Bingung Menghadapi Cobaan

Assalamu’alaikum warhmatullahi wabarakatuh,
Bismillah. Ustadz, kami telah menikah jalan 1 tahun. Saya menikah dengan-nya tanpa embel-embel pacaran atau comblang, sekadar PDKT/taa’aruf. Sebelum menikah saya sudah bekerja, walaupun masih “nebeng kerja” sama orang tua.
Yang sempat menjadikan saya kepikiran, sebelumnya saya sempat ketemu teman bahkan saudara yang sudah jauh-jauh hari dan sempat sharing. Begini kira-kira yang jadi masalah saya,
“Kenapa ya, orang yang berumah tangga dengan niat ibadah dan berharap keturunan dan sebagian dari kita mampu secara finansial malah justru susah diberi keturunan? Kalaupun diberi, ada saja hambatannya. Entah keguguran, mati dalam kandungan, penyakitan, cacat, idiot, dan proses kelahirannya susah.
Sementara mereka yang ingin berumah tangga juga,walaupun secara finansial SPP pun belum bisa  tercukupi, tapi cepat diberi keturunan. Kalau yang hamil di luar nikah, saya gak heran/gak bikin iri. Mereka yang pada melakukan hal itu, sepengetahuan ana, anak turunan mereka sehat-sehat saja, mudah persalinannya dan anak-anaknya jarang sakit.  Atau, gak ada yang aneh-aneh  gitu. Kok gitu  ya Tadz?
Tolong kasih saya empati/masukan, solusi, atau pendapat dari ustadz, karena saya menikah seperti dikejar deadline atau target. Itu yang jadi beban saya, dan mungkin dirasakan oleh teman-teman saya yang semukim. Mereka juga punya masalah sama.
Tolong kalau bisa balas pesan ini, karena saya mau  curhat ke siapa lagi? Jadi media ini saya pilih, tolong bantu ya Tadz.

dari I dan E

Jawaban:
Wa‘alaikumussalam warahmatullahi wa barakaatuh

Alhamdulillah. Akhi, dan ukhti yang saya hormati. Saya senang, bila kami di sini dipercaya untuk menerima, mendengarkan, menyimak dan mempelajari bersama curhat kalian bersama.

Itu menunjukkan, jalan bagi kita untuk saling tolong menolong dalam membina ketakwaan dan kebajikan, terbentang luas di hadapan kita bersama. Semoga, kita termasuk orang-orang yang ikhlas menjalaninya.

Akhi  yang saya hormati. Pertama kali, saya ingin mengingatkan kita bersama, bahwa Allah memiliki dua macam syariat. Pertama, syariat kitabiyyah yaitu ketentuan hukum yang Allah tetapkan dalam Kitab-Nya, atau melalui sunnah-sunnah Nabi-Nya. Syariat ini wajib dipelajari, dimengerti, diyakini, dan diamalkan sebatas kemampuan kita, demi kebahagiaan hidup kita di dunia dan di akhirat. Karena syariat inilah, Nabi diutus dan mengajarkannya pada umat, untuk digunakan sebagai ibadah kepada Allah ta’ala.

Syariat kedua, disebut syariat kauniyyah, atau ketentuan dan ketetapan Allah di alam semesta ini. Syariat ini juga harus dipelajari, dipahami, dan dijadikan sebagai pelajaran dalam hidup. Pengertian kita terhadap syariat kauniyyah atau yang lebih dikenal dengan istilah Sunnatullah atau hukum alam ini, membantu kita dalam melaksanakan syariat kitabiyyah atau hukum Allah.

Kalau syariat kitabiyyah dipelajari dari al Quran dan hadits-hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka syariat kauniyyah ini dipelajari dari alam.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa naar.’” (Ali Imran : 130-131)

Selain wajib menjalankan syariat, kita juga harus mempelajari sunnatullah/hukum alam.  Artinya, selain belajar tentang hukum-hukum fikih seputar dagang, seorang muslim yang ingin bergerak di bidang niaga juga harus belajar tentang tata cara dan pernak-pernik dunia bisnis dan jual beli.

Selain mempelajari tentang konsep makanan halal, apa saja yang dihalalkan dan diharamkan buat kita oleh Allah, kita juga harus belajar tentang makanan sehat, dengan gizi dan kandungan vitamin yang seimbang, yang bermanfaat terhadap tubuh kita.

Maaf, bila terkesan jauh dari jawaban pertanyaan Akhi, karena kita memang harus memulainya dari sini. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Muslim,
“Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian…”

Yakni, urusan dunia yang bukan terkait dengan hukum-hukum Allah di dalamnya, tetapi lebih pada pernak-pernik teknologi dan teori keduniaan. Nah, Allah menciptakan segala sesuatu dengan sebab. Ketika rumah Anda roboh tersambar petir, itu bukan semata-mata soal apakah rumah itu sering digunakan untuk beribadah kepada Allah atau tidak. Tapi, terkait juga hukum alam/sunnatullah bahwa petir itu mengincar medan listrik yang ada di rumah tersebut. Maka, selain banyak berdoa dan beribadah, rumah juga perlu dipasang penangkal petir!

Ketika Anda sakit perut, maka tidak cukup Anda beristighfar dan memohon ampun serta berdoa dan bertasbih, tapi juga berusaha berobat. Karena, orang kafir, orang fasik, orang beriman, semuanya bisa terkena penyakit perut dengan sebab-sebab yang sama.

