Nabi Musa Menikah


Abu dan Ummu, pada edisi ini kita akan melanjutkan kisah Nabi Musa ‘alaihissalam. Semoga kisah ini bisa membantu Abu dan Ummu memberikan kisah teladan pada anak-anak kita. Pada edisi lalu dikisahkan, Musa telah sampai di negeri Madyan. Di sana Musa bertemu dengan dua orang putri seorang yang sudah tua (syekh), dan dia menolongnya memberi minum ternak mereka. Kemudian sang syekh mengundang Musa ke rumahnya, dan tertarik kepada keshalihan dan kepribadian Musa. Maka sang syekh itu pun berkeinginan untuk menahan Musa agar mau lebih lama tinggal di rumahnya.

Syekh itu berkata, “Wahai Musa, saya ingin menikahkan dirimu dengan salah satu anak perempuanku ini dengan syarat engkau mau menjadi penolong dan pembantuku yang memperoleh upah (sebagai mahar) dengan menggembalakan kambing selama delapan tahun. Jika engkau mau menambahkannya 2 tahun lagi (sehingga menjadi 10 tahun), maka itu adalah suatu karunia yang agung. Saya memohon kepadamu, namun tidak mengharuskanmu (menjalani hal itu). Dan insya Allah saya akan menjadi orang yang menepati janji dan ikhlas bagimu.”

Di negeri Madyan, status Musa adalah sebagai pengungsi yang kesepian, jauh dari sanak saudara. Maka, setelah dia mendengar tawaran sang syekh, harapan untuk meraih kebahagiaan mengalir kembali dalam dirinya. Dari mulutnya meluncur kalimat kepada sang syekh, “Saya merasa bahagia dengan persahabatanmu, wahai Syekh yang mulia. Saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi penolongmu, dan merasa terhormat bisa membantumu.”

Akhirnya Musa pun menikah dengan salah seorang putri syekh…

Baca kelanjutannya di lembar “Ya Bunayya” majalah “Nikah Sakinah” edisi Agustus 2010

VN:F [1.6.2_892]
Rating: 2.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.2_892]
Rating: +1 (from 1 vote)

Post to Twitter Post to Delicious Post to Facebook


Berbagai Cara Mengajari Anak Puasa


Dalam jajaran 12 bulan setahun, Ramadhan adalah bulan paling penuh berkah, paling banyak menyimpan keutamaan, paling sarat dengan kandungan ibadah dan paling berlimpah keistimewaannya. Maka, bulan ini layak disebut dengan bulan yang penuh misteri dan keajaiban.

Kalau menilik sisi-sisi keutamaannya, sebenarnya klimaks berbagai keajaiban itu berpangkal dari dua sisi terpenting:
- Dari sisi keutamaan bulan Ramadhan itu sendiri.
- Dari sisi berbagai jenis ibadah yang terkandung di dalamnya.
- Di bulan Ramadhan inilah berkerumun beragam jenis ibadah, mulai dari puasa dan qiyamul lail atau shalat Tarawih, sebagai bagian terpentingnya, hingga ibadah-ibadah sunnah seperti I’tikaf, banyak bersedekah, memberi makan sesama orang yang berbuka puasa, dan, masih banyak lagi ibadah-ibadah lain, yang diisyaratkan secara khusus, atau masuk dalam cakupan ibadah-ibadah yang disunnahkan. (more…)

VN:F [1.6.2_892]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.2_892]
Rating: +1 (from 1 vote)

Post to Twitter Post to Delicious Post to Facebook


10 Hal sering diremehkan ketika Ramadhan


Pemandangan yang hampir pasti kita saksikan pada setiap bulan Ramadhan berupa sambutan kaum muslimin terhadapnya dengan berbagai kegiatan dan amalan, senantiasa mengiringi kegembiraan dan kebahagiaan mereka pada bulan mulia ini. Memang, bulan mulia yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan ini benar-benar patut untuk disyukuri.

Ya! Kita harus bersyukur kepada Allah atas anugerah-Nya kepada kita pada bulan mulia ini. Bersyukur kepada-Nya dengan berusaha memperbagus dan memperbanyak amal ibadah yang disyariatkan untuk dilakukan pada bulan ini.

Bulan Ramadhan senantiasa berulang pada setiap tahun. Kaum muslimin pun telah terbiasa dengan rutinitas amalan yang mereka lakukan padanya. Mulai dari amalan ibadah puasa, shalat Tarawih, memberi makan buka, membaca Al-Quran, dan lain sebagainya.

Namun sayang, rutinitas yang telah mereka “hafal” ini tidak sedikit darinya yang kurang bernilai ibadah. Atau, jikapun rutinitas itu bernilai ibadah, masih saja ada “kotoran-kotoran” yang merusak ketinggian nilai ibadah. Hal ini tidak jarang disebabkan karena banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan hal-hal penting yang harus diperhatikan pada bulan Ramadhan. (more…)

VN:F [1.6.2_892]
Rating: 9.8/10 (4 votes cast)
VN:F [1.6.2_892]
Rating: +7 (from 7 votes)

Post to Twitter Post to Delicious Post to Facebook


Menjaga Pahala Puasa


Alhamdulillah, kita masih diperkenankan bertemu bulan Ramadhan di tahun ini. Sungguh, ini merupakan kenikmatan yang patut kita syukuri, mengingat begitu banyak kesempatan yang bisa dimanfaatkan untuk menambah bekal kita menuju kehidupan yang kekal. Allah – ta’ala – berfirman,
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (al-Baqarah : 197)

Sungguh, bulan Ramadhan ini merupakan kesempatan emas untuk menempa dan melatih kita untuk menjadi diri yang lebih bertakwa, sebab memang itulah muara akhir ibadah puasa.

