Dihantui Dosa Zina

Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Afwan ustadz, ana akhwat 23 th, ana punya masalah yang sampai sekarang belum ditemukan jawabannya. Sejujurnya ana pernah melakukan perbuatan dosa besar (zina), ana selalu dihantui rasa bersalah, lebih-lebih ana begitu takut akan azab Allah.
Alhamdulillah sekarang ana telah berusaha mengikuti manhaj ulama as-Salaf. Namun semakin sering ana mengikuti kajian, rasa takut ana semakin bertambah. Belum lama ini, ada ikhwan yang datang ber-ta’aruf. Kebetulan ikhwan tersebut sudah lama berislam dengan berusaha mengikuti manhaj ulama as-Salaf, tapi ana takut nantinya ikhwan tersebut kecewa pada ana karena ana punya aib. Bukankah laki-laki yang baik untuk wanita yang baik?
Apa yang harus ana lakukan? Sedangkan pernikahan sebulan lagi, mohon jawabannya ustadz? Syukran.

Jawab:

Wa ‘alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh
Alhamdulillah. Saya sering menegaskan dalam jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mirip, yang kesimpulannya sebagai berikut:

1. Kewajiban utama bagi pelaku dosa besar, seperti zina misalnya, tak lain adalah bertaubat secara tulus. Tak ada kewajiban yang lebih besar dari itu.

2. Hukuman jild atau cambuk bagi pezina yang belum menikah, serta rajam bagi yang sudah menikah bukanlah WAJIB, tapi hanya dianjurkan saja. Itu terbukti dengan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam melengos sebanyak tiga kali, baru di kali yang keempat menerima pengakuan seorang wanita pezina, yang meminta dirajam. Para ulama menjelaskan, bila itu wajib, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tak akan melengos hingga tiga kali, untuk menguji ketulusan wanita tersebut. Yakni, tidak WAJIB bagi yang berzina lalu bertaubat.

3. Besar kecilnya nilai dosa,  juga dilihat dari kapan dan di mana dosa itu dilakukan. Dosa kecil di wilayah al-Haram, digolongkan dosa besar. Mencuri di masa paceklik, di zaman kemiskinan, di mana kaum kaya enggan berzakat, lebih ringan dari mencuri di masa kemakmuran. Itulah, kenapa Umar bin Khattab rodhiyallohu ‘anhu pernah tidak memberlakukan hukum potong tangan bagi pencuri, karena kebanyakan  pencuri melakukan pencurian akibat kemiskinan hebat yang melanda mereka.

4. Dosa masa lalu pupus dengan taubat. Wanita pezina boleh menikah dengan pria muslim yang suci, kalau si wanita betul-betul bertaubat. Itu pendapat yang paling benar, seperti dijelaskan panjang lebar oleh al-Imam asy-Syaukani rohimahulloh dalam Nailul Authaar.

Ukhti yang saya hormati. Coba, kita lebih melihat persoalan pada sisi maslahatnya, dan kita akan melihat betapa Islam adalah agama maslahat, yang mengerti betul hal-hal yang maslahat bagi seorang hamba, di dunia dan di akhirat.

Pertama, mari pikirkan maslahat Ukhti yang harus menjalani kewajiban menikah. Kewajiban menikah itu pasti hukumnya. Maka, hal yang pasti ini jangan digagalkan hanya oleh bayangan, kekhawatiran, dan rasa bersalah yang mencekam jiwa. Karena, bila diteliti lebih seksama, setiap kita juga berlumur dosa. Mari, kita renungi bersama firman Allah,

“….dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf : 87)

Berzina dosa besar? Betul sekali. Tapi catatlah, bahwa dosa tidak shalat lima waktu itu jauh lebih besar dari dosa berzina. Itu mufakat di kalangan para ulama. Karena mereka hanya berbeda pendapat, apakah orang yang tidak shalat wajib sekali saja, bisa dikatakan kafir keluar dari Islam atau tidak? Selebihnya, mereka sepakat bahwa tidak shalat wajib dosanya lebih besar dari zina, menenggak minuman keras, mencuri, hingga memerkosa sekalipun. Itu mufakat, tak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama.

