Terpaksa Meninggalkan Tunangan

turn_back_road_sig_450Assalamualaikum Ustadz, ada yang ingin saya tanyakan. Saya sudah bertunangan. Tapi karena saya tidak pernah merasa bahagia bersamanya, maka saya ingin berpisah,dan semua sudah terlaksana dengan musyawarah dan baik-baik saja, tapi beberapa bulan kemudian kami berkomunikasi lagi lewat telpon tanpa sepengetahuan orang tua dan kami menjalin hubungan lagi. Tapi, orang tua saya melarang keras karena merasa sudah saya permalukan dan sekarang saya ingin kembali lagi. Menurut orang tua, itu sama saja bikin malu dua kali keluarga besar saya. Tapi kali ini saya benar-benar baru sadar bahwa saya cinta dia ustadz. Dan orang tua saya memberi pilihan, orang tua atau lelaki itu. Akhirnya saya pilih orang tua. Apakah keputusan saya tidak termaafkan Ustadz, karena saya mengecewakan mantan tunangan saya untuk kedua kalinya? Dan bagaimana bila ditinjau dari sisi syariat Ustadz?

Mumum

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Ukhti yang saya hormati, pertanyaan Anti tentang dosa tidaknya wanita yang meninggalkan tunangannya adalah pertanyaan tentang realita yang sering terjadi belakangan ini. Namun, terkadang makna pertunangan masih bias, artinya definisi pertunangan itu masih belum jelas karena setiap orang mendefinisikan sesuai pengetahuan mereka masing-masing.

Karenanya, sebelum membahas hukum membatalkan pertunangan atau meninggalkan tunangan, kita harus mengenal terlebih dahulu definisi dan maksud dari pertunangan.

Hakikat pertunangan dan hukumnya

Pertunangan dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia” adalah bersepakat akan menjadi suami istri.

Dari definisi ini, kita mengenal bahwa pertunangan itu hanyalah kesepakatan antara pria muslim dengan wanita muslimah untuk menikah di waktu tertentu, karena pada saat itu keduanya masih ingin menyelesaikan studi mereka, atau suami masih ingin merawat kedua orang tuanya setahun atau dua tahun lagi.

Bertolak dari hal ini, maka pertunangan hukum asalnya adalah mubah karena hanya sebuah kebiasan di masyarakat, selama tidak diiringi dengan hal-hal lain yang dilarang agama. Hal ini berbeda dengan khitbah (lamaran) yang memang ada dasar khusus dari syariat. Karena khitbah adalah permintaan resmi yang disampaikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan dengan maksud yang jelas yaitu menikahinya.

Jika pertunangan hukum asalnya mubah selama tidak diiringi dengan hal-hal yang dilarang syariat, adapun khitbah maka hukumnya juga mubah menurut jumhur ulama berdasarkan firman Allah, “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran” (al-Baqarah: 235) dan hukum khitbah (meminang) bisa sunnah menurut syafi’iyyah berdasarkan perbuatan Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – yang mengkhitbah Aisyah bintu Abu Bakar dan juga mengkhitbah Hafshah bintu Umar selama tidak ada penghalang-penghalang khitbah seperti wanita yang haram ia nikahi atau wanita yang masih dalam masa iddah.

Adapun pertunangan yang terjadi belakangan ini, yaitu kesepakatan untuk saling menikah tanpa batas waktu yang ditentukan, mereka terus dalam status tunangan dan telah melakukan perbuatan-perbuatan selayaknya suami istri. Itu adalah budaya barat yang jelas-jelas diharamkan syariat islam. Karena yang melegalkan seseorang melakukan perbuatan selayaknya suami istri hanyalah akad pernikahan yang resmi.

Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – menegaskan, sentuhan lawan jenis bukan mahram adalah perkara terlarang, apalagi hubungan layaknya suami istri.

Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda,

“Seandainya kepala salah seorang di antara kalian ditusuk dengan jarum dari besi, niscaya lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabir XX/211 dan dishahihkan oleh Syekh al-Albani v dalam ash-Shahihah)

Demikian pula mengikuti kebiasaan mereka yaitu pertunangan yang diikuti tukar cincin, pakai baju warna tertentu, perayaan yang bercampur di dalamnya laki-aki dan perempuan. Itu semua adalah hal baru yang diada-adakan, bentuk kemaksiatan yang jelas, dan juga merupakan bentuk tasyabuh dengan orang-orang kafir.

Pertunangan semacam ini adalah perkara baru, karena islam mengajarkan mengajarkan kepada orang yang ingin menikah untuk mengkhitbah (melamar) wanita tersebut melalui walinya. Bukan justru perjanjian untuk menikah yang diumumkan seperti halnya akad pernikahan dan diiringi kemaksiatan seperti campur baur laki-laki dengan wanita bukan mahram.