Namun, amat disayangkan. Kebanyakan dari umat muslimin hanya memandang puasa sebagai rutinitas tahunan belaka. Dalam pandangannya, puasa tak lebih dari sekadar menahan haus dan lapar, sehingga fokus mereka hanya pada masalah ini, tanpa perhatian terhadap berbagai macam pintu pahala yang ada di dalamnya dan berbagai hal yang bisa merusak puasa.

Oleh karena itu, betapa banyak orang yang berpuasa namun enggan mengekang lisan, penglihatan, dan hawa nafsunya. Padahal semestinya orang yang berpuasa berusaha membentengi ibadah puasa dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya, seperti ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba). Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda,
“Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan sia-sia, niscaya Allah tidak butuh kepada puasanya.”

Para ulama berbeda pendapat tentang makna hadits tersebut. Ada yang melihat bahwa ghibah dan namimah membatalkan pahala puasa, tidak tersisa sedikitpun! Namun ada juga yang berpendapat bahwa dua hal itu hanya mengurangi pahala puasa meski kadang hanya tersisa sedikit. Artinya, ibadah puasa yang dilakukannya tidak bermanfaat.

Semoga kita tidak termasuk dari orang-orang yang semacam itu. Untuk itu, marilah kita berdoa dan berusaha agar puasa tahun ini benar-benar mendidik kita menjadi pribadi yang lebih takwa! Amiin

VN:F [1.6.2_892]
Rating: 5.2/10 (5 votes cast)
VN:F [1.6.2_892]
Rating: +5 (from 5 votes)

Post to Twitter Post to Delicious Post to Facebook


Lebih Memilih Poligami


Assalamu’alaikum,

Ustadz, ada yang ingin  saya tanyakan. Ada seorang teman (wanita) yang masih lajang dan dikarunia Allah memiliki semangat beragama yang kuat (rajin menghadiri majelis taklim dan sejenisnya). Namun, dalam masalah jodoh, menurut saya dia punya prinsip yang sedikit unik. Tiap kali ditawari untuk taaruf (melakukan perkenalan sesuai syariat) dengan pria, dia selalu menjawab, daripada menikah dengan pria muslim biasa-biasa saja saya lebih suka dipoligami seorang ustadz. Maksud pria muslim biasa di sini, jika pria tersebut tidak punya kemampuan ilmu agama lebih (hafalan Al-Quran dan Al-Hadits, kemampuan bahasa Arab, dan sejenisnya), atau masih di bawah kemampuan dirinya. Menurut ustadz, apakah prinsip semacam itu sudah tepat?  Apakah poligami membuat pelakunya (dalam hal ini wanita yang dipoligami) punya keutamaan dan pahala melebihi pernikahan biasa? Syukran atas penjelasannya.
(more…)

VN:F [1.6.2_892]
Rating: 8.0/10 (9 votes cast)
VN:F [1.6.2_892]
Rating: +4 (from 4 votes)

Post to Twitter Post to Delicious Post to Facebook


Suamiku Membuat Hidupku Sengsara


Assalaamu ‘alaikum

Ustadz, afwan saya ada pertanyaan, bila berkenan mohon jawaban dimuat di majalah Sakinah agar yang bersangkutan juga membaca jawaban dari ustadz.

Pertanyaannya sebagai berikut:
Apa saran ustadz buat seorang istri yang dia merasa sulit atau tidak nyaman hidup berumah tangga dengan suaminya, dikarenakan suaminya itu sulit untuk diajak hidup bermasyarakat (bergaul dengan tetangga), kurang perhatian terhadap pendidikan anak-anaknya, kepribadiannya yang keras (gampang marah-marah), teriak-teriak terhadap anak istrinya/kurang sabar?
(more…)

VN:F [1.6.2_892]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.6.2_892]
Rating: +2 (from 4 votes)

Post to Twitter Post to Delicious Post to Facebook


Page 1 of 41234»
  • Live Chat

    Live Chat Live Help Software for Website
  • Arsip Artikel

  • Buku Tamu

    Latest on Fri, 03:06 pm

    kamajayadi: ingin konsultasi tapi gak tau caranya gimana [...]

    yulianti: saya di btam, tolong diberitahu cara berlangganan [...]

    nining: Saya kehilangan majalah "NIKAH", brand image majalah [...]

    Dinar Munggaran: Semoga bermanfaat bagi semua keluarga islam... Kami sangat [...]

    Umminya Hanif: Assalamu'alaykum.. Majalah nikah baguss,terus perbaiki isinya ya,

    » Klik di sini untuk isi buku tamu


Majalah Nikah Sakinah, Jl. Diponegoro 48, Sanggrahan, Rt 02/V Joho, Sukoharjo, Jawa Tengah 57513, Telp 0271-7003895