Soal banyak orang yang menikah dengan cara yang baik (tanpa pacaran),  ekonomi mapan, lalu tidak atau sulit punya keturunan, itu bukanlah soal yang saling terkait. Itu tidak ada kaitannya sama sekali, baik ditinjau dari syariat kitabiyyah, maupun syariat kauniyyah/hukum alam.

Terbukti, banyak orang yang kaya yang banyak anak. Banyak orang menikah tanpa pacaran dan mudah memiliki keturunan, bahkan sangat banyak. Banyak orang   miskin tapi juga sulit atau bahkan tak punya keturunan sama sekali. Banyak juga orang yang menikah dengan lama berpacaran, juga akhirnya sulit atau bahkan tidak punya keturunan.

Anggapan seperti itu, termasuk bagian dari gkepanikanh, karena kurang berpulang kepada Allah dalam menyelesaikan segala urusan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, itu termasuk gejala paranoid.     Karena salah satu ciri dari gejala paranoid, atau semacam gangguan kejiwaan yang menyebabkan ketakutan berlebihan adalah: mengaitkan dua hal yang tidak terkait, untuk menciptakan bayangan buruk dalam diri sendiri.

Contohnya, karena setiap kali berpakaian bagus keluar rumah, seseorang sering terpeleset di muka pintu rumahnya, muncullah dugaan: jangan-jangan, saya ini gak boleh keluar rumah memakai baju bagus? Memangnya, siapa yang melarang? Apa pula kaitannya antara pakaian bagus dengan jatuh terpeleset? Itu, salah satu gejala awal paranoid.

Maaf, ini bukan bermaksud menjustifikasi bahwa Anda mengidap gejala penyakit kejiwaan tersebut. Tidak, sama sekali tidak. Tapi saya ingin menegaskan, jauhilah prasangka seperti itu. Karena itu dilarang dalam ajaran agama kita.

Islam melarang sabbud dahr (mencela masa) dan sejenisnya. Yakni mencaci maki hujan atau angin misalnya. Karena itu sama saja kita mencaci-maki yang menciptakan hujan dan angin, yaitu Rabb kita, Allah ta’ala.

Jadi, bila seseorang mengalami keguguran dan sejenisnya, segeralah belajar dari realitas itu. Kejadian itu pasti ada sebabnya. Pelajari penyebab terjadinya keguguran tersebut, agar tidak kembali terulang lagi. Itu ikhtiar kita sebagai manusia. Islam mengajarkan itu kepada kita.

Kita harus membangun kepasrahan diri kepada Allah, bahwa dengan menjalankan syariat-Nya, niscaya kita akan selamat di dunia dan di akhirat. Tapi, harus dicatat, bahwa Islam juga memerintahkan kita mempelajari syariat kauniyyah, Sunnatullah.

Meski demikian, dengan segala keterbatasan kita sebagai manusia, suatu saat kita bisa saja terkena musibah atau cobaan yang tak dapat ditolak. Sebagian kita mengalami bencana kehilangan anak, mandul, kematian orang yang dicintai, bangkrut usahanya, terkena bencana alam dahsyat, atau hal-hal lain.

Saat itu, selain tetap memerhatikan sunnatullah yang ada, mempelajari berbagai kesalahan kita yang menyebabkan kita terkena bencana itu, kita juga harus memohon ampun kepada Allah, memperbanyak ibadah kepadanya. Kemudian yakin, bahwa setiap musibah yang menimpa kita, bila kita hadapi dengan ketabahan dan tawakal, niscaya akan berfungsi menghapus dosa-dosa kita atau mengangkat derajat kita di hadapan Allah kelak, di Hari Kiamat.

Seperti kata pujangga Arab,
“Hanya dengan ujian,  seorang akan diberi predikat sebagai orang mulia atau orang yang hina.”

Allah berfirman,

وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“..dan bersikaplah tabah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqmaan : 17)

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghaabun : 11)

“Kami tidaklah mengutus seseorang nabi pun kepada suatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dan merendahkan diri.” (Al-A’raaf : 94)

Wallaahu a’lamu bish shawaab. Baarakallahu li wa lakuma. Wallaahul musta’aan.

Ust. Abu Umar Basyier

Tagged under: , , , , , , , ,

2 Comments

  1. Abu Nahlah Reply

    Bismillah,Assalamu’alaikum..afwan kenapa majalan Nikah Sakinah sekarang banyak memuat gambar gambar yang menurut ana masih menunjukkan gambar mahluk hidup(salah satunya pada halaman 80 Volume 11,No 3) ,menurut ana meskipun sudah tidak ada gambar mata/bibir,tapi masih menunjukkan kesan gambar mahluk hidup.bagaimana kalau para pelanggan majalah Nikah Sakinah ini belum faham tentang larangan menggambar mahluk yang bernyawa,kemudian para pelanggan majalah nikah sakinah ini mencorat coret, menggambar mata/bibir pada gambar tersebut sehingga lengkap menjadi sebuah gambar mahluk yang bernyawa??akan lebih baik untuk edisi mendatang tidak menampilkan gambar gambar yang menunjukkan mahluk hidup..syukron

  2. Ar Rayyan Reply

    assalamualaikum ustad,
    begini ust. ana punya kaka perempuan yg sdh menikah -+ 10th,sudah dikaruniai anak. tp sang suami pengangguran kadang usaha dagang tp blm pernah berhasil,dan sekarang meninggalkan ka2 ana(alasan cemburu).apakah boleh kalo sdh lebih dr 3bln menggugat cerai????
    wassalamualaikum wrwb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top