ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tuntunan Nabi), agar Allah menerima ibadahnya dan memberikan pahala kepadanya, serta menjadikan nasihatnya itu memberikan pengaruh yang baik kepada siapa saja yang mendengarnya.</p>
<p>Janganlah seseorang bersemangat dalam memberikan nasihat kepada lawan jenis yang ia cintai atau ia harapkan untuk dinikahi, sementara kepada orang lain yang jelas-jelas memiliki kemungkaran yang banyak dan lebih besar darinya ia biarkan begitu saja atau kurang semangat dalam menasihatinya. Sebab jika memang demikian keadaannya, maka ini sebagai salah satu tanda keikhlasannya kurang sempurna atau bahkan tidak ada.</p>
<p>Hal lain yang harus diperhatikan pula dalam memberikan nasihat kepada lawan jenis, hendaknya menjauhi cara-cara yang melanggar aturan syariat, seperti memberikan nasihat dalam keadaan khalwat (berduaan di suatu tempat), mencampuradukkan antara kalimat nasihat dengan kalimat-kalimat cinta terlarang, sering komunikasi lewat telepon atau chatting, dan yang semisalnya. Karena cara yang demikian ini akan membuka lebar-lebar pintu fitnah bagi setan untuk menjerumuskan keduanya ke dalam perbuatan keji dan mungkar. Atau minimal hal itu akan menimbulkan penyakit di dalam hati.<br />
Allah Ta’ala berfirman<br />
وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا</p>
<p>“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (al-Isra’: 32)<br />
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah: 208)<br />
Di dalam hadits, Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; bersabda,<br />
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ<br />
“Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan seorang wanita (bukan mahramnya, pent) melainkan setan menjadi pihak ketiga.” (Riwayat at-Tirmidzi III/474 no.1171)<br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ<br />
“Tidaklah kutinggalkan sepeninggalku suatu ujian yang lebih berat bagi laki-laki melebihi wanita” (Riwayat Bukhari V/1959 no.4808 dan Muslim I/2097 no. 2740, dari Usamah bin Zaid).<br />
Selain itu, hendaknya seseorang memperbanyak doa kepada Allah agar memberikan hidayah kepada orang yang sedang ia dakwahi atau nasihati, karena hidayah itu hanya ada di tangan Allah, sedangkan makhluk sama sekali tidak mampu melakukannya.</p>
<p>Jadi, secara ringkas nasihat kepada lawan jenis secara khusus dan kepada semua orang secara umum dapat dilakukan dengan lisan, tulisan atau memberikan hadiah bermanfaat berupa buku, majalah, kaset atau cd kajian ilmiyah, dan semisalnya.</p>
<p>Adapun keinginan anda untuk menikahi wanita tersebut, maka tidak ada larangan dalam Islam, karena dia seorang muslimah, meskipun dia memiliki kesalahan atau penyimpangan dalam pemahaman terhadap agamanya. Allah ta’ala berfirman:<br />
الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ<br />
“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu, bila kamu Telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.” (al-Maidah: 5)</p>
<p>Dari ayat ini, kita dapat memahami bahwa wanita muslimah boleh dinikahi selagi wanita tersebut dapat menjaga kehormatannya, bukan wanita pezina. Karena di dalam ayat lain Allah melarang kaum mukminin menikahi wanita pezina, kecuali jika ia telah bertaubat nashuha kepada Allah.</p>
<p>Akan tetapi, ada hal yang perlu dipertimbangkan pula, jika menikah dengan wanita yang memiliki pemikiran yang menyimpang dan telah terbukti selalu menolak nasihat dari selainnya, atau bahkan dia berusaha untuk mengajarkan dan menyebarluaskan pemikiran menyimpang tersebut kepada orang lain, maka –menurut pandangan kami- sebaiknya anda lebih memilih menikah dengan wanita muslimah lain yang mau dibimbing oleh anda ke jalan yang benar dan pemahaman agama yang lurus, meskipun dia seorang yang sedikit ilmunya atau masih pemula dalam menuntut ilmu syar’i, namun ia memiliki niat yang baik dan tekad yang kuat untuk mencari dan mengikuti al-haq. Dengan demikian, sangat mudah bagi anda untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang harmonis (penuh sakinah, mawaddah wa rahmah), dengan izin Allah.</p>
<p>Demikian jawaban singkat atas pertanyaan ini. Semoga dapat dipahami dan menjadi ilmu yang bermanfaat. Amiin. Wallahu a’lam bish-shawab. (***)</p>
<p><em><strong>Jawaban Ust. Muhammad Wasitho, Lc.</strong></em><br />
<em><strong>Rubrik Konsultasi Pra Nikah Majalah Sakinah Vol. 10 No. 4</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2013/04/aku-tertantang-meminangnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Amalan Tercampuri Keinginan Dunia</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2013/04/ketika-amalan-tercampuri-keinginan-dunia/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2013/04/ketika-amalan-tercampuri-keinginan-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Apr 2013 03:04:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[fikih keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1437</guid>
		<description><![CDATA[Niat ikhlas bagi amal shalih ibarat ruh bagi jasad. Jika ruh lepas dari jasad maka ia akan mati. Begitu juga niat ikhlas, apabila hilang dari amal shalih, maka amal akan sia-sia. Dan yang dimaksud ikhlas adalah beramal untuk Allah semata. &#8230; <a href="http://majalahsakinah.com/2013/04/ketika-amalan-tercampuri-keinginan-dunia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1449" alt="bluebell" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2013/04/bluebell-e1366082586615-300x224.jpg" width="300" height="224" />Niat ikhlas bagi amal shalih ibarat ruh bagi jasad. Jika ruh lepas dari jasad maka ia akan mati. Begitu juga niat ikhlas, apabila hilang dari amal shalih, maka amal akan sia-sia. Dan yang dimaksud ikhlas adalah beramal untuk Allah semata.</p>