Sekarang, kita tengok realitas. Bila ada seorang wanita muslimah pezina yang bertaubat, menikah dengan seorang pria muslim yang dulunya jarang shalat lalu bertaubat, bukankah kondisi si pria lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan wanita tersebut? Karena dosa tidak shalat, jauh lebih besar dari dosa berzina?
Hanya saja, bayangan maksiat berzina atau mencuri, kerap lebih membekas dalam memori. Itu sebenarnya karena kurangnya wawasan kita terhadap hukum-hukum Islam itu sendiri, sehingga orang tidak shalat dianggap lebih tidak membahayakan daripada pezina.

Ini bukan berarti kita mengecilkan arti dosa, termasuk berzina. Siapa pun yang melakukannya, wajib bertaubat. Ia harus menyesali perbuatan itu sedalam mungkin. Tapi, jangan sampai menimbulkan keputusasaan sedikit pun. Taubat menghapus segalanya. Tinggal, pikirkan bagaimana menjalani hidup sesudahnya, itu saja.

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman : 34)

Kemudian, tak ada kewajiban seorang istri atau suami menceritakan segala dosanya di masa lampau. Apapun itu. Soal bekas pada diri seseorang yang pernah melakukan dosa memang berbeda-beda. Berzina menimbulkan efek fisik yang bisa saja dirasakan. Tapi, bila perzinaan itu sudah ditutup dengan taubat kepada Allah, tak ada keharusan menceritakannya, bahkan bisa jadi menceritakannya dilarang karena bisa menimbulkan kericuhan.

Bolehkah menutupi bekas perzinaan tersebut? Sangat diperbolehkan, bahkan saya menganjurkan demikian. Minumlah –maaf–  jamu sari rapet. Cucilah kemaluan dengan air sirih setiap hari, selama beberapa hari sebelum malam pertama. Niscaya kondisi keperawanan akan nyaris sama seperti semula.

Soal darah keperawanan  juga tak usah dikhawatirkan, dan tak usah memulai obrolan untuk memperbincangkannya. Jujur, lebih banyak suami atau istri yang terkejut melihat darah keperawanan itu, ketimbang sebaliknya.

Mungkin  masih ada yang mengganjal, bila suatu saat suami mempertanyakan, “Apakah Engkau masih perawan atau tidak?”

Bagi saya –wallaahu A’lamu bishshawaab–  itu bisa dimasukkan dengan diperbolehkannya berbohong kepada suami atau istri, demi kemaslahatan perkawinan. Tapi, gunakanlah bahasa isyarat, itu lebih baik. Kalau ditanya, “Apa Engkau masih perawan?” Jawab saja misalnya, “Aku masih gadis…, Mas.”

Adanya pertanyaan itu adalah kemungkinan yang sangat kecil sekali. Tapi, bila itu terjadi, bagi saya boleh saja seseorang berbohong menutupi aibnya di masa lalu, demi kebahagiaan rumah tangga. Karena, Allah sudah membuka pintu ampunan bagi setiap yang bertaubat.

“Kebohongan” itu adalah untuk menghindari mudharat karena adanya seseorang yang tidak bisa memaafkan dosa yang Allah sendiri saja bisa mengampuninya. Itu merupakan “kebohongan” untuk menghindari sikap zhalim orang yang menghakimi pelaku dosa yang telah bertaubat, dengan emosi dan kemarahannya. Jadi, kebohongan itu sudah tepat pada tempatnya, bila tujuannya adalah menjaga keutuhan rumah tangga, dan menghindari kepanikan orang yang tak mengerti arti taubat sesungguhnya.

Namun bila kondisi suami terlihat memungkinkan Ukhti untuk berterus terang, karena ia begitu lapang menerima segala kekurangan istrinya, termasuk meskipun ia pernah berzina, apalagi kalau ia yang lebih dahulu bercerita tentang masa lalunya yang ternyata juga sama kelamnya, apalagi ia juga bercerita bahwa ia dahulu sering berzina, maka silakan menceritakannya.