Pertunangan semacam ini adalah kemaksiatan, karena antara pihak laki-laki dengan wanita seling menyentuh, berbicara mesra, dan lain sebagainya. Padahal mata, lisan, tangan, dan hati seseorang itu bisa berzina. Mata yang memandang wanita bukan mahram adalah bentuk zina mata, lisan yang berbicara dengan mesra dan tangan yang bergandengan atau saling menyentuh adalah bentuk zina, demikian pula hati yang saling memikirkan.

Pertunangan semacam ini juga merupakan bentuk tasyabuh karena tukar cincin adalah kebiasaan orang-orang kafir. Sebagian mengatakan itu kebiasaan Mesir kuno, sebagian lain itu kebiasaan Yahudi, dan ada juga yang menyatakan itu kebiasaan orang-orang Nasrani. Yang terpenting itu adalah kebiasaan orang-orang kafir, yang kita dilarang untuk tasyabuh dengan mereka:

Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, berarti ia termasuk golongan kaum tersebut.” (Riwayat Ahmad dan Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syekh al-Albani v dalam Shahih al-Jami’ : 6025).

Kemaksiatan pertunangan seperti ini akan semakin besar jika cincin yang digunakan adalah cincin emas, padahal islam melarang kaum lelaki memakai perhiasan emas.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – melihat seorang lelaki yang memakai cincin emas di tangannya, maka Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – mengambil cincin tersebut lalu melemparnya seraya berkata, “Akankah salah seorang di antara kalian dengan sengaja menuju bara api neraka lalu meletakkannya di tangannya?!” Kemudian para sahabat pun berkata kepada lelaki tadi setelah berlalunya Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – , “Ambil cincinmu dan gunakanlah untuk hal yang lain.” Ia pun menjawab, “Tidak, demi Allah aku tidak akan mengambil apa yang telah dilempar oleh Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -.” (Diriwayatkan oleh Muslim no: 2090)

Bolehkah meninggalkan tunangan?

Pertunangan itu tidak mengikat, artinya boleh bagi keduanya membatalkan pertunangan jika memang tidak ada kecocokan di antara mereka berdua atau ada maslahat lain. Karena memang pertunangan hanyalah “janji keinginan”, bukan perjanjian yang mengikat. Sehingga jika salah satu pihak ingin hasratnya menikahnya meninggi, kemudian pihak lain belum siap, maka pihak yang hasratnya menikahnya tinggi boleh membatalkan pertunangan dan menikah dengan wanita atau laki-laki lain.

Sedangkan dosa atau tidak, dilihat dari alasan pembatalan pertunangan tersebut. Jika memang salah satu pihak membatalkan pertunangan karena melihat ada maslahat yang lain, atau mungkin salah satu pihak sudah benci, tidak lagi cocok dengan tunangannya karena melakukan kemaksiatan atau pelanggaran lainnya, maka ia tidak berdosa. Namun, jika ia membatalkan pertunangan tanpa ada sebab sama sekali, maka ia berdosa karena telah ingkar janji.

Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – menegaskan,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخَلَفَ

“Tanda-tanda munafik itu ada tiga, yaitu jika berbicara ia berdusta, jika diberi kepercayaan ia khianat, dan jika berjanji ia mengingkari.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)

Ukhti yang saya hormati … Jika pertunangan Anti termasuk pertunangan yang hanya janji kesepakatan untuk menikah tanpa diiringi pelanggaran-pelanggaran syariat dan tunangan Anti termasuk lelaki yang taat beragama, berakhak mulia, Anti pun juga mencintainya, maka diskusikanlah dengan keluarga dengan kepala dingin. Ajaklah orang tua musyawarah mencari solusi dari alasan-alasan orang tua anti yang melarang anti untuk melanjutkan pertunangan anti menuju pernikahan. Kemudian, mintalah kepada tunangan Anti untuk melamar Anti dan mempercepat hari pernikahan sehingga tidak terombang-ambing oleh fitnah syahwat karena harus menahan dari saling bertemu lebih lama lagi.

Namun, jika pertunangan Anti adalah pertunangan yang diiringi kemaksiatan dan pelanggaran syariat, seperti sering telpon, khulwat, bergandengan tangan, dan seterusnya, maka tindakan Ukhti untuk meninggalkan tunangan tentunya tindakan yang telah tepat dan benar demi menjaga agama dan kehormatan. Demikian, semoga memberi pencerahan kepada kita. (***)

Sumber: Konsultasi Pranikah, Majalah Sakinah, Vol. 11 No. 5

Tagged under: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top