Fikih Ranjang Pilihan (3)

Sekali Lagi, Tentang Oral Seks

Dalam buku saya “Sutra Ungu”, saya telah menjelaskan panjang lebar tentang urgensi menjelaskan hukum oral seks serinci-rincinya, mengingat ini adalah budaya yang sudah dikenal banyak orang, muslim maupun non muslim. Tanpa dijelaskan, maka orang bisa terjerumus pada yang haram tanpa dia sadari, atau terjerumus dalam mengharamkan yang halal tanpa ia sadari1.

Terkait pembahasan hukumnya, secara ringkas sebagai berikut:

Pertama,  para ulama, seperti Syekh Nashiruddin Al-Albani dan beberapa ulama lain, terlihat berseberangan dengan sebagian ulama lain seperti Syekh Mukhtaar asy-Syanqiti dan Syekh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz dalam salah satu fatwanya yang terekam dalam sebuah kaset tentang oral seks. Tapi, saya melihat, bahwa sesungguhnya nyaris tak ada perbedaan pendapat pada fatwa mereka tersebut secara substansial. Justru kesalahpahaman terjadi pada sebagian orang yang mendengar atau membaca fatwa mereka.

Kedua, ada kesalahpahaman tentang definisi dan pengertian kongkrit (bukan secara bahasa saja) dari oral seks, sehingga memunculkan adanya perbedaan dalam fatwa. Maka saya jelaskan di sini –dengan mengharap keridhaan Allah–  hal yang terkait dengan pengertian oral seks itu sendiri.

Oral seks –secara umum–  adalah aktivitas pemuasan seks pasangan dengan menggunakan mulut sebagai medianya.  Bagian yang dicumbu pada diri pasangan dengan mulut tak hanya  kemaluan saja. Sebab, aktivitas seseorang dalam berhubungan intim yang menciumi berbagai bagian tubuh pasangannya, seperti tangan, kaki, paha, perut, hingga payudara, kesemuanya disebut oral seks. Sementara, oral seks khusus pada bagian kemaluan, memiliki istilah tersendiri.

1. Kunilingus – rangsangan suami pada bagian genital istri dengan mulut dan lidah.

2. Felasio – rangsangan istri pada kemaluan suami dengan mulut dan lidah.

Itu artinya, bila seseorang menyimpulkan sebuah keputusan hukum tentang oral seks, sementara hukumnya hanya berlaku bagi salah satu jenis oral seks, maka jelas itu adalah kesimpulan hukum yang nyasar dari realitas.  Artinya, meski fatwa itu benar, namun ia sesungguhnya bukan fatwa tentang oral seks. Hanya berlaku untuk  satu jenis oral seks. Di luar soal benar atau tidaknya fatwa tersebut, sudah lebih dahulu harus dikategorikan dalam fatwa-fatwa spesifik, atas jenis oral seks yang spesifik.

Demi kejelasan soal hukum, saya perlu menegaskan, bahwa semua pertanyaan kepada beberapa ulama yang melahirkan jawaban haramnya oral seks hanya memuat makna sebagai berikut: Apa hukum –maaf–  memasukan kemaluan ke dalam mulut istri –dan hal sejenis dari suami terhadap istrinya – di dalam berhubungan seks?

Bila pertanyaannya demikian, tentu saja jawabannya satu: Haram. Karena pada kemaluan pria nyaris dapat dipastikan melekat madzi atau minimal mani. Madzi sudah jelas kenajisannya dan itu hal mufakat di kalangan para ulama, sementara mani, meski tidak najis, namun  kotor dan Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam– selalu membersihkan sisa mani yang melekat di baju beliau, maka bagaimana mungkin dibiarkan menodai mulut? Apalagi disertai madzi yang najis dan haram?!
…dst

Lanjutkan membaca artikel ini dengan memiliki majalah Nikah Sakinah Vol.9 No.9 edisi Desember

Tagged under: , , , , ,

10 Comments

  1. Fulanah Reply

    Astaghfirullah…, Selama ini ana dan suami kdg melakukannya. Soalnya kaya’nya ana pernah baca ttg bolehnya, tapi ana lupa dimana.Astaghfirullahal-’azhim…

  2. IRWAN KOMARA Reply

    assalamualaikum
    saya mau tanya, klo pembahasan nya seperti itu lalu bagaimana fore play yang di ajarkan menurut syari’at? hal ini jadi membuat saya bingung.
    wassalamualaikum

  3. ary Reply

    ada ga cara bercumbu biar ga membosankan tapi ga diharamkan?
    dulu saya pernah mendengar ada seorang ulama mengatakan kalau seorang istri di ibaratkan sebuah ladang, jadi terserah kita dari mana kita datng dan menanmnya.
    benar ga?

    1. admin Reply

      Perkataan yang Anda maksud bersumber dari alQuran surat alBaqoroh:223 dan redaksinya adalah sebagai berikut:
      نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ
      “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.”
      Para ulama menjelaskan bahwa seorang suami boleh mendatangi istri dari arah atau posisi mana saja, baik depan atau belakang, dengan syarat tetap melakukannya pada “tempatnya”, tidak boleh pada (maaf) duburnya, karena hal itu diharamkan. Wallohu a’lam

  4. sofwanah Reply

    Assalamu’alaikum Wr Wb
    bolehkah suami meminum ASI istrinya? (ASI tersedot/terminum waktu suami mencumbu payudara/puting istri) trimakasih Wassalamu’alaikum WrWb

  5. dn Reply

    gmn hukumnya kl(maaf)pemasukn alt klmin suami k mulut istri cuma sbg variasi fore ply, yg nantinya tetap pd akhir senggamanya msk k farji istri?

    1. admin Reply

      Pertanyaan Anda sudah terjawab di akhir tulisan di atas. Hal itu diharamkan, karena pada alat pria pasti akan melekat madzi yang itu adalah najis. Silahkan dibaca ulang.

Leave a Reply to admin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top