Asal diyakini bahwa itu tak akan membuatnya marah, lalu menghancurkan mahligai rumah tangga yang sudah terbangun secara baik sebelumnya. Awali dengan pertanyaan misalnya, “Bagaimana kalau istri Mas, dahulu juga banyak melakukan dosa, seperti berzina misalnya?” Bila ia mengatakan, tak masalah, ceritakanlah kepadanya hal itu, dan tunjukkan penyesalan mendalam di hadapannya. Bila perlu, menangislah seiring pengungkapan penyesalan tersebut. Bila itu terjadi dan memungkinkan, alangkah baiknya.

Namun bila hal itu tak memungkinkan, apalagi gelagat bahwa suami adalah jenis orang yang tak mau mendengar aib istri di masa lalu, tutupilah semua itu sebisa mungkin. Bagaimana bila suatu saat ketahuan? Jangan khawatir. Allah tak akan menzhalimi hamba-Nya yang bertaubat. Allah menyukai para hamba-Nya yang bertaubat. Allah pasti melindungi Ukhti. Kalau karena itu dia menceraikan Ukhti, catat baik-baik Ukhti yang saya hormati: mungkin Allah telah menyiapkan calon suami yang jauh lebih baik, jauh lebih mengerti kondisi Ukhti, dan jauh lebih berguna buat Ukhti di dunia dan di akhirat. Allah tak akan menzhalimi para hamba-Nya. Ini realita. Doa kami, selalu menyerta.

Baarakallaahu laka, wa baaraka ‘alaika, wa jama’a baina kuma fii khair

Rubrik Konsultasi pra nikah, majalah Nikah Sakinah edisi Juni 2010

Tagged under: , , , ,

57 Comments

  1. Dwi Prijanto

    ustad
    assalamu'alaikum
    saya mau tanya hukum talak sebelum istri digauli gimana? apakah jatuh talak dan masuk ke katagori talak yang mana.
    dan bila suaminya (belum pernah menggauli istrinya ) mengajak rujuk gimana caranya, mhn penjelasssanya. trimakasih

    1. admin

      Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh
      Jika talak dilakukan sebelum istri digauli sama sekali, maka jatuh talak bain shughra. Artinya, istri tidak memiliki masa iddah jika ditalak dalam keadaan demikian, berdasarkan firman Allah:
      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِن قَبْلِ أَن تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا
      “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.” (al-Ahzab: 49)
      Yakni, istri tidak memiliki masa iddah yang mana masa iddah adalah masa menunggu dimana pada masa itu suami bisa merujuk istrinya yang ditalak. Nah, karena istri tidak memiliki masa iddah dalam keadaan ini, maka tidak ada rujuk pada talak tersebut, karena itulah disebut sebagai talak bain.
      Dan seandainya si suami ingin kembali kepada istri yang ditalak dalam kasus seperti ini, dia harus mengadakan akad nikah yang baru lagi. Demikian penjelasannya, wallahu a’lam.

  2. Ihsan

    Pak Adnin,

    Saya mau tanya yang berkaitan dengan masalah yang di atas juga. Begini ceritanya Pak Admin, saya belum pernah sama sekali berpacaran apalagi saya menyentuh wanita. Suatu saat saya berkenalan dengan seseorang wanita dan itupun di kenalkan dengan teman saya. Setelah itu saya jadian/pacaran dengan wanita tsb.
    Kemudian kami berniat untuk menikah. Selama berpacaran kurang lebih 8 bulan saya menanyakan kepada calon istri saya ini yaitu sebagai berikut;
    1. Saya Bertanya: Berapa banyak mantan pacar kamu sebelum saya.
    Dia menjawab: ada dua, tapi yang pertama cuman cinta monyet waktu di SMA
    2. Saya Bertanya: Seberapa jauh hubungan pacaran dengan mantan pacar kamu yg ke 2
    Dia menjawab: Sebatas jalan-jalan dan 5 kali ciuman bibir tidak lebih katanya
    3. Apakah masih kontak2 dengan dia lagi
    Dia menjawab: tidak lagi dan di kuatkan juga oleh ibu-nya dia lain waktu

    Atas jawaban diatas sebenarnya saya tidak percaya, tetapi mungkin karna saya terlalu cinta dan sayang saya percaya saja.