<p>Al-Fudhailbin &#8216;Iyadh &#8211; rahimahullah &#8211; berkata:<br />
إِنَّ اْلعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا أَنْ يَكُوْنَ عَلَى السُّنَةِ<br />
“Sesungguhnya amal itu apabila ikhlash tetapi tidak shawab maka tidak akan diterima. Dan jika shawab tetapi tidak ikhlash maka juga tidak akan diterima, hingga terdapat ikhlas dan shawab. Dan ikhlash itu adalah karena Allah dan shawab itu sesuai dengan sunnah.”</p>
<p>Dalam sebuah hadits Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; bersabda:<br />
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ<br />
&#8220;Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala tidak menerima suatu amal kecuali dengan ikhlash dan dengannya mengharap wajah-Nya.” (riwayat Nasai dengan sanad bagus)</p>
<p>Niat yang benar dan ikhlas akan menjadikan amal yang kecil menjadi besar nilainya. Sebaliknya salah dalam niat bisa menjadikan amal besar menjadi tak berguna. Abdullah Ibnul Mubarak &#8211; rahimahullah &#8211; pernah menyatakan,<br />
رُبَّ عملٍ صغيرٍ تعظِّمهُ النيَّةُ ، وربَّ عمل كبيرٍ تُصَغِّره النيَّةُ<br />
&#8220;Berapa banyak amal yang kecil menjadi besar nilainya karena niat. Dan berapa banyak amal  besar menjadi kecil nilainya dikarenakan niat.&#8221;</p>
<p>Niat yang benar dan ikhlas akan menjadikan amal yang kecil menjadi besar nilainya. Sebaliknya salah dalam niat bisa menjadikan amal besar menjadi tak berguna.<br />
Dengan niat baik, seorang hamba akan mendapatkan pahala yang besar dari setiap amal shalih yang dijalaninya. Bahkan jika dia tidak mampu melaksanakannya karena suatu sebab syar&#8217;i, Allah tetap mengalirkan pahala untuknya dengan niatnya.</p>
<p>Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; bersabda:<br />
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا<br />
“Jika seorang hamba sakit atau sedang safar (bepergian), maka dicatat untuknya ‘amal perbuatan yang biasa ia kerjakan seperti di waktu ia sehat dan tidak sedang bepergian.” (Riwayat Bukhari no. 2774)</p>
<p>Adanya keinginan menjaga amal yang biasa dikerjakannya menjadikan pahala tersebut tetap mengalir walau ia tidak bisa mengerjakannya karena sakit atau bepergian.<br />
Niat yang baik bisa menjadikan amal yang mubah diberkahi oleh Allah dan pelakunya mendapat pahala. Seperti orang yang menunaikan nafkah bagi keluarganya, dia akan mendapat pahala jika meniatkannya untuk Allah dan berharap pahala dari-Nya.</p>
<p>Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; bersabda:<br />
إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ<br />
&#8220;Jika seseorang memberi nafkah kepada keluarganya dengan berharap pahala dari Allah, maka nafkah tersebut terhitung shadaqah.&#8221; (Riwayat Bukhari)</p>
<h2>Bahaya beramal shalih untuk mencari dunia</h2>
<p>Di antara bahaya besar yang bisa menimpa seorang hamba adalah beramal shalih dengan harapan untuk mendapat dunia. Ini adalah kesyirikan yang bisa menghilangkan kesempurnaan tauhid dan menghapuskan amal. Ini lebih berbahaya daripada riya&#8217;. Kalau riya&#8217;, berharap pujian orang dalam amal namun munculnya jarang-jarang. Berbeda dengan orang yang niatnya memang untuk dunia, atau disebut materialistik, seluruh amal dan perbuatannya didominasi harapan untuk kebaikan dan kesejahteraan dunianya, tidak ada harapan untuk mendapatkan ridha Allah dan kebaikan di akhirat.</p>
<p>Mengenai hal ini, Allah menerangkan dalam firman-Nya:<br />
&#8220;Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?&#8221; (Hud: 15-16)</p>
<p>مَنْ تعلَّم عِلماً مِمَّا يُبتَغى به وجهُ الله ، لا يتعلَّمُه إلاَّ ليُصيبَ بهِ عَرَضاً من الدُّنيا ، لم يَجِدْ عَرْفَ الجنَّة يومالقيامَةِ<br />
&#8220;Barang siapa yang menuntut ilmu yang seharusnya dia cari untuk mengharapkan wajah Allah ta’ala, akan tetapi dia mencari ilmu supaya mendapatkan bagian dari dunia maka dia tidak akan mendapatkan wanginya surga pada hari kiamat kelak.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah)</p>
<h2>Beramal Akhirat untuk Mendapatkan Dunia</h2>
<p><strong>Niat seseorang ketika beramal ada beberapa macam:</strong></p>
<p><strong></strong>1. Jika niatnya adalah murni untuk mendapatkan dunia ketika dia beramal dan sama sekali tidak punya keinginan mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat, maka orang semacam ini di akhirat tidak akan mendapatkan satu bagian nikmat pun. Perlu diketahui pula bahwa amalan semacam ini tidaklah muncul dari seorang mukmin. Orang mukmin walaupun lemah imannya, dia pasti selalu mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat.</p>
<p>2. Jika niat seseorang adalah untuk mengharap wajah Allah dan untuk mendapatkan dunia sekaligus, entah niatnya untuk kedua-duanya sama atau mendekati, maka semacam ini akan mengurangi tauhid dan keikhlasannya. Amalannya dinilai memiliki kekurangan karena keikhlasannya tidak sempurna.</p>
