Yang Penting dalam Bermusyawarah

Sudah dimaklumi bahwa kehidupan manusia penuh dengan berbagai permasalahan. Sama saja apakah dilingkup kenegaraan atau yang lebih kecil darinya seperti kemasyarakatan, bahkan dalam lingkup keluarga, berbagai permasalahan sangat rawan muncul dan tentu saja memerlukan solusi-solusi tepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Keterbatasan manusia dari segi kemampuan ilmiah maupun amaliah menyebabkan seorang manusia tidak mungkin hidup sendirian tanpa bantuan dan pertolongan orang lain. Demikian pula dalam menghadapi berbagai permasalahan yang timbul, seorang manusia yang memiliki tanggung jawab tidak mungkin menyelesaikan banyak permasalahan itu dengan sendirinya.

Allah yang maha hikmah (penuh bijaksana) dan maha mengetahui tentang hakikat manusia ini tentu tidak akan membiarkan manusia tanpa bimbingan dalam menghadapi permasalahan-permasalahan tersebut. Bahkan Allah menurunkan syariat-Nya sebagai solusi untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahan kehidupan manusia.

Kedudukan Musyawarah dalam Islam

Dan di antara syariat Allah dalam rangka menyelesaikan berbagai problematika yang ada adalah musyawarah antara sesama manusia. Bahkan Allah menjadikan musyawarah ini sebagai salah satu sifat-sifat orang yang beriman. Allah berfirman menyebutkan beberapa sifat orang beriman,

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

“Dan orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (asy-Syura: 38)

Allah menjadikan musyawarah sebagai salah satu sifat orang yang beriman karena seorang mukmin adalah orang yang tawadhu, tidak sombong sehingga dia tidak terhalangi oleh kesombongan untuk bermusyawarah dan meminta pendapat dari orang lain. Dan juga karena seorang mukmin hendaknya memiliki sifat hati-hati dalam segala tindak-tanduknya, yang hal ini berarti hendaknya dia tidak melangkah kepada suatu amalan kecuali dengan bashirah. Sedangkan musyawarah adalah salah satu jalan untuk mendapatkan bashirah dalam berbagai perkara yang samar dan tidak jelas. (Haqiqatusy Syura fil Islam, 31-32)

Bahkan Allah memerintahkan Nabi-Nya – shallallahu ‘alaihi wa sallam – untuk bermusyawarah dengan para sahabat, ketika Allah berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali ‘Imran: 159)

Jika demikian, bahwa musyawarah adalah bagian dari keimanan, maka tidaklah sempurna keimanan suatu kaum yang tidak mau bermusyawarah dengan benar.

Hakikat Musyawarah

Disebutkan oleh Syekh Muhammad Aman al-Jami v, bahwa hakikat musyawarah dalam Islam adalah, menyampaikan pendapat kepada orang yang diberi nasihat, baik karena diminta atau tidak, yang tidak bersifat mengharuskan untuk diterima. (Haqiqatusy Syura fil Islam, hlm. 17)

Artinya, dalam sebuah musyawarah, seorang yang akan mengemukakan pendapat hendaknya menyampaikan pendapat yang menurutnya paling baik, dengan tujuan untuk kebaikan urusan yang dimusyawarahkan. Dan ketika seseorang telah menyampaikan pendapat, bukan berarti pendapat yang dia sampaikan itu wajib diterima oleh orang yang mengambil keputusan, karena musyawarah tidak bersifat mengharuskan untuk diterima. Dengan demikian, dalam musyawarah menurut Islam, hukum yang dikeluarkan tidak mesti berupa hukum yang disepakati oleh keseluruhan atau banyak orang. Hanya saja setelah keputusan ditetapkan, semua orang hendaknya menerima dan menjalankan hasil musyawarah itu dengan baik.

Kaidah Penting dalam Bermusyawarah

Berikut ini adalah beberapa hal penting yang hendaknya diperhatikan dalam menjalankan syariat musyawarah.

Pertama, musyawarah adalah hak bagi penanggung jawab dan bawahan. Maksudnya, dalam setiap urusan pasti ada penanggung jawabnya, seperti dalam keluarga misalnya, penanggung jawab utama adalah kepala keluarga, yaitu suami. Maka musyawarah dalam Islam menjadi hak yang sama bagi orang yang bertanggung jawab ataupun orang yang dipimpin. Oleh karena itu, sebagaimana kepala keluarga misalnya berhak menyampaikan pendapat dalam urusan rumah tangga, maka demikian pula dengan anggota keluarganya berhak menyampaikan pendapat, meski mungkin tidak dimintai pendapatnya. Dan tentu saja dalam menyampaikan pendapat perlu memperhatikan adab-adab dalam agama Islam yang berkaitan dengannya.