    Selama saya berpacaran, saya sering dan tak terhitung yang telah saya ungkapkan “tetap selalu jujur dan saya bilang juga “sekali orang berbohong dan orang susah mempercayai kita”. Kenapa saya bilang demikian agar dia jujur sejujurnya dan saya juga kelemahan saya karna saya tidak suka orang pembohong.

    Setelah itu kami berniat nikah, dan malam pertama kami tidak sewajarnya seorang wanita yaitu pecah perawan “tidak mengeluarin darah”. Sya juga pernah baca artikel dunia kedokteran bahwa tidak semua perempuan mengeluarin dara di malam pertama malah sampai melahirkan.

    Sebenarnya saya ga percaya, tapi saya buang jauh2 pikiran itu. Setelah setahun berumah tangga, saya tanyaiin lagi. Apakah kamu masih perawan waktu di malam pertama dan saya minta dia bersumpah dengan al-quran dan dianya melakukan itu dan dia menjawab: “saya tidak sepertian pikiran dan dugaan saya” maksudnya saya menyatakan bahwa dia sudah pernah berbuat zina.

    Kemudian setelah 2 tahun saya tanya unlang lagi dan ternyata dia menjawab: dia pernah melakukan hubungan suami istri dengan mantannya tetapi tidak sampai kebobolan dan telah dilakukan sebanyak 5 kali katanya. dalam pikiran saya, tidak mungkin tidak kebolan/imposibble. Saya menjadi tidak percaya lagi sama dia dan saya sangat shock berat. Entah apa dosa apa yang saya lakukan sehingga saya di tipu mentah mentah demikian, dan saya sering melamun dosa apa yang saya lakukan.
    Di dalam al-quran sudah di jelaskan bahwa orang baik pasti mendapatkan pasangan yang baik pula. Tetapi kenapa dengan saya????????????????! Saya merasa tidak adil!!!!!!!!!!

    Sebenarnya, alangkah indahnya waktu dulu dia jujur dan saya juga ga mungkin mutisinnya karena saya paling suka orang yang jujur.

    Yang saya tanyaiin, apakah yang harus saya lakukan? Saat ini saya berniat untuk menceraikannya.

    Mohon masukan serta jawaban atas pernyataan di atas. Saya berharap mendapatkan pencerahan dari Pak admin maupun teman2 sekalian.

    Terima kasih

    1. admin

      Kejujuran memang salah satu penopang untuk membina kelanggengan dalam rumah tangga, tapi tidak hanya itu, banyak hal lain yang bisa menyebabkan kelanggengan rumah tangga. Seperti misalnya sikap saling menghormati, saling perprasangka baik, saling mencintai dan lain sebagainya… dimana terkumpulnya hal-hal baik itu bisa menjadi “penambal” bagi hal-hal buruk yang mungkin atau bahkan pasti ada pada pasangan. Bahkan bisa jadi salah satu sifat baik yang menonjol bisa mendorong sifat baik yang kurang menonjol pada pasutri.

      Berkaitan dengan kasus di atas, yang bisa saya tangkap, perbuatan keji yang dilakukan itu terjadi sebelum pernikahan. Jika memang demikian, dan itu adalah masa lalu, maka sebagai suami hendaknya menasihatinya dan lebih mendorongnya untuk bertaubat kepada Allah ta’ala. Dan saya berharap pengakuannya itu timbul karena memang ingin bertaubat kepada Allah. Atau bahkan kemungkinan dia telah bertaubat dan tidak ingin mengungkit-ungkitnya lagi, namun karena desakan pertanyaan yang sering dilontarkan sehingga akhirnya dia jujur mengakuinya.