<p>3. Adapun jika seseorang telah beramal dengan ikhlash, hanya ingin mengharap wajah Allah semata, akan tetapi di balik itu dia mendapatkan upah atau hasil yang dia ambil untuk membantunya dalam beramal (semacam mujahid yang berjihad lalu mendapatkan harta rampasan perang, para pengajar dan pekerja yang menyokong agama yang mendapatkan upah dari negara setiap bulannya), maka tidak mengapa mengambil upah tersebut. Hal ini juga tidak mengurangi keimanan dan ketauhidannya, karena semula dia tidak beramal untuk mendapatkan dunia. Sejak awal dia sudah berniat untuk beramal shalih dan menyokong agama ini, sedangkan upah yang dia dapatkan adalah di balik itu semua yang nantinya akan menolong dia dalam beramal dan beragama.</p>
<p><strong>Adapun amalan yang seseorang lakukan untuk mendapatkan balasan dunia ada dua macam:</strong></p>
<p>1. Amalan yang tidak disebutkan di dalamnya balasan dunia. Namun seseorang melakukan amalan tersebut untuk mengharapkan balasan dunia, maka semacam ini tidak diperbolehkan bahkan termasuk kesyirikan.<br />
Misalnya: Seseorang melaksanakan shalat Tahajud. Dia berniat dalam hatinya bahwa pasti dengan melakukan shalat malam ini, anaknya yang akan lahir nanti adalah laki-laki. Ini tidak dibolehkan karena tidak ada satu dalil pun yang menyebutkan bahwa dengan melakukan shalat Tahajud akan mendapatkan anak laki-laki.</p>
<p>2. Amalan yang disebutkan di dalamnya balasan dunia. Contohnya adalah silaturrahim dan berbakti kepada kedua orang tua. Semisal silaturrahim, Nabi &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; bersabda,<br />
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ<br />
“Barangsiapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturrahim (hubungan antar kerabat).” (Riwayat Bukhari dan Muslim)<br />
Jika seseorang melakukan amalan semacam ini, namun hanya ingin mengharapkan balasan dunia saja dan tidak mengharapkan balasan akhirat, maka orang yang melakukannya telah terjatuh dalam kesyirikan. Namun, jika dia melakukannya tetap mengharapkan balasan akhirat dan dunia sekaligus, juga dia melakukannya dengan ikhlash, maka ini tidak mengapa dan balasan dunia adalah sebagai tambahan nikmat untuknya karena syariat telah menunjukkan adanya balasan dunia dalam amalan ini.</p>
<p>Sebenarnya jika seseorang ikhlas dalam beramal tanpa mengharap-harap dunia, maka dunia akan datang dengan sendirinya. Semoga sabda Nabi &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; bisa menjadi renungan bagi kita semua,<br />
مَنْ كانتِ الدُّنيا همَّه فرّق الله عليه أمره ، وجَعَلَ فقرَه بين عينيه ، ولم يأتِهِ من الدُّنيا إلا ما كُتِبَ له، ومَنْ كَانَتِ الآخرةُ نيَّته جمَعَ الله له أمرَه ، وجعل غِناه في قلبِه، وأتته الدُّنيا وهي راغمةٌ<br />
&#8220;Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai puncak niatnya, niscaya Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran menghantui dirinya, sedangkan dunia tidak akan datang kepadanya melainkan sekadar apa yang telah ditetapkan. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat itu niatnya, niscaya Allah menghimpunkan segala urusannya serta menciptakan rasa cukup dalam hatinya sementara dunia datang tunduk kepadanya dalam keadaan hina.&#8221; (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah dari hadits Zaid bin Tsabit)</p>
<p>Akhirnya, marilah kita selalu menjaga amal kita agar hanya semata-mata mencari ridha atau mencari wajah  Allah saja. (***)</p>
<p><em><strong>Rubrik Fikih Keluarga Majalah Sakinah Vol. 10 No. 7</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2013/04/ketika-amalan-tercampuri-keinginan-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Majalah Sakinah Vol. 12 No. 1</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2013/04/majalah-sakinah-vol-12-no-1/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2013/04/majalah-sakinah-vol-12-no-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Apr 2013 22:43:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[beranda]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1398</guid>
		<description><![CDATA[Investasi akhirat Orang tua manapun tentu menginginkan anaknya pintar dan berprestasi. Mereka tentu akan bangga bila si buah hati menonjol di berbagai bidang. Apalagi menjadi juara dan mendapat penghargaan di sekolah maupun ajang lainnya. Makanya tak heran jika para orang &#8230; <a href="http://majalahsakinah.com/2013/04/majalah-sakinah-vol-12-no-1/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2><img class="alignleft size-medium wp-image-1399" alt="cover-1304-350px" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2013/04/cover-1304-350px-202x300.jpg" width="202" height="300" />Investasi akhirat</h2>
<p>Orang tua manapun tentu menginginkan anaknya pintar dan berprestasi. Mereka tentu akan bangga bila si buah hati menonjol di berbagai bidang. Apalagi menjadi juara dan mendapat penghargaan di sekolah maupun ajang lainnya. Makanya tak heran jika para orang tua berusaha sekuat tenaga untuk membekali anak-anak mereka dengan segudang pendidikan dan keterampilan.</p>
<p>Sayangnya, umumnya orang tua hanya peduli pada prestasi di bidang keduniaan saja. Tengok saja, umumnya orang tua tidak begitu peduli jika anaknya belum bisa baca alquran. Mereka hanya mengandalkan pada TPQ di masjid atau mushalla setempat. Beda jika yang ketinggalan adalah mata pelajaran umum, orang tua akan bersemangat mencari guru privat atau memasukkan anaknya ke bimbingan belajar.</p>