Kedua, menyampaikan permasalahan yang dihadapi untuk dimusyawarahkan adalah kewajiban penanggung jawab. Sebagaimana Allah memerintahkan Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – untuk mengajak para sahabat bermusyawarah, dengan firman-Nya,

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ

“dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali ‘Imran: 159)

yang ini menunjukkan bahwa pemimpin atau penanggung jawab wajib menyampaikan permasalahan yang dihadapi untuk dimusyawarahkan.

Ketiga, hendaknya musyawarah ini dibangun di atas keikhlasan kepada Allah. Hal ini karena musyawarah dalam Islam termasuk ibadah, sehingga harus dilakukan dengan ikhlas. Dan termasuk bentuk keikhlasan, tidak menyampaikan pendapat yang didasari oleh hawa nafsu, kepentingan pribadi, ta’ashub kepada suatu hal tertentu dan lain sebagainya. Akan tetapi menyampaikan pendapat di dasari dengan ilmu dan dengan tujuan untuk mencapai kebaikan dalam urusan yang dimusyawarahkan.

Keempat, tujuan dari musyawarah adalah untuk mencari kebenaran, kebaikan dan ketakwaan dalam melaksanakan keimanan secara menyeluruh, atau paling tidak yang mendekati kebenaran. Karena mengikuti kebenaran atau yang mendekatinya, adalah kewajiban setiap mukmin.

Kelima, perselisihan dalam permusyawarahan adalah sesuatu yang wajar, karena itu adalah akibat dari perbedaan kemampuan pada setiap manusia dalam hal ilmu dan pemahaman. Akan tetapi yang penting, jika telah nampak jelas dalil dan argumentasi yang paling kuat pada salah satu pendapat yang ada bahwa itu lebih mendekati kebenaran, maka itulah pendapat yang wajib dipilih oleh penanggung jawab baik diusung oleh mayoritas peserta musyawarah maupun minoritas mereka. Karena yang menjadi dasar pemilihan pendapat dalam musyawarah bukan jumlah pendapat, akan tetapi kekuatan pendapat itu dengan dalil dan argumentasinya.

Keenam, musyawarah adalah pembelajaran terhadap suatu masalah untuk memunculkan sebuah solusi untuk kebaikan bersama. Oleh karena itu musyawarah adalah usaha keras, dan amanah yang dipikul oleh masing-masing orang yang bermusyawarah. Oleh karena itu hendaknya musyawarah ini dilandasi dengan iman, ilmu dan ketakwaan.

Ketujuh, perlu kita pahami bahwa tidak semua masalah harus dimusyawarahkan. Karena ada berbagai permasalahan yang sudah ada ketetapan syariat untuknya melalui dalil-dalil yang tegas dan jelas. Maka dalam permasalahan seperti ini tidak berlaku adanya musyawarah. Akan tetapi yang menjadi ruang lingkup musyawarah adalah permasalahan-permasalahan yang tidak ditetapkan oleh syariat. Dan dalam memusyawarahkan permasalahan yang tidak ditetapkan oleh dalil secara tegas pun harus tetap berlandaskan dengan prinsip-prinsip dasar Islam dan kaidah-kaidah Islam yang tetap dan tidak mungkin berubah.

Kedelapan, musyawarah hanyalah sebagai salah satu jalan untuk menggapai pada keputusan atau solusi yang tepat. Akan tetapi kita tentu yakin bahwa yang bisa mengarahkan kita kepada kebenaran hanyalah Allah. Karena Allah lah satu-satunya dzat yang mampu menunjukkan seorang hamba kepada kebenaran dengan taufik-Nya. Oleh karena itu, selain menempuh jalur musyawarah, dalam menghadapi berbagai persoalan dan permasalahan hendaknya kita terus memohon bimbingan dan petunjuk kepada Allah, berdoa, meminta, memohon dan beristikharah kepada Allah. Dalam hal ini – dan juga dalam hal lain – kita mendapatkan generasi Islam pertama sebagai teladan, terutama Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -. Di mana mereka selain melaksanakan perintah Allah untuk bermusyawarah, mereka juga terus berhubungan dengan Allah dan menyerahkan urusan mereka kepada Allah.

Inilah beberapa hal yang perlu kita ketahui dalam bermusyawarah, wallahul musta’an. (***)

Sumber: Rubrik Lentera, Majalah Sakinah Vol. 11 No. 09

Tagged under: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Back to top