      Memang seorang yang berzina tidak layak kecuali bagi pezina juga atau orang yang musyrik, akan tetapi lain halnya jika dia telah bertaubat. Karena seorang yang bertaubat kepada Allah bagaikan orang yang tidak memiliki dosa.

      Dan perasaan Anda akan ketidakadilan sebagaimana yang Anda sebutkan, saya harap dibuang jauh-jauh. Karena ini adalah salah satu di antara takdir-takdir Allah yang Allah pasti menakdirkannya dengan keadilan dan hikmah, tidak dengan kezhaliman. Bisa jadi musibah yang menimpa Anda karena perbuatan dosa yang pernah Anda lakukan tapi Anda tidak mengingatnya atau tidak mengetahuinya. Jangan sekali-kali mengatakan “apa dosa saya?” seolah-olah kita tanpa dosa. Ketahuilah bahwa manusia penuh dengan dosa. Terlebih lagi –mohon maaf– apa yang pernah Anda lakukan (yakni berpacaran) juga termasuk sesuatu yang tidak dibenarkan dalam Islam, karena itu adalah salah satu jalan yang bisa mendekatkan diri kepada perbuatan keji. Dan Allah telah melarang kita mendekati perbuatan keji.

      Kembali kepada permasalahan, cobalah Anda renungkan dengan mengedepankan prasangka baik terhadap istri Anda, karena dia telah menjadi istri Anda, menjadi bagian dari hidup Anda.

      Saya hanya bisa menasihatkan, jangan terburu-buru memutuskan untuk bercerai, benahilah diri dan istri untuk lebih mendekat kepada Allah, untuk bertaubat kepada Allah. Karena dengan mendekat kepada Allah dan bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar.

      Jadikanlah apa yang Anda alami saat ini sebagai titik awal untuk membenahi semuanya, karena semuanya telah menjadi terang. Mulailah bersama-sama dengan istri untuk melakukan pembenahan, terutama dalam hubungan kepada Allah. Dan saya yakin, istri Anda juga ingin melakukan pembenahan bersama-sama dengan Anda.

      Pelajarilah agama Islam ini dengan benar, karena tidak mungkin kita bisa mendekat dan bertakwa kepada Allah dengan benar kecuali dengan mengilmui agama Islam ini dengan benar.

      Berdoalah memohon kepada Allah untuk mengampuni dosa-dosa yang telah lalu, memberi taufik untuk bertaubat, dan kembali kepada jalan Allah serta istiqamah di atasnya.

      Saya yakin jika sebuah keluarga benar-benar bisa mendekatkan diri dan bertakwa kepada Allah dengan sebaik-baiknya, keluarga itu akan menjadi baik meskipun sebelumnya carut marut banyak masalah atau meski sebelumnya sering terjerumus ke dalam kemaksiatan. Ingatlah bahwa segala sesuatu adalah mudah bagi Allah.
      Wallahu a’lam.

  3. Vira Libragirl

    askum ustad
    setahu saya,, dosa zina yng d lakukan oleh seorng wnita atau laki2 yg belum menikah harus di hukum dg cara mengasingkan keduanya,, n lw yang sudah menikah harus d hukum rajam,, apkah dg bertobat aja bisa di ampuni dosanya? tolong penjelasannya
    n satu lagi,, gmn cara untuk bertobat dari dosa ini?

    1. admin

      Sebelumnya, mohon untuk penulisan salam ditulis dengan lengkap agar tidak dipahami dengan salah.

      Memang benar hukuman had zina seperti cambuk seratus kali (untuk yg blm menikah) dan rajam (utk yg pernah menikah) merupakan salah satu cara untuk bertaubat dan untuk menggugurkan dosa zina tersebut. Akan tetapi pelaksanaan itu hanya berhak dilakukan oleh penguasa agar tidak terjadi banyak mafsadat (kerusakan). Namun hal ini bukan berarti pelaku zina tidak bisa bertaubat jika tidak dilaksanakan hukuman tersebut, apalagi pada kondisi dimana penguasa tidak menegakkan hukuman tersebut. Bahkan siapa saja yang bertaubat dari dosanya dengan sebenar-benar taubat; meninggalkan perbuatan dosa itu, menyesali perbuatan dosanya dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, serta memperbagus amal-amalnya dengan amal shalih yang disyariatkan, niscaya Allah akan mengampuninya.