<p>Padahal, prestasi dalam hal agama (akhirat) tentunya lebih diutamakan. Sebab, anak merupakan salah satu investasi akhirat yang sangat berharga. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang shalih.”</em> (Riwayat. Muslim no. 1631)</p>
<p>Nah, bagaimana agar anak kita bisa berprestasi di dunia dan jmuga di akhirat (menjadi anak yang berbakti)? Simak sakinah pada edisi bulan ini.</p>
<p>Pembaca,mengawali edisi  ke-12 ini, ada berbapa rubrik yang kami ganti. “Pintu Sebelah”, “Sang Thabib”, “Taman Hadits”, dan “Kuis Agama” kami tiadakan. Sebagai gantinya ada rubrik tafsir al Quaran dan Tafsir Hadits. Semoga adanya rubrik baru ini menambah wawasan keilmuan para pembaca Sakinah tentang Al Quran dan hadits. Tak lupa, saran dan masukan pembaca selalu kami nantikan. Akhirnya, selamat membaca!</p>
<p>(Beranda Majalah Sakinah Vol. 12 No. 1)</p>
<p>DAFTAR ISI:</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-1403" alt="daftarisi-1304" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2013/04/daftarisi-1304.jpg" width="495" height="729" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2013/04/majalah-sakinah-vol-12-no-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Majalah Sakinah Vol. 11 No. 12</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2013/03/majalah-sakinah-vol-11-no-12/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2013/03/majalah-sakinah-vol-11-no-12/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Mar 2013 07:58:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[beranda]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[pasutri]]></category>
		<category><![CDATA[sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[suami istri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1390</guid>
		<description><![CDATA[Hilangnya Rasa Percaya Rasa saling percaya pada pasangan merupakan salah satu faktor penting keharmonisan keluarga. Jika pasutri sudah kehilangan hal itu pada pasangannya, kecemburuan, kecurigaan, dan prasangka-prasangka buruk akan mudah menghinggap. Nah, bagi pasutri sudah semestinya menjaga dan memelihara rasa &#8230; <a href="http://majalahsakinah.com/2013/03/majalah-sakinah-vol-11-no-12/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Hilangnya Rasa Percaya</h2>
<p>Rasa saling percaya pada pasangan merupakan salah satu faktor penting keharmonisan keluarga. Jika pasutri sudah kehilangan hal itu pada pasangannya, kecemburuan, kecurigaan, dan prasangka-prasangka buruk akan mudah menghinggap.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1391" alt="cover-1303-350px" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2013/03/cover-1303-350px-202x300.jpg" width="202" height="300" />Nah, bagi pasutri sudah semestinya menjaga dan memelihara rasa ini. Jangan mencoba merusaknya dengan kebohongan dan penghianatan. Ketika pasutri tidak jujur lagi pada pasangannya, ini akan menyebabkan hilangnya kepercayaan, memutuskan jalinan kasih sayang di antara mereka, sehingga menyebabkan tercegahnya kebaikan bagi mereka berdua.</p>
<p>Selain itu, kebohongan atau dusta juga berdampak terhadap anggota badan. Dusta menjalar dari hati ke lidah, maka rusaklah lidah itu, lalu menjalar ke anggota badan, maka rusaklah amal perbuatannya sebagaimana rusaknya lidah dalam berbicara. Oleh sebab itu, jika dusta ini dijadikan kebiasaan,  semakin rusaklah pelakunya dan akan menjerumuskan mereka ke arah kehancuran. Rasulullah  bersabda, ”Sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebajikan, sedangkan dusta menuntun kepada kedurhakaan.” (Muttafaq ‘alaih).</p>
<p>Untuk itu, di awal edisi ke-12 ini, Sakinah menyuguhkan tema “Saat pasutri tak lagi saling percaya”. Semoga kehadirannya, mampu memberikan dorongan bagi pembaca untuk berhati-hati agar tidak tercebur dengan penghianatan dan kebohongan terhadap pasangannya. Sehingga, rasa percaya tetap terpupuk dan terjaga dengan baik.</p>
<p>Pembaca Sakinah sekalian, mengawali edisi ke-12 ini, ada perubahan rubrik yang kami lakukan. Semoga dengan perubahan ini, menjadikan pembaca lebih senang dan puas. Selanjutnya, kritik dan saran selalu kami harapkan demi kebaikan majalah kesayangan kita ini.</p>
<p><em><strong>Rubrik Beranda Majalah Sakinah Vol. 11 No. 12</strong></em></p>
<p><strong>Daftar Isi Majalah Sakinah Vol. 11 No. 12 :</strong></p>
<p><img class="alignnone" alt="" src="http://sphotos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/544219_496493873742080_1384192059_n.jpg" width="500" height="748" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2013/03/majalah-sakinah-vol-11-no-12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Kerabat Terbaik</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2013/02/menjadi-kerabat-terbaik/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2013/02/menjadi-kerabat-terbaik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Feb 2013 07:18:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[lentera]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[kerabat]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1367</guid>