      Allah berfirman,
      وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71)
      “Dan orang-orang yang tidak menyembah sesembahan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (al-Furqan: 68-71)

  4. lukz hakim

    subhanallah …
    aku merasa terenyuh mendengar jawaban dari admin yang sangat santun dan bersahaja … jawaban yang sebenar2 nya jawaban … jawaban yang berdasarkan hati …
    ada kah group facebook majalah sakinah ?

    1. admin

      Segala puji hanya milik Allah semata…
      ada group facebook sakinah “Club S@kinah” tapi admin fb sementara ini jarang digrup itu
      kalau halaman facebook “MajalahKeluargaSakinah” silahkan di like kalau belum..

  5. hamba Allah

    Alhamdulillah, terimakasih atas pencerahannya.

    Semoga Allah senantiasa membimbing saya untuk tetap berada dijalan yg lurus. Agar tak lagi terjatuh dlm perbuatan zina. Semoga Allah mengampuni semua dosa yg pernah saya perbuat :)

  6. Jodi

    Marilah kita taubati dosa sekecil apapun apalagi dosa besar agar kita mendapatkan kasih sayang Allah SWT, dan mendapat pahala taubat itu ( Dicatatat Sebagai suatu kesalehan) karena adanya peningkatan keimanan dalam diri kita , hingga mengantarkan kita sebagai benar-benar hamba yang bertaqwa, dan dimaafkan segala dosanya dan dimasukkan dalam surgaNya serta dijauhkan dari siksa jahanamNya. Amin…Amin…Amin..

  7. MENCARI RIDHO ALLAH

    assalamualaiku wr,,wb,,
    saya seorang perempuan,,,dimasa lalu saya,saya pernah melakukan zina ( dosa besar ),,,
    yang sampai skrg mmbuat hatiku tak tenang,,setip kali mengingatnya,,,diriku sungguh jijik,,,
    tapi dulu saya tidak sampai berhubungan badan ( melakukan hal layaknya suami istri ) tapi menghampiri,,,dulu ketika saya dalam keadaan terlena saya masih mengingat akan dosa melakukan hal itu,,,disebabkan itulah saya tidak sampai berhubungan badan,,,
    Astaghfirullah,,betapa hati & fikiran saya dulu hina,,,
    dan sekarang ada seorang ikhwan yang ingin mmpersuntingku,,,yang mmbuat hati gelisah adalah krn dia seorang yang beragamanya baik,,walaupun sya sgt mengharapkan lelaki seprtinya
    pertanyaan saya ” apakah saya pantas untuknya sedangkan saya punya masa silam yg hina ”
    dan yang mmbuat saya resah adalah ada lagi seorang ikhwan yang mengginkan saya sebagai pendamping hidup,,tapi sya menolaknya dikarenakan llaki tersebut kehidupannya dipenuhi dgn hal2 yang kurang baik ( suka minum khamar ) lagi pula dia bersal dati keluarga yang bisa dikatan syirik ( krn suka bawa sesajen ke sungai & pohon besar )

    meskipun saya sedar saya sendiri orng yang gak baik,,tapi saya betul2 ingin bertaubat,,dan saya sangat mengharapkan seorang lelaki yang mampu membimbing diriku menjadi wanita yang soleha,,,,& masalah itu bertambah krn lelaki yang pernah ada di masa laluku yg kelam itu,,masih menghrapkan saya menjadi istrinya,,,tapi sungguh berat karena org tua & sebagian saudaranya tidak meridohi keinginannya,,begitu juga dgn org tuaku.
    yah ALLAH apakah ini hukuman untukku akan dosa2 yang telah aku peerbuat

    bagaimana solusinya ???

    1. admin

      Wa’alaikumussalam warohmatulloh wa barokatuh
      Alhamdulillah, dari apa yang Saudari tuturkan, nampaknya Saudari benar-benar ingin bertaubat dari perbuatan kelam saudari. Kami berharap keinginan saudari benar-benar keinginan yang tulus dan kuat. Dan kami berdoa semoga Allah memberi taufik kepada Saudari untuk benar-benar bertaubat dari dosa saudari dan menjadikan Saudari sebagai wanita Shalihah.
      Dari penuturan saudari, alhamdulillah kami melihat bahwa saudari belum sampai melakukan perbuatan zina yang hakiki. Karena yang dimaksud dengan zina itu adalah apa yang dilakukan sebagaimana pasangan suami istri. Meskipun demikian, apa yang saudari lakukan juga termasuk dosa-dosa besar yang memang selayaknya Anda bertaubat darinya, dan memohon kepada Allah untuk ditunjukkan jalan taubat darinya.
      Nasihat kami:
      Pertama, bersyukurlah kepada Allah yang dahulu telah menjadikan Saudari ingat akan dosa sehingga tidak jadi melakukan perbuatan itu.
      Kedua, Jadikanlah perbuatan kelam yang pernah saudari lakukan sebagai sarana untuk menghinakan diri dan merendahkan diri di hadapan Allah, sehingga hal itu bisa mendorong Saudari untuk berusaha sekuat tenaga menjadi wanita shalihah. Jangan jadikan masa lalu sebagai jalan untuk berputus asa, karena jika demikian berarti Saudari telah memberikan peluang kepada setan untuk menjerumuskan Saudari kepada dua kesalahan; kesalahan pertama adalah dosa yang telah lalu dan kesalahan kedua adalah putus asa dari rahmat Allah.
      Ketiga, jika Anda benar-benar ingin bertaubat, maka segeralah menikah, karena dengan menikah akan lebih menjaga kemaluan.
      Keempat, Jika Anda ingin menikah, maka pilihlah orang yang memiliki agama dan akhlak yang baik, dan tidak perlu Anda mengungkit-ungkit masa kelam Anda, kecuali dalam hati saja untuk dijadikan sebagai cambuk agar Anda harus menjadi wanita yang shalihah sebagaimana telah dijelaskan pada poin kedua di atas. Dan jangan sibukkan pikiran Anda dengan pertanyaan, “apakah saya pantas untuknya…” karena dikhawatirkan pikiran itu bisa mengundurkan Anda dari keinginan Anda berbenah diri.
      Kelima, carilah teman-teman wanita shalihah, dan bekalilah diri dengan ilmu, dalam rangka menempa dan membina diri menjadi wanita shalihah.
      Wallahu a’lam

  8. hery yana al-bakasiy

    assalamu’alaikum…yaa ustadz,bgaimana sikap ana trhadap temen ana yg dia telah brbuat zina,.apakah ana jauhin dia atwkah ana ttp bertman dngn dia..??memang sich dahulunya dia trgolong sbagai anak muda yg nakal,kmudian dia di brikan hidayah mngenal manhaj salaf,dan mau ikut ta’lim.akan tetapi skarang dia telah brbuat zina..ana malu tadz,karna ana sering ngajak dia ngaji..tapi skarang dia telah menzinahi anak orang..