		<description><![CDATA[Seorang muslim tidaklah hidup sendiri. Seorang muslim hidup di dunia ini dikelilingi oleh banyak manusia, baik yang dekat maupun jauh. Oleh karena itulah seorang muslim hendaknya tidak menutup diri, mata dan telinga dari keadaan manusia di sekitarnya. Bahkan, Rasulullah &#8211; &#8230; <a href="http://majalahsakinah.com/2013/02/menjadi-kerabat-terbaik/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1371" alt="silaturahim" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2013/01/silaturahim.jpg" width="300" height="218" />Seorang muslim tidaklah hidup sendiri. Seorang muslim hidup di dunia ini dikelilingi oleh banyak manusia, baik yang dekat maupun jauh. Oleh karena itulah seorang muslim hendaknya tidak menutup diri, mata dan telinga dari keadaan manusia di sekitarnya. Bahkan, Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; telah menyatakan,<br />
الْمُسْلِمُ إِذَا كَانَ مُخَالِطًا النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنْ الْمُسْلِمِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ<br />
<em>“Seorang muslim jika dia mau bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka, maka itu lebih baik dari seorang muslim yang tidak mau bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.”</em> (Riwayat at-Tirmidzi, lihat ash-Shahihah, no. 939)</p>
<p>Manusia yang ada di sekelilingnya itu tentu memiliki kedudukan dan hak yang berbeda-beda. Semakin dekat keberadaan mereka maka hak pun menjadi semakin lebih besar.</p>
<h2>Kedudukan Kerabat dalam Islam</h2>
<p>Yang dimaksud dengan kerabat di sini adalah orang-orang yang memiliki kedekatan pada seseorang dari sisi kekeluargaan atau nasab keturunan baik dari pihak bapak atau ibu, seperti misalnya saudara, paman, bibi, sepupu, dan lainnya yang memiliki hubungan nasab. Dalam Islam, mereka mendapatkan kedudukan yang harus dijaga hak-haknya, sebagaimana Allah berfirman,<br />
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ<br />
<em>“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya.”</em> (al-Isra: 26)</p>
<p>Allah juga berfirman,<br />
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ<br />
<em>“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib-kerabat&#8230;”</em> (an-Nisa: 36)</p>
<p>Maka Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya semata, tidak melakukan kesyirikan dalam ibadah, kemudian Dia memerintahkan mereka untuk menunaikan hak-hak hamba, dengan memperhatikan mana yang paling dekat terlebih dahulu. Maka semakin dekat hubungan kekerabatan seseorang, semakin besar hak yang harus ditunaikan kepadanya.</p>
<h2>Hak Kekerabatan</h2>
<p>Jika demikian kedudukan kerabat dalam Islam, dan kita memiliki kewajiban untuk menunaikan hak-hak mereka, tentu kita pun harus mengetahui apa saja yang menjadi hak-hak mereka atas diri kita. Di antara hak-hak kerabat yang perlu diperhatikan:</p>
<p><strong>1- Menyambung hubungan kekerabatan.</strong><br />
Inilah yang sering dikenal dengan istilah silaturrahim, menyambung hubungan dengan siapa-siapa saja yang memiliki hubungan kekerabatan. Dan dalam hadits telah diterangkan bahwa maksud menyambung hubungan ini bukanlah sekadar membalas kebaikan kerabat, atau menyambung hubungan dengan orang yang mau berhubungan. Bahkan silaturrahim itu adalah menyambung hubungan dengan orang-orang yang memutuskan hubungan. Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; bersabda,<br />
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا<br />
<em>“Orang yang menyambung hubungan (silaturrahim) bukanlah orang yang membalas (hubungan orang lain). Akan tetapi orang yang bersilaturrahim adalah orang yang jika hubungan rahim (kekerabatannya) diputus, maka dialah yang menyambungnya.”</em> (Riwayat al-Bukhari)</p>
<p>Silaturrahim ini bisa diwujudkan dengan berbagai cara, seperti memberi manfaat kepada kerabat baik berupa manfaat materiil maupun non materiil, mengunjungi kerabat, memberi hadiah, menanyakan keadaan, memberikan salam dan lain sebagainya. Bahkan bisa dikatakan, seluruh bentuk kebaikan yang kita lakukan kepada kerabat, baik dalam urusan dunia maupun agama, maka termasuk bagian dari silaturrahim.</p>
<p><strong>2- Dakwah dan mengajak kerabat kepada jalan yang lurus.</strong><br />
Sebagaimana dahulu Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; diperintahkan untuk memberikan peringatan kepada kerabat-kerabat beliau, melalui firman Allah l,<br />
وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ<br />
<em>“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”</em> (asy-Syu&#8217;ara: 214)</p>
<p>Syekh as-Sa&#8217;di &#8211; rahimahullah &#8211; berkata, “Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; melaksanakan perintah Allah ini. Beliau pun mengundang seluruh keturunan Quraisy, secara umum maupun khusus. Beliau memberikan peringatan dan nasihat kepada mereka. Dan beliau tidak menyisakan sedikit pun dari apa yang beliau mampui melainkan beliau lakukan, seperti menasihati dan memberi petunjuk kepada mereka. Maka sebagian mereka mengikuti petunjuk, dan sebagian yang lain berpaling darinya.”</p>
<p>Dan kita sebagai umat beliau, juga hendaknya meneladani beliau dalam dakwah ini. Usahakan orang terdekat kita, keluarga kita, kerabat kita sebagai orang-orang yang juga merasakan nikmatnya mendapat petunjuk. Dan tidak sempurna keimanan seseorang sampai dia senang saudaranya mendapatkan kebaikan sebagaimana dirinya mendapatkan kebaikan.</p>
<h2>Kala Kerabat Terjerat Maksiat</h2>
<p>Berusahalah menjadi kerabat terbaik, dengan menunaikan hak-hak kerabat yang telah dijelaskan dalam syariat ini. Ketika kerabat dalam keadaan susah, berikan pertolongan. Jika dia meminta sesuatu, maka berikanlah apa yang diminta jika tidak memberatkan kita. Jika dia terzhalimi, maka tolonglah dia. Dan ketika dia berbuat zhalim, tolonglah dia untuk terhenti dari kezhalimannya. Inilah kerabat terbaik. Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; bersabda,<br />
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ<br />
<em>“Tolonglah saudaramu ketika dia berbuat zhalim atau ketika dia dizhalimi.” Seseorang berkata, Wahai Rasulullah, saya bisa menolongnya jika dia dizhalimi, lalu bagaimana jika dia berbuat zhalim, bagaimana saya menolongnya? Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; berkata, “Engkau cegah atau halangi dia dari berbuat zhalim, maka itulah cara menolongnya.”</em> (Riwayat al-Bukhari)</p>
<p>Sedangkan kezhaliman mencakup semua hal yang bertentangan dengan syariat. Karena kezhaliman itu ada tiga macam, kezhaliman terhadap hak Allah, kezhaliman terhadap diri sendiri dan kezhaliman terhadap orang lain. Oleh karena itu, ketika seorang muslim mengetahui salah satu kerabatnya melakukan maksiat, hendaknya dia mencegahnya sebelum dilakukan kemaksiatan itu, atau menasihatinya untuk berhenti dan bertaubat jika dia telah terlanjur terjerumus dalam kubang kemaksiatan.</p>
<p>Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; bersabda,<br />
الظُّلْمُ ثَلاثَةٌ، فَظُلْمٌ لا يَتْرُكُهُ الله، وَظُلْمٌ يَغْفِرُ، وَظُلْمٌ لا يَغْفِرُ، فَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لا يَغْفِرُهُ الله فَالشِّرْكُ لا يَغْفِرُهُ الله وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي يَغْفِرُهُ فَظُلْمُ العَبْدِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لا يَتْرُكُ فَظُلْمُ الْعِبَادِ فَيَقْتَصُّ اللهُ بَعْضَهِمْ مِنْ بَعْضٍ<br />
<em>“Kezhaliman itu ada tiga; kezhaliman yang tidak akan Allah biarkan, kezhaliman yang akan dia ampuni, dan kezhaliman yang tidak akan dia ampuni. Adapun kezhaliman yang tidak Allah ampuni, maka kesyirikan tidak akan Allah ampuni. Adapun kezhaliman yang akan diampuni adalah kezhaliman hamba (terhadap dirinya sendiri) dalam perkara yang ada antara dirinya dan Rabb-nya. Adapun kezhaliman yang tidak akan Allah biarkan adalah kezhaliman sesama hamba sehingga Alah akan mengqishah yang satu dengan yang lain.”</em> (Riwayat ath-Thayalisi dalam Musnadnya, lihat ash-Shahihah karya al-Albani &#8211; rahimahullah -, no. 1927)</p>
<p>Dan tentu saja kerabat yang baik tidak akan menjadikan kemaksiatan kerabatnya sebagai bahan untuk mencela. Bahkan dia akan merasa sedih dan sangat ingin membantunya terlepas dari kemaksiatan. Dia akan berusaha dengan cara-cara yang mungkin dia tempuh dengan seefektif mungkin untuk membebaskan kerabatnya dari kubangan maksiat.</p>
<p>Suatu ketika Abu Darda &#8211; radhiyallahu &#8216;anhu &#8211; pernah melewati seseorang yang telah berbuat dosa, namun disekitarnya ada orang-orang yang mencelanya. Maka Abu Darda &#8211; radhiyallahu &#8216;anhu &#8211; pun berkata kepada orang-orang yang mencelanya itu, “Bagaimana menurut kalian, jika kalian mendapati dia berada di dalam jurang yang sangat dalam, apakah kalian akan menyelamatkannya?” Mereka menjawab, ‘Tentu!’ Lalu beliau berkata, “Maka pujilah Allah yang telah menyelamatkan kalian, namun janganlah kalian mencela saudara kalian.”</p>
<p>Benarlah ucapan beliau &#8211; radhiyallahu &#8216;anhu -. Kita tidak layak mencelanya, bahkan kita layak untuk memuji Allah yang telah menyelamatkan kita dari kemaksiatan seperti yang dilakukannya, disamping kita juga terus berusaha untuk mengajaknya kembali bertaubat kepada Allah sebagaimana telah dijelaskan di atas.</p>
<p>Dan dalam usaha ini, kita tidak boleh berputus asa dari rahmat dan hidayah Allah. Jangan sampai kita menganggap bahwa kerabat kita yang bermaksiat itu sudah tidak bisa lagi diperbaiki sehingga seolah-olah kita menganggapnya pasti akan masuk ke dalam neraka, wal &#8216;iyadzu billah. Dan cukuplah Nabi kita &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; sebagai teladan dalam mendakwahi kerabat, ketika paman beliau, Abu Thalib akan meninggal dunia, Nabi &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; terus menerus mengajaknya untuk mengucapkan kalimat tauhid. Meski akhirnya Abu Thalib mati kafir, namun ini menunjukkan bahwa Nabi &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; tidak pernah putus asa dalam mendakwahi dan menasihati umatnya terutama kerabat beliau sendiri. Wallahu a&#8217;lam. (***)</p>
<p><em><strong>SUMBER: Rubrik Lentera, Majalah Sakinah Vol. 11 No. 4</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2013/02/menjadi-kerabat-terbaik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Majalah Sakinah Vol. 11 No. 11</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2013/02/majalah-sakinah-vol-11-no-11/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2013/02/majalah-sakinah-vol-11-no-11/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2013 07:52:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[beranda]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1375</guid>
		<description><![CDATA[Dosa Akibat Terlena Alhamdulillah, Sakinah kembali hadir menemui pembaca sekalian. Di bulan ini, ada suatu hari yang selalu dirayakan oleh kaum kafir karena dianggap sebagai hari kasih sayang. Benar, hari valentine, yang jatuh setiap tanggal 14 Februari. Sayangnya, banyak juga &#8230; <a href="http://majalahsakinah.com/2013/02/majalah-sakinah-vol-11-no-11/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<h2>Dosa Akibat Terlena</h2>
<p>Alhamdulillah, Sakinah kembali hadir menemui pembaca sekalian. Di bulan ini, ada suatu hari yang selalu dirayakan oleh kaum kafir karena dianggap sebagai hari kasih sayang. Benar, hari valentine, yang jatuh setiap tanggal 14 Februari. Sayangnya, banyak juga kaum muslimin terutama para generasi muda, yang ikut-ikutan merayakannya.</p>
<p>Pembaca sekalian, ini merupakan musibah ba<img class="alignleft size-medium wp-image-1379" alt="cover-1302-350px" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2013/02/cover-1302-350px1-202x300.jpg" width="202" height="300" />gi kita. Merayakan “hari besar” umat lain adalah terlarang. Terlebih lagi, perayaan itu sarat dengan maksiat. Dari ikhtilat dan khalwat, hingga menyeret ke perzinaan, na&#8217;udzubillah! Selain itu, ternyata akar perayaan itu menurut sejarah berasal dari budaya kaum paganis (musyrik). Untuk itu, hendaknya kita berusaha untuk mencegah keluarga dan kerabat kita dari perayaan semacam itu. Juga sebisa mungkin mendakwahkan pada saudara-saudara kita seiman. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kaum muslimin agar segera meninggalkan kekeliruan ini.</p>
<p>Pembaca, pada edisi ini Sakinah mengangkat tema tentang beberapa kelalaian istri yang mungkin tidak disadari. Atau,bahkan kelalaian itu dianggap sebagai hal yang biasa. Nah, semoga enggan hadirnya edisi ini, para istri segera menyadari dan meninggalkan kelalaian ini. Sebab, jika kelalaian itu merupakan dosa kecil, akan menjadi dosa besar jika dilakukan terus-menerus. Sedangkan jika kelalaian itu termasuk dosa besar, maka pelakunya perlu untuk segera bertaubat. Akhirnya, selamat membaca, semoga Allah selalu membimbing kita untuk meniti jalan kebenaran. (***)</p>
<p><em><strong>Beranda Majalah Sakinah Vol. 11, No. 11</strong></em></p>
<p>DAFTAR ISI :</p>
<p><img class="alignnone" alt="" src="http://sphotos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/600568_483336838391117_333130008_n.jpg" width="450" height="685" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2013/02/majalah-sakinah-vol-11-no-11/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manajemen Waktu bagi Para Istri</title>
		<link>http://majalahsakinah.com/2013/01/manajemen-waktu-bagi-para-istri/</link>
		<comments>http://majalahsakinah.com/2013/01/manajemen-waktu-bagi-para-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2013 07:16:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[lentera]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah]]></category>
		<category><![CDATA[majalah nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen waktu]]></category>
		<category><![CDATA[nikah sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[suami istri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahsakinah.com/?p=1358</guid>
		<description><![CDATA[Fulan  merasa gerah. Sejak beberapa buah hati mereka lahir, ia merasa istrinya terlalu sibuk mengurus anak-anak, dan kurang memerhatikan dirinya. Sementara sang istri tidak menyadari apa yang dirasakan suaminya. Ia pun heran, mengapa suaminya kini jadi terkesan dingin dan kurang &#8230; <a href="http://majalahsakinah.com/2013/01/manajemen-waktu-bagi-para-istri/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1361" alt="time_clock" src="http://majalahsakinah.com/wp-content/uploads/2013/01/time_clock.jpg" width="300" height="198" />Fulan  merasa gerah. Sejak beberapa buah hati mereka lahir, ia merasa istrinya terlalu sibuk mengurus anak-anak, dan kurang memerhatikan dirinya. Sementara sang istri tidak menyadari apa yang dirasakan suaminya. Ia pun heran, mengapa suaminya kini jadi terkesan dingin dan kurang bergairah.<br />
Seorang wanita yang sudah menikah dan punya anak, maka statusnya pun menjadi istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Selain mengurus anak, ia pun harus tetap memperhatikan, mengurus dan meladeni segala kebutuhan sang suami. Wanita yang baik akan selalu berusaha menyeimbangkan perhatiannya terhadap seluruh anggota keluarga.</p>
<p>Yang jadi masalah, seringkali kesibukan mengurus anak-anak atau rumah tangga, sangat menyita banyak waktu. Terutama saat anak-anak masih kecil dan tidak memiliki pembantu rumah tangga. Tanpa disadari, terkadang ada beberapa hal yang tampaknya sepele padahal penting, jadi terabaikan. Misalnya ketika mendengar si kecil menangis, istri pun sibuk mengurus si kecil yang ternyata BAB, sehingga tidak jadi membuatkan kopi panas untuk suami, serta menyeterika pakaian kerja suami.</p>
<p>Jika begini keadaannya, memang sangat dituntut pengertian sang suami. Suami yang baik tentu mau turun tangan untuk membantu istri, atau sekadar menyiapkan kopi sendiri. Namun, untuk lebih baiknya, tetap diperlukan manajemen waktu bagi para istri dalam mengatur rumah tangganya.<br />
Terkait dengan manajemen waktu, berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para istri:</p>
<h3>-  Memiliki perencanaan waktu rutin.</h3>
<p>Ini membuat hidup kita lebih teratur. Susunlah agenda harian, pekanan, bulanan, dan seterusnya. Juga target yang ingin dicapai. Hal ini juga sangat membantu mengingatkan tugas-tugas yang harus dikerjakan bersama deadline-nya. Bahkan dalam pekerjaan rumah tangga hal ini sangat bermanfaat. Para ibu bisa menuliskan daftar pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukan serta deadline-nya kemudian menempelkannya di tempat yang terlihat, misalnya kapan harus mencuci piring, berbelanja, menyuapi si kecil, mengajak anak-anak berjalan-jalan, mengajarkan Al Quran pada anak, dan lain-lain. Percayalah, anak-anak pun lebih menyukai keteraturan dan rutinitas dalam kegiatan mereka.</p>