    1. admin

      Wa’alaikumussalam warohmatulloh..
      Pertama, kita memuji Allah yang telah memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki menuju jalan yang benar. Dan ini merupakan nikmat yang sangat teramat besar. Terlebih lagi jika Dia memberikan keistiqamahan kepada kita untuk terus belajar dan belajar. Karena dengan ilmulah seseorang akan mendapat kebaikan.
      Kemudian, berkaitan dengan apa yang Saudara sampaikan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
      Pertama, bahwa perkataan seorang muslim yang mengklaim bahwa saudaranya berbuat zina adalah tuduhan (qadzf) yang perbuatan ini juga merupakan dosa besar, jika dia tidak membawa bukti (4 saksi, yang melihat jelas perzinahan itu). Dan dalam hukum Islam perbuatan semacam ini memiliki hukum had tersendiri. Maka di sini kiranya kita perlu berhati-hati untuk mengatakan si fulan berbuat zina.
      Kedua, seandainya pengetahuan saudara tentang kasus teman Anda barasal dari pengakuannya sendiri, maka bagi seorang muslim hendaknya menutupi aib saudaranya seraya menasihatinya untuk bertaubat darinya dan kembali ke jalan yang benar. Lalu berikanlah solusi untuknya, untuk bisa bertaubat dan meninggalkan perbuatan buruknya, ajaklah dia untuk lebih banyak berteman dengan orang-orang shalih dan menjauhi teman-teman nakal yang mungkin masih banyak dari teman-teman lamanya, doronglah dia untuk segera menikah, karena dengan menikah seseorang akan lebih bisa menjaga kemaluannya. Dan seandainya dia telah bertaubat, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk mencelanya atau menjauhinya, karena “Orang yang telah bertaubat dari dosa, bagaikan orang yang tidak memiliki dosa itu.”
      Wallahu a’lam.

  9. hamba allah

    kasus saya, saya menikah dengan laki2 yang pernah berzina. Sebelum menikah dia telah jujur n mengaku sangat menyesali n telah bertobat,,,melihat kesungguhannya dan hasil istikharah saya memutuskan untuk menikah. sekarang setelah 8 bulan menikah,,,beliau bisa menunjukan menjadi suami yang baik. hanya masalahnya terkadang hadir dalam hati saya rasa sedih kenapa berjodoh dengan laki2 yang pernah berzina padahal selama ini saya sangat menjaga hubungan dengan lawan jenis (walaupun sayapun pernah pacaran dengan tetap menjaga *termasuk pegangan tangan sangat saya jaga),,,dan hal yang paling mengganggu adalah saat pikiran jelek bahwa suami saya masih teringat dengan mantannya itu (mengingat zina merupakan hubungan yang sangat intim). Tapi, saya selalu berusaha untuk tidak mengungkit hal itu lagi.
    Mohon doanya pak ustadz dan sodara2 semua agar saya bisa benar2 ikhlas dengan masa lalu suami saya itu…selalu berposotif thinking dan menjadi kel SAMARA selamanya :)

    1. admin

      Alhamdulillah, semoga Allah memberkati Anda dan suami Anda. Menjadikan keluarga Anda sebagai keluarga muslim yang diberkahi oleh Allah, melahirkan anak-anak yang shalih dan bermanfaat bagi islam dan kaum muslimin. Sedikit nasihat dari kami, hendaknya Anda benar-benar bersyukur telah mendapatkan seorang suami yang jujur, baik terhadap keluarga. Berkenaan dengan pikiran buruk yang Anda sampaikan, maka lebih baik dibuang jauh-jauh, karena sudah nyata bahwa suami Anda telah bertaubat dan telah menunjukkan perbaikan. Tinggal Anda yang hendaknya menunjukkan sikap baik kepada suami, untuk lebih menjaga keistiqomahan taubat suami. Jika suami telah merasa senang dengan Anda, maka tentu saja dia tidak akan lagi berpikiran yang tidak baik, insya Allah. Gantilah pikiran buruk itu dengan persangkaan yang baik, agar akibatnya menjadi lebih baik. Dan ingat, sikap baik Anda kepada suami, taat kepada suami, berhias hanya di hadapan suami, menyenangkan suami dan lain sebagianya, adalah salah satu bentuk syukur Anda kepada Allah karena telah memberikan suami yang baik. Selain itu, sikap-sikap tersebut bisa bernilai ibadah jika Anda meniatkan demikian, dan bisa menjadi penyebab Anda masuk surga. Sekali lagi, semoga Allah memberkahi Anda dan keluarga Anda.

Back to top