<h3>- Memiliki prioritas dalam beraktivitas.</h3>
<p>Salah satu hal yang membantu dalam penentuan prioritas adalah `status hukum` aktivitas tersebut. Status hukum di sini maksudnya wajib, sunah, mubah, dan seterusnya. Yang wajib tentu saja harus diprioritaskan. Misalnya kita harus berusaha menyediakan waktu untuk bisa shalat tepat waktu di tengah-tengah kesibukan kita. Hal lainnya yang juga menjadi pertimbangan dalam menentukan prioritas adalah urutan ketaatan. Urutan ketaatan yang dimaksud adalah :</p>
<p>1. Taat kepada Allah dan Rasul</p>
<p>2.Taat kepada suami</p>
<p>3. Taat kepada orang tua.</p>
<h3>- Memiliki kebiasaan yang baik</h3>
<p>Di antaranya:<br />
- Memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah, yaitu 5 hal : sehat sebelum sakit, lapang sebelum sempit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, hidup sebelum mati.<br />
- Tidak menunda pekerjaan. Islam mengajarkan kepada kita bersungguh sungguh dalam suatu pekerjaan, kemudian segera beralih kepada pekerjaan yang lain bila pekerjaan yang pertama selesai. “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.” (al-Insyirah: 7)<br />
- Tidak menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting , artinya tidak lalai terhadap waktu.</p>
<p>- Memiliki waktu khusus untuk menimba ilmu dan mendidik diri</p>
<p>Usahakan minimal tetap memiliki waktu untuk mengikuti kajian atau menghadiri majelis ilmu. Jika tidak bisa, paling tidak sempatkan mendengarkan kaset kajian di rumah atau membaca buku dan majalah yang bisa menambah pengetahuan agama.</p>
<h3>- Memiliki waktu khusus yang menjadi `sumber energi`</h3>
<p>Terkadang kita merasa jenuh dengan berbagai rutinitas yang kita jalani. Karenanya dibutuhkan aktivitas yang dapat mengembalikan energi kita, bahkan menambah energi yang kita miliki. Sumber energi utama bagi muslimah adalah shalat, dzikir, dan doa. Sempatkan membaca Al Quran setiap hari, juga berusaha shalat malam. Ini akan menjadi energi besar dalam menghadapi berbagai tantangan. Selain itu, usahakan tidur yang cukup, bersantai dan bermain bersama anak, rekreasi, serta melakukan hobi yang kita sukai.</p>
<h3>- Memanfaatkan teknologi</h3>
<p>Bagi yang mampu, tak ada salahnya memanfaatkan teknologi untuk membantu pekerjaan rumah tangga, agar lebih praktis. Misalnya untuk menanak nasi gunakan magic com.</p>
<h3>- Bekerja sama dengan orang lain</h3>
<p>Cobalah  mendelegasikan tugas, membagi tanggung jawab kepada setiap anggota keluarga untuk menyelesaikan tugas rumah tangga. Ini  akan sangat membantu, apalagi bagi ibu yang juga memiliki aktivitas di luar rumah. Ingat, tidak semua pekerjaan rumah tangga harus dilakukan oleh istri. Rasulullah juga menjahit sepatunya sendiri.</p>
<p>Anak-anak yang sudah besar biasanya sudah bisa diandalkan untuk menyelesaikan beberapa tugas tertentu. Jangan menolak pula jika suami atau kerabat menawarkan bantuan untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga atau menjaga si kecil. Anda pun bisa mengerjakan aktivitas bermanfaat lain, atau mencicil pekerjaan yang lain.</p>
<h3>-  Menikmati peran dan bersyukur.</h3>
<p>Hendaknya kita menyadari,  setiap peran yang kita miliki adalah sebuah anugerah dari Allah yang tidak diberikan pada semua orang. Menjalani peran-peran dengan penuh rasa syukur akan membantu kita menemukan kebahagiaan. Nikmati waktu tidur, nikmati waktu memasak, nikmati waktu belajar, nikmati waktu bekerja, nikmati waktu shalat, semuanya akan menambah keindahan hidup kita.</p>
<h3>-  Memohon keberkahan.</h3>
<p>Allah-lah Yang Maha Pemilik Waktu, minta keberkahan waktu dan apa yang kita lakukan sepanjang masa hidup, sepanjang hari kita. Ikhlaskan segala aktivitas kita, agar selalu bernilai ibadah.</p>
<h3>- Sambil Menyelam Minum Air</h3>
<p>Pekerjaan rumah memang bisa dibilang tiada habisnya. Tapi, tidak usah ngoyo dalam mengerjakannya. Beristirahatlah jika merasa lelah. Lakukan sedikit-sedikit, tetapi rutin. Jika memungkinkan, cobalah melakukan dua atau beberapa pekerjaan dalam satu waktu. Misalnya bagi yang memiliki mesin cuci, sementara mesin cuci berputar, Anda bisa mencuci peralatan makan. Demikian pula saat kita di kamar mandi, bisa sekalian menyikat kloset dan lantai kamar mandi. Sambil memasak atau membereskan rumah pun, lidah kita bisa berdzikir.</p>
<h3>- Jangan Lupakan Diri Sendiri dan Suami</h3>
<p>Sesibuk apapun dalam mengurus rumah tangga, hendaknya seorang istri tetap memperhatikan penampilannya di rumah atau di depan suaminya. Perhatikan kebersihan badan dan pakaian, dan usahakan selalu berpenampilan menarik dan ceria di hadapan suami. Sesibuk apapun merawat anak, jangan lupa bila status Anda juga seorang istri. Selain anak, ada seorang laki-laki yang juga sangat mendambakan perhatian dan kasih sayang Anda.  Berdoalah kepada Allah, agar Anda bisa menjadi istri sekaligus ibu yang baik, yang diidamkan oleh setiap keluarga. Amiin. (***)</p>
<p><em><strong>Rubrik Lentera, Majalah Sakinah Vol. 10 No. 12</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahsakinah.com/2013/01/manajemen-waktu-bagi-